7 Fakta soal Ikan Raksasa Arapaima di Hutan Wisata Mata Kucing

7 Fakta soal Ikan Raksasa Arapaima di Hutan Wisata Mata Kucing

Arapaima Gigas di Hutan Wisata Mata Kucing yang ditemukan mati (Foto: Netty)

Ikan Arapaima gigas di hutan wisata Mata Kucing, Sekupang, Batam, Kepri, baru saja ditemukan mati. Kematian ikan berukuran lebih dari 2 meter itu disambut duka cita pengelola hutan wisata Netty Herawaty.

Ia pun memperlakukan ikan Arapaima gigas itu bak manusia. Dikubur dan tak lupa dikafani. Penguburan di sekitar hutan wisata tersebut.

Maklum saja, bagi Buk Netty, ikan itu sudah seperti keluarga sendiri. Selama 16 tahun ia rawat. Sudah seperti anak sendiri.

Lantas seperti apa jenis ikan Arapaima gigas ini? Begini penjelasan dari para peneliti iktiologi atau biologi ikan dari Pusat Penelitian Biologi LIPI seperti dikutip dari kumparan.com:

1. Pemakan daging

Arapaima gigas merupakan ikan yang cukup berbahaya, terutama untuk ikan asli Indonesia karena ikan tersebut merupakan karnivora atau predator alias hewan pemakan daging yang biasa memangsa hewan lain. Mereka biasa memakan ikan jenis lain, krustasea, katak, burung yang dijumpai di sekitar permukaan perairan.

2. Berasal dari Sungai Amazon

Ikan Arapaima gigas berasal dari daerah aliran sungai (DAS) Amazon, Brasil. Selain itu, ikan ini juga dijumpai di negara-negara lain sepanjang Sungai Amazon lainnya, yaitu Kolombia, Ekuador, Guyana, dan Peru.

3. Ditemukan sejak 1822

Arapaima gigas merupakan ikan air tawar endemik Sungai Amazon yang ditemukan dan dideskripsikan oleh seorang dokter dan naturalis dari Swiss, Prof. Dr. Heinrich Rudolf Schinz. Penemuan ikan ini telah dipublikasikan sejak tahun 1822.

4. Dinamai pirarucu

Oleh masyarakat lokal di sepanjang Sungai Amazon, Arapaima gigas dinamai sebagai pirarucu yang artinya ikan merah. Penamaan ini berdasarkan pancaran kemerahan dari sisik-sisik ke arah ekor dan juga warna kemerahan-oranye dari filet dagingnya. 

5. Panjangnya bisa mencapai 4 meter

Ukuran Arapaima gigas bisa mencapai panjang 3-4 meter dengan berat ratusan kilogram. Fakta ini tentunya membuat ikan tersebut berpotensi menjadi kompetitor untuk ikan asli di Indonesia dalam mendapat makanan maupun ruang hidup.

6. Dilarang masuk ke Indonesia

Peneliti iktiologi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr. Renny Kurnia Hadiaty, mengatakan Arapaima gigas adalah ikan berbahaya bagi ekosistem lainnya.

7. Disarankan untuk ditangkap dan dimakan

Peneliti iktiologi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI lainnya, Dr. Haryono menyarankan agar ikan Arapaima gigas segera ditangkap dari perairan Indonesia. “(Sebaiknya) Ikan (Arapaima gigas) segera dikeluarkan dari perairan (Indonesia). Dagingnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar karena di negara asalnya pun daging ikan ini bisa dikonsumsi,” imbaunya.

 

(snw)