Anak Mantan Jurnalis di Kepri Lulus sebagai Taruni Akpol

Peny Sekar November bersama anaknya Naomi serta suami (Foto: Ist/Batamnews)

Batam - Wajah semringah Peny Sekar November tak bisa ia sembunyikan. Anaknya Naomi Shofura baru saja lulus sebagai taruni Akademi Kepolisian (Akpol) di Semarang.

Naomi akan mengikuti pendidikan di Akpol selama kurang lebih empat tahun. Ia juga menjadi satu-satunya perempuan yang lolos dalam seleksi di Provinsi Kepulauan Riau.

Orangtua Naomi, Peny ternyata adalah seorang mantan wartawan. Ia pernah bekerja di sebuah media terkemuka di Kepulauan Riau selama belasan tahun.

Setelah bergelut sebagai seorang wartawan, Peny pun sekarang membuka usaha sendiri.

Sedangkan ayahnya, Haryoto, bekerja di Kawasan Industri Panbil, Mukakuning, Batam.

Naomi lulus bersama enam orang lainnya, Arie Praramadhana, Ariel Mogens Ginting, Farhan Fardi Akbar, Kevin Ardiansyah, Muhammad Jogi, Rino Setiawan dan Naomi Shofura.

Peny bercerita panjang lebar bagaimana Naomi bekerja keras agar lulus dalam setiap tahapan seleksi. Mulai dari akademis hingga jasmani.

Ia sempat gagal pada tahun sebelumnya, namun kali ini keberuntungan berpihak kepadanya. Kuncinya tak lain adalah kerja keras.

"Dia sempat kecewa pada tes di tahun lalu," ujar Peny Sekar November kepada Batamnews di kediamannya di Batam Centre. 

Peny mengatakan, kegagalan pertama menjadi pemicu untuk lolos. Berbagai persiapan matang mulai direncanakan. Mulai dari latihan fisik hingga akademik. Bahkan Naomi dikirim ke Kampung Inggris di Kediri, Jatim, untuk memperlancar kemampuan Bahasa Inggrisnya.

“Tahun lalu persiapan cuma dua bulan. Saingannya juga berat, seorang atlet,” kata Ibunda Naomi, Peny Sekar November, Jumat (2/8/2019).

Kedua orangtua Naomi juga mendukung sepenuhnya cita-cita anaknya. Mereka dengan sabar membimbing segala keperluan Naomi. 

Baca juga: Pernah Gagal Tes Akpol, Begini Kunci Sukses Naomi Shofura

Usaha pun akhirnya tak mengkhianati hasil. Naomi lulus dengan nilai nomor dua terbaik. Nilai Bahasa Inggrisnya mendapat nilai tertinggi di tingkat nasional.

“Temen saya yang Akpol juga sempat menanyakan apa kelebihan Naomi, dan kebetulan Naomi punya kelebihan di Bahasa Inggris karena dari kecil selalu saya leskan. Jadi disarankan untuk memperdalam itu,” ujarnya.

Enam bulan berikutnya setelah selesai pendidikan di Kampung Inggris, Peny membuat jadwal terencana untuk Naomi baik dari segi latihan fisik, akademis dan tentunya tes psikologis. Setiap hari selama enam bulan, ayah Naomi juga selalu setia menemani anaknya untuk melatih fisik.

Peringkatnya ini juga mampu menolong nilainya yang sempat menurun saat tes fisik.Dimana pada saat seleksi pertama di Semarang, Naomi sempat mendapat peringkat 39, Namun karena akademiknya tinggi, saat tahap akhir Naomi menduduki peringkat 15.

Tak menyangka

Kabar Gembira ini kembali membawa tangis di dalam rumah Naomi seperti tahun lalu. Tapi bedanya, kini kedua orang tua Naomi menangis bahagia. Peny menceritakan kepada Batamnews bahwa dia sempat tidak menyangka anak sulungnya tersebut akan menjadi bagian dari Akademi Kepolisian.

Pasalnya, selain seleksi nasional yang tergolong berat, Naomi juga tidak pernah menunjukkan kecendurungannya untuk menjadi polisi. Namun, cita-cita itu muncul 2 bulan sebelum pendaftaran penerimaan calon perwira polisi angkatan 2018, yang membuat kedua orang tuanya kelabakan mepersiapkan seleksi anaknya tersebut dalam waktu singkat.

Pada seleksi penerimaan calon perwira polisi tahun ini, Kepri mengirimkan 9 wakil terbaiknya untuk mengikuti seleksi nasional, 2 wanita dan 7 laki-laki. Namun tersisa 7 terbaik yang mampu bertahan dalam proses seleksi tersebut, 6 laki-laki dan satu perempuan.

Ibunda Naomi berpesan kepada seluruh Orang tua dan Calon Perwira yang gagal tahun ini untuk tidak berputus asa. Cerita yang saat ini dilewati Naomi diyakini bisa terjadi pada pserta yang lain di tahun berikutnya. Menurutnya yang terpenting orang tua harus terus mendukung anaknya, dan terus melatih kelebihan yang dimiliki anaknya. Tapi, tentunya doa yang tidak putus dari orang tua juga diperlukan.

“4 dari 7 perwakilan Kepri yang hari ini lulus di tingkat Nasional, itu semua sempat gagal kok pada tahun sebelumnya. Mungkin mereka sama seperti Naomi, belajar dari kegagalan,” pungkasnya.

(das)