Potret Kerusakan Pulau Batam dari Tahun 2000 hingga Tahun 2019

Tangkapan Google Earth Pulau Batam dari setelit di tahun 2000 (Foto: Batamnews)

Batam - Kerusakan hutan lindung berikut lingkungan di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, berlangsung dari tahun ke tahun. Lingkungan di Batam diduga sudah rusak parah. 

Batamnews memotret kerusakan itu dari tahun ke tahun dengan tools yang disediakan Google Earth Pro Tool. Dengan tools tersebut, kita bisa memanggil data hingga tahun yang sudah berlalu. Kami memutuskan memulai dari tahun 2000. 

Hasilnya cukup mengejutkan. Dari tahun ke tahun terjadi perubahan bentuk Pulau Batam. Bahkan hutannya pun nyaris habis.

Pulau Batam tahun 2006 (Foto: Batamnews)

Dari yang sebelumnya hijau, kini hanya terlihat bagian-bagian kuning bekas 'dikuliti'. 

Di sana tampak beberapa titik di Pulau Batam sudah rusak akibat berbagai aktivitas mulai dari perkebunan, properti, tambang liar, hingga pencaplokan hutan area tangkapan air.

Dengan mata kepala, Google Maps, hingga pantauan udara, sangat terlihat jelas kontur lahan di Batam sudah compang camping. Hampir di setiap sudut.

Pulau Batam tahun 2011 (Foto: Batamnews)

Kondisi ini sangat memprihatinkan. Apalagi sejumlah titik hutan dan lahan dipastikan telah dirusak dan diperjualbelikan secara ilegal.

Hasil penampakan bantuan Google Earth Pro Tool,  Batamnews.co.id menemukan kondisi  pulau Batam semakin rusak. 

Perusakan jelas terdata setelah tahun 2010 ke atas. Terutama di bagian kawasan daerah Batu Besar, Nongsa. Di sana memang berlangsung aktivitas tambang pasir ilegal sejak lama.

Pulau Batam di tahun 2012 (Foto: Batamnews)

Padahal pematangan lahan tersebut tidak dibenarkan lagi BP Batam sejak 2016. Konsep properti di Batam sudah bergeser kepada bangunan vertikal.

Berikut foto penampakan hancurnya pulau Batam dari tahun ke tahun 2000 hingga sekarang. 

Pulau Batam saat ini tahun 2019 (Foto: Batamnews)

(snw)