Ratusan Pencari Suaka di Tanjungpinang Kembali Unjuk Rasa

Ratusan Pencari Suaka di Tanjungpinang Kembali Unjuk Rasa

Para pencari suaka (Foto:Asiik3)

Tanjungpinang - Ratusan pencari suaka yang tinggal di Hotel Badra, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau kembali demonstrasi di Kantor Organisasi Internasional untuk Migrasi (International Organization for Migration/IOM) dan Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR)  Kota Tanjungpinang, Senin (19/8/2019).

"Ini aksi yang keenam kalinya," kata salah seorang pencari suaka, Albozier Pasha.

Ia menegaskan aksi ini ditujukan kepada UNHCR, bukan kepada IOM. Namun Kantor IOM Tanjungpinang  terkena dampaknya lantaran satu kantor dengan UNHCR.

Pencari suaka juga ingin menegaskan bahwa aksi ini tidak bermaksud mengganggu warga maupun pihak lainnya di Indonesia. 

"Kami tidak ada masalah dengan masyarakat dan Pemerintah Indonesia. Kami sangat bersyukur mendapat perlakuan yang baik dari polisi, pemerintah dan masyarakat Indonesia," katanya.

Pada pencari suaka terpaksa mengurangi makan setiap hari agar dapat menyampaikan aspirasi melalui aksi unjuk rasa 

Aksi ini bukan keinginan pribadi, melainkan seluruh pencari suaka yang menuntut keadilan, kebebasan dan mendapatkan kehidupan yang layak. Mereka menuntut agar mendapat kepastian tinggal di negara ketiga, Australia, Kanada dan Amerika.

Aksi ini, menurut dia menguras tenaga. Bahkan kalau dipaksakan dilaksanakan setiap hari, mereka tidak mungkin dapat makan siang dan malam.

"Uang yang diberikan IOM kepada kami Rp1,2 juta," ucapnya.

Untuk menggelar aksi ini, kata dia pencari suaka harus mengurangi makan dari dua kali menjadi satu kali. Sebab dalam setiap aksi, mereka membutuhkan dana sekitar Rp 3,7 juta untuk membayar angkot.

"Hanya angkot satu-satunya transportasi kami," katanya.

Albozier, pencari suaka asal Sudan itu mengatakan seluruh pencari suaka sepakat mengumpulkan dana untuk memperjuangkan hak-haknya melalui aksi unjuk rasa. Namun dalam setiap aksi tidak semua pencari suaka dapat hadir karena kekurangan dana.

"Aksi ini lebih efektif setelah kami menggelar aksi serupa di Hotel Badra, tempat tinggal kami. Kami juga sudah berulang kali melayangkan surat ke PBB, tetapi tidak direspons," ujarnya.

(*)