Kisah Relawan Batam Jumpai Keluarga yang Jatuh Miskin

Kisah Relawan Batam Jumpai Keluarga yang Jatuh Miskin

Ilustrasi.

Batam - Berbagai kisah dijumpai para relawan sosial di Kota Batam berkeliling menyalurkan bantuan. Mereka menjumpai sejumlah warga yang berjuang hidup dalam ketakberdayaan ekonomi.

Dalam kegiatan berkeliling menyalurkan bantuan sosial, Ani Lestari, seorang relawan kaget menemukan kisah ironis seorang ibu di Kompleks Buana Impian II Dream, Tembesi, Kota Batam.

Adalah Puji Rahayu, ibu dari tiga anak yang terpaksa menjual mainan anaknya untuk memenuhi biaya hidup dan berobat.

Ani dan dua temannya Agus dan Didi, menemukan kisah Puji setelah mendapat informasi dari salah satu rekannya.

Setelah mendatangi rumah Puji, mereka kaget melihat kondisi rumah keluarga itu yang tanpa listrik.

"Saat kami berikan bantuan, terlihat sekali mata Bu Puji berkaca-kaca seperti menahan tangis. Katanya bantuan kami adalah bantuan sosial perdana yang diterimanya. Dari pemerintah belum tersentuh," kata Ani saat menceritakan pertemuannya kepada Batamnews, Selasa (5/5/2020).

Dari keterangannya, Puji menceritakan kondisi ekonomi keluarganya menurun sejak Ia menderita asam urat tahun lalu.

Dia pun terus melakukan pengobatan dengan menggunakan BPJS.  Sebelumnya Puji sempat bekerja di salah satu pabrik di area Industri Mukakuning.

Ia terpaksa berhenti bekerja karena kakinya yang sering sakit.  Untuk biaya sehari-hari, Puji mengandalkan gaji suaminya sebagai pemotong rumput yang pas-pasan.

Mereka pun kian kesulitan. Salah satunya untuk membayar tagihan listrik, dan biaya sekolah anak.

Kini keluarga Puji harus merasakan hidup tanpa listrik selama berbulan-bulan karena tidak mampu membayar.

Para relawan pun patungan melakukan donasi untuk biaya listri Puji Lestari sementara waktu.

"Untuk Listrik kami sudah sepakat bertiga akan patungan untuk menghidupkan kembali listrik di rumahnya," ujar Ani.

Selama setahun terakhir Puji mengaku belum mendapat bantuan dari pemerintah, termasuk bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) yang sudah berjalan.  


Ketiga Anak Putus Sekolah

 

Tidak adanya biaya membuat Puji juga turut merelakan pendidikan ketiga anaknya kandas.  Dua anak terkecil sudah berhenti sekolah karena tidak ada uang untuk membayar biaya pendidikan.

Begitupun anak pertamanya yang duduk di Bangku SMA Negeri 18 sebelumnya, harus berhenti sekolah Februari lalu karena tidak mampu membayar SPP.

"Saat kami melihat buku SPP nya, iuran itu sudah tidak dibayar sejak Oktober 2019. Saat menceritakan ini bu Puji pun tidak tahan lagi menahan tangis, dia beberapa kali mengusap matanya," ucap Ani.

(das)