Bahaya Epilepsi, Kenali Gejalanya

Bahaya Epilepsi, Kenali Gejalanya

Dokter Spesialis Bedah Saraf di Rumah Sakit Kariadi Semarang, Prof Dr. dr. Zainal Muttaqin, Sp. BS, Ph.D (Foto:Dyah/Batamnews)

Batam - Epilepsi merupakan salah satu gangguan penyakit yang menyerang sistem saraf otak. Biasanya, epilepsi disebabkan oleh pola aktivitas listrik otak yang tidak normal.

Hal ini biasanya akan membuat penderita mengalami kejang, perilaku yang tidak biasa, hingga mampu menyebabkan pingsan. Penyakit tersebut hingga saat ini masih menjadi penyakit gangguan otak dengan penyandang terbanyak.

Menurut Dokter Spesialis Bedah Saraf di Rumah Sakit Kariadi Semarang, Prof Dr. dr. Zainal Muttaqin, Sp. BS, Ph.D, ciri kejang tidak bisa lagi dijadikan patokan untuk melihat tanda-tanda penderita epilepsi. Pasalnya, tidak semua pasien mengalami gejala tersebut.

Dalam seminar "Awam Mengenal Epilepsi" yang digelar Rumah Sakit Awal Bros Batam, Sabtu (27/7/2019), Zainal coba menerangkan gejala apa saja yang mungkin dialami oleh penderita epilepsi.

"Ada seorang gadis usia 9 Tahun, mengeluhkan sering kram perut, dan ayahnya cerita ke saya, udah dilakukan pengobatan dan pemeriksaan apapun tidak ada masalah di perutnya," katanya.

Epilepsi bisa saja terjadi tanpa menunjukkan kejang. Tanda-tanda mengidap epilepsi tanpa kejang diantaranya kram perut. Biasanya pasien yang mengalami epilepsi tanpa kejang, proses penyembuhannya lebih cepat karena gejala ini menunjukkan pasien mengidap epilepsi ringan.

"Karena usianya masih muda saat itu saya coba kasih obat 2 tablet setengah dan setelah itu anaknya tidak pernah kram perut lagi. Karena yang saya kasih bukan obat sakit perut tapi obat epilepsi," ujarnya.

Menurut Zainal, hal ini wajar terjadi karena epilepsi adalah keluhan yang 70 persen bisa disembuhkan dengan obat saja. Tanpa perlu melakukan operasi atau terapi jangka panjang.

"Saat ini di Indonesia memang ada 2 juta penyandang epilepsi, namun 70 persen bisa sembuh asal mendapatkan obat yang sesuai dan diminum teratur," ungkapnya.

Namun menurut dia, yang perlu di khawatirkan bukan 70 persen tersebut, namun sisa 30 persen lainnya. Karena mereka tidak bisa diobati dengan obat apapun, tapi perlu mendapatkan perawatan yang lebih intens.

Oleh karena itu, ketika menemui penderita epilepsi tentu perlu dilakukan pemeriksaan lengkap. Hal bertujuan untuk mengetahui epilepsi seperti apa yang dideritanya.

"Ada beberapa tahapan pemeriksaan yang perlu dilakukan mulai dari pemeriksaan otak dengan EEG, perekaman aktivitas otak dengan MRI, untuk mengetahui bagian otak yang mana yang membuat kejang," terangnya.

Keluarga ternyata juga berperan aktif dalam pengobatan si pasien. Misalnya saat epilepsinya kambuh bisa direkam untuk mengetahui kejangnya.

"Merekam saat anak kejang dan rumah sakit yang bisa melakukan operasi rumah sakit tipe B dan A," ucapnya.

Diketahui, epilepsi ini 8 persen dari keturunan dan 92 persen penyebabnya dari gangguan saraf pada otak saat dibentuk pada rahim. Dengan operasi tidak sembuh total namun mengurangi kejangnya.

Biasanya sebulan 5 kali kejang, tapi setelah operasi bisa setahun 5 kali sehingga baik untuk pasien. Penyakit epilepsi ini termasuk jenis penyakit neuro atau kelainan saraf.

(das)