https://www.batamnews.co.id

Kegelisahan Bobby Jayanto Melihat Kota Tanjungpinang

Bobby Jayanto (Foto: Batamnews)

Bobby Jayanto memiliki kegelisahan tersendiri melihat perkembangan Kota Tanjungpinang yang kini menjadi Ibukota Provinsi Kepulauan Riau  sejak puluhan tahun lalu, hingga saat ini.

Selama hidup, 67 tahun, pengusaha yang juga seorang politisi ini dapat merekam dengan jelas, bagaimana perkembangan Kota Tanjungpinang yang tak begitu kentara, dari waktu ke waktu. 

"Sekarang usia saya 67 tahun, sejak kecil saya merasakan masih banyak fundamental yang belum terselesaikan," ujar Ketua Partai Nasdem Kota Tanjungpinang itu kepada Batamnews di Tanjungpinang, Sabtu (14/12/2019).

Anggota DPRD Provinsi Kepri ini melihat persoalan dasar tersebut diantaranya adalah soal ketersediaan air bersih, keterbatasan energi listrik, serta penataan kota, dan konsep pariwisata yang masih minim.

"Saya saja merasakan dampaknya, empat hari enggak ada air, orang ada yang sampai 11 hari," ujar Bobby.

Permasalah ini seperti tak ada solusi. Perusahaan air Kepri Tirta Janggi tak berdaya.

"Direkturnya tak punya program mengatasi itu," ucapnya. Mestinya hal-hal dasar tersebut sudah sejak lama diselesaikan. Termasuk soal listrik.

"Ada 7000 waiting list calon pelanggan air bersih," katanya. Bobby menuturkan, permasalahan ini masih terus berlangsung.

Investor Enggan Lirik

Bobby Jayanto mengakui, dengan segala keterbatasan infrastruktur penting tersebut, Kota Tanjungpinang enggan dilirik investor. Sangat sulit meyakinkan investor atau pengusaha untuk berinvestasi di Tanjungpinang.

"Bagaimana mau membawa investor, kalau air dan listriknya masih sulit," ucap Ketua Kadin Kota Tanjungpinang itu.

Selain itu, potensi pariwisata juga tak tergarap dengan baik. Misalnya saja, soal pasar Imlek di Kota Lama Jalan Merdeka Tanjungpinang. 

Lokasi ini berpotensi menarik wisatawan, tapi kurang terkonsep dengan baik.

"Tidak ada penataan yang signifikan," ujarnya. Padahal dari sekitar belasan ribu wisatawan yang datang setiap bulan, diantaranya bisa dimanfaatkan.

Menurut Bobby perlu kesungguhan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

"Kenapa tidak ini dulu diselesaikan, nanti lah proyek-proyek besar itu, air dan listrik saja belum beres, malu kita," ujar Bobby. 

Bahkan Bobby kian hari kian pesimis dengan kondisi saat ini. Apalagi ketika mengkritisi itu, ia merasa selalu ada yang menarik-narik ke ranah lain.

"Memang kalau mengubah itu semua itu tergantung dari siapa pemimpinnya, keberaniannya, komitmen, dan tidak plin plan," ucap Bobby.

Bobby berharap ada pemimpin yang berani membuat sebuah terobosan yang dapat dikenang masyarakat sepanjang masa.

 

(snw)