Fakta-fakta Terbaru Ambruknya Dinding Pembatas Apartemen Pollux dan Banjir Bah

Fakta-fakta Terbaru Ambruknya Dinding Pembatas Apartemen Pollux dan Banjir Bah

Kendaraan warga di Perumahan Citra Batam terjebak lumpur dan reruntuhan dinding pembatas apartemen Pollux yang ambruk. Rumah warga diterjang air bah imbas kejadian. (Foto: Yude/Batamnews)

Batam - Dinding pembatas kawasan apartemen Pollux Habibie dengan pemukiman warga di Perumahan Citra Batam ambruk akibat hujan deras yang melanda Kota Batam, Rabu (29/1/2020) sore. Ambruknya dinding pembatas itu diiringi kucuran air bah yang menerjang rumah warga yang berhadapan dengan dinding tersebut.

Sontak warga langsung dihadapkan terjangan aliran air yang tak mampu ditahan oleh dinding tersebut. Warga pun was-was dan khawatir apakah hal serupa bisa terjadi dalam pengerjaan proyek kawasan terpadu Meisterstadt tersebut. Kawasan yang akan menjadi lokasi elit dan modern di Kota Batam ini sedang membangun proyek apartemen, dan fasilitas lainnya dengan gedung-gedung pencakar langit.

Berikut fakta yang dihimpun Batamnews di lapangan

 

Sebelum Dinding Roboh, Warga Sebut Banjir Kiriman Sering Terjadi

Sebelum dinding beton pembatas kawasan Pollux dengan perumahan Citra Batam roboh, warga, menyebut banjir kiriman sering terjadi selama ini

Edy, pemilik rumah di Blok D 154 mengatakan, bahkan banjir terus menimpa warga perumahan Citra Batam sempat dikeluhkan warga kepada pejabat setempat.

"Sebulan yang lalu saya sempat mengeluhkan di grup RT, saya tanyakan kapan mereka bakal menanggapi hal ini. Akhirnya harus menunggu musibah dulu kan," ujarnya, Rabu (29/1/2020)

Hal tersebut juga disampaikan Rini salah seorang warga yang memiliki rumah di deretan belakangnya.  Rini menyebut, warga sudah lelah mengajukan keluhan soal banjir yang selama ini terjadi di kawasan perumahan itu.  Hal ini disinyalir menjadi bagian dari dampak proyek gedung pencakar langit tersebut

"Saya sampai berdoa kepada tuhan biar ditunjukkan ke orang-orang (manajemen Pollux) ini, dan akhirnya terjadi. Kalau sudah begini siapa yang bertanggung jawab?" sesalnya.

 

Warga Pertanyakan Penghitungan AMDAL dari Pembangunan Pollux Habibie

Warga mempertanyakan perhitungan terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal)  pembangunan kawasan Mega Proyek Pollux Habibie.

Edi, pemilik rumah Blok D 154  RT 02/01 Perumahan Citra Batam mengatakan proyek dengan bangunan yang berstandar Internasional tersebut seharusnya sudah memperhitungkan hal tersebut dengan matang.

"Karena saya kebetulan orang teknik, dari awal pembangunan minimal mereka juga tahu daya tahannya berapa lama, apalagi proyek ini di klaim tahan 70 tahun," katanya saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu (29/2/2020).

Namun baru dua tahun berdiri, sisi bangunan sudah mengalami kerusakan yang berakibat fatal pada puluhan rumah warga sekitar.

Jhoni warga lainnya juga menyebutkan, sejak awal pembangunan warga tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan pembangunan proyek.

"Dari awal kami tidak dilibatkan. Mereka hanya mengundang RT dan RW dan daftar hadir dijadikan dasar sebagai persetujuan, tapi persetujuan warga sebenarnya tidak ada," ungkapnya.


Ketua RT:  Komunikasi Antar Warga dan Manajemen Pollux Tidak Nyambung

Pembangunan proyek Pollux Habibie sudah menerima keluhan dari warga sejak 2015.  

Ketua RT 02/01, Yogi Subroto Hadi Hartono membenarkan hal tersebut. Pasalnya, berjalannya proyek ini memberikan dampak buruk bagi pemukiman sekitar.

Bahkan keluhan tersebut sempat disampaikan ke Polsek Batam Kota hingga hearing di DPRD Kota Batam.

"Pelaporan dari warga ke aparat juga sempat ada. Baik dari warga kami, maupun perumahan di sebelah (Livia). Harusnya dari situ jadi perhatian mereka," katanya saat ditemui, Rabu (29/1/2020).

Untuk komunikasi dengan pihak Pollux, juga diakui Yogi terus berlangsung melalui konsultan Pollux, namun tidak ada titik temu.

"Komunikasi masih ada antara mereka. Ada tiga bulan lalu kami terakhir komunikasi sekitar November. Sepertinya sama, kita akui kurang nyambung karena apa yang kita sampaikan responnya kurang," ungkapnya.

Hingga musibah robohnya dinding pembatas terjadi, dikatakannya hal tersebut seharusnya bisa dicegah dengan perhitungan yang tepat dari kontraktor Pollux.

"Harapan kita, dari Pollux, sesegera mungkin untuk mengangkat puing-puing tembok yang roboh hingga ke jalan. Yang ada agar warga bisa segera masuk ke rumah," pintanya.

Saat ini ia belum bisa menyebutkan total jumlah rumah yang terdampak. "Warga yang berada di RT 02 saja ada sekitar 30 KK," sebutnya.


Pengamat Hukum Minta Konstruksi Dinding Diaudit

Pengamat hukum di Batam, Bambang Yulianto menilai ada dugaan kesalahan yang dilakukan manajemen Apartemen Pollux Habibie. Menurutnya perlu ditelusuri apa yang salah dalam pembangunan dinding pembatas dengan rumah warga Citra Batam, sehingga menyebabkan ambruk.

"Harusnya diperiksa untuk audit manajemen kontruksi agar nantinya bisa diketemukan keselahannya di mana," ujar dia

Kapolsek Batam AKP, Restia Octane Guchi mengatakan pihaknya sudah menurunkan tim ke lokasi melakukan penyelidikan. "Anggota sudah saya minta turun ke lokasi," singkatnya.


Pollux Siap Bertanggungjawab

Manajemen Pollux menegaskan akan bertangungjawab atas kejadian tersebut

Hal ini disampaikan General Manager Sales And Marketing Pollux Habibie, Richie Laseduw, Rabu (29/2/2020).

"Berdasarkan komitmen Pollux terhadap warga, sehingga Pollux langsung bertanggung jawab, malam ini langsung dibersihkan puing puing itu," kata Richi.

Dari pantauan Batamnews, Pollux menurunkan beberapa anggota tenaga pembersih, tiga unit dum truck, dan dua unit backhoe untuk membersihkan timbunan tanah dan sisa-sisa puing bangunan.

Untuk dinding pembatas, Richie mengaku akan langsung menunjuk kontraktornya untuk mulai dikerjakan esok hari.

"Yang penting dibersihkan dulu. Karena akses wargakan susah juga. Kemudian akan didata warga yang terdampak termasuk kerugian materilnya," ujarnya.

Terkait robohnya dinding pembatas Richie menyebut ini adalah musibah, karena baru terjadi pertama kali.

"Kalau pollux kan disini developer yang menunjuk kontraktor. Dinding pembatas ini kan juga sifatnya hanya seperti pagar saja biar orang tidak sembarang akses mau masuk lewat lokasi proyek," ucapnya.

(das/jim)