PT Unisem Terindikasi Mau Tutup Sejak 2 Bulan Lalu, THR Sempat Tersendat

PT Unisem Terindikasi Mau Tutup Sejak 2 Bulan Lalu, THR Sempat Tersendat

PT Unisem Batam di Kawasan Industri Batamindo, Mukakuning. (Foto: Duah/batamnews)

Batam - Serikat pekerja di PT Unisem ternyata sudah mengindikasi perusahaan itu akan tutup sejak dua bulan lalu. Hal itu ditandai dengan tersendatnya uang Tunjangan Hari Raya (THR) yang diterima karyawan.

Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Elektrik Elektronik (SPEE) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia  (FSPMI) Batam, Muhammad Mustofa membeberkan jika indikasi tersebut disampaikan langsung oleh kepala unit kerja serikat di perusahaan. 

"Kami di pimpinan cabang sektor elektrik eletronik memang sudah dua bulan meminta pimpinan unit kerja di Unisem memantau, karena beberapa pengurus yang di sana, menyampaikan hal-hal indikasi-indikasi akan tutupnya perusahaan, salah satunya dengan tersendatnya uang THR," kata Mustofa, Sabtu (29/6/2019).

Rencana penutupan perusahaan tersebut, diketahui akibat kondisi penjualan yang sulit sehingga perusahaan merugi. 

FSPMI Batam kemudian memanggil ketua unit kerja untuk menjelaskan kronologisnya. Memang, lanjut Mustofa, ketua unit kerja menyampaikan perusahaan lagi kesulitan keuangan karena produksi yang menurun.

"Unisem kalah dengan kompetitor yang lain. Dalam hal ini tentu penutupan itu murni karena orderan yang terus menurun," ujarnya.

Sejak dari perkiraan hingga kabar resmi rencana penutupan perusahaan tersebar pimpinan sektor cabang serikat pekerja , beberapa serikat pekerja yang ada di PT Unisem terus melakukan perundingan. 

Mustofa memaparkan dalam dua bulan kepala unit kerja dari masing-masing serikat ada kesepakatan dengan pimpinan tertinggi Unisem di Batam. 

"Jadi dalam dua bulan ini kita ada uji coba apakah Unisem bisa bertahan, atau apakah memang harus tutup. Informasi sejak setahun yang lalu sudah ada pengurangan-pengurangan. Ini sudah disampaikan perusahaan. Tahapan ini sudah dilakukan tapi keuangan perusahaan masih tidak memadai," paparnya. 

Namun serikat pekerja mengaku dari penjelasan perusahaan masih ada hal yang sedikit ditutupi oleh pihak perusahaan, dan belum bisa terbuka kepada karyawan. 

"Tapi perusahaan ini juga tidak terbuka, karena perusahaan ini ada dua, Indonesia dan Malaysia, dan kondisinya kedua negara ini bersaing walaupun sama perusahaan Unisem. Dan informasi terakhir yang kami dengar pemilik saham saat ini adalah warga negara Malaysia," tuturnya. 

Serikat pekerja juga sempat menghentikan rencana perusahaan untuk memindahkan mesin-mesin yang diduga akan dipindahkan ke Malaysia. 

"Kedua perusahaan kemarin dua bulan yang lalu sempat mau mengirimkan mesin-mesinnya, tapi kami mencegah untuk tidak dikirim sebelum ada kepastian, dalam rangka apa mesin-mesin tersebut dikirim keluar Batam. Dan kemarin sebulan yang lalu kita tahan agar tidak boleh satupun alat yang berpindah dari Unisem Batam ke Unisem Malaysia," ucapnya.

Baca: Surat Presdir PT Unisem ke Karyawan: Perusahaan Terus Merugi

Hingga saat ini serikat pekerja terus melakukan perundingan dengan pihak perusahaan, untuk memastikan apakah betul-betul  penutupan ini menjadi jalan keluar terakhir. Namun perusahaan tetap memilih untuk tutup produksi di Batam. 

"Sampai hari ini tim kami masih melakukan perundingan-perundingan. Namun perusahaan komitmen akan mematuhi aturan-aturan tentang penutupan perusahaan," ucapnya. 

Langkah terakhir yang dilakukan serikat menjelang penutupan ini adalah, hak-hak karyawan bisa terpenuhi, dan perusahaan mematuhi peraturan dan undang-undang yang berlaku. 

Sejauh ini, manajemen Unisem di Batam belum memberikan penjelasan resmi.

(das)
 

Komentar Via Facebook :