KEK MRO Batam Buka Peluang Karir Anak Bangsa, Ini Syaratnya

KEK MRO di Bandara Hang Nadim, Batam.

Batam - Setelah diresmikan menjadi Kawasan Ekonomi khusus, PT. Batam Aero Technic terus melakukan pengembangan gedung dan fasilitas Industri Maintenance Repair Overhaul (MRO) di Bandara Hang Nadim.

Di tengah membangun industri MRO di lahan seluas 33 hektare tersebut. PT. Batam Aero Technic terus menjaring putra bangsa yang memiliki kompetensi dibidang maintenance peasawat udara untuk bergabung. 

Manager Costumer Relation, Suci Perwira Negara menagatakan, KEK MRO Batam akan menyerap 9.976 tenaga kerja hingga 2025.

Saat ini salah satu perguruan tinggi di Batam yang memiliki lulusan dibidang teknik pesawat udara telah bergabung untuk mengembangkan industri MRO pertama di Batam tersebut. 
 
“Perguruan tinggi di Batam yang memiliki jurusan di bidang teknik pesawat udara dan telah bersertifkat hanya Politeknik Batam saja,” kata Suci.  

Untuk memenuhi kebutuhan SDM di KEK MRO, PT . Batam Aero Technic sebagai pengelola KEK MRO di Bandara Hang Nadim juga bekerjasama dengan seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki jurusan di bidang terkait.

“Kalau di Batam mungkin untuk SMK Penerbangan banyak tapi untuk pendidikan lanjutnya sedikit. Sedangkan tenaga kerja yang dibutuhkan sesuai dengan kualifikasi banyak,” ujar Suci. 

Seluruh tenaga kerja yang bergabung di Industri MRO ini diisi oleh putra bangsa yang siap bersaing di industri penerbangan internasional. 

Saat ini KEK MRO Batam baru melayani satu maskapai Lion Air Group, karena terbatasnya kapasitas hanggar. 

Namun ketika seluruh hangar dan fasilitasnya selesai dibangun, Industri ini juga siap menampung maskapai dari berbagai negara. Malaysia, Vietnam, dan Myanmar merupakan negaradi Asia Tenggara yang sudah masuk dalam daftar antrean klien luar negeri. 

Adapun sayarat yang harus dipenuhi putra bangsa untuk bergabung di industri MRO di Batam tersebut, diantaranya, untuk Teknik pesawat udara dimana sudah bersertifikat AMTO.

Kemudian, memiliki Basic license yang dikeluarkan Dirjen Perhubungan udara yang dibantu oleh teknisi pendidikan. Berpendidikan minimal diploma 3 pesawat  udara serta memiliki sertifikasi general license perjurusan. 

“Terkait bidang pendidikan di sini ada beberapa profesi diantaranya technitian, planning, dan engineering. Ini yang kami butuhkan untuk bergabung dalam industri ini. Dan butuh pendidikan hingga 5 tahun untuk mendapatkan sertifikasi itu,” terang Suci.

(ADV)