India Larang Keras Permainan PUBG

India Larang Keras Permainan PUBG

Ilustrasi

Jakarta ‐ Pihak kepolisian di India Barat telah menahan 10 mahasiswa akibat memainkan PUBG. Tidak seluruh India memberlakukan larangan permainan ini, hanya kota-kota di wilayah Gujarat saja yang mengeluarkan larangan untuk bermain PUBG. 

Rohit Raval, salah satu petugas polisi mengatakan bagaimana game ini begitu adiktif, hingga tersangka tidak sadar ketika tim polisi datang. Pihak kepolisian juga mendorong warga untuk melapor jika menemukan pelanggaran atas aturan itu.

Alasannya, akibat permainan itu dianggap mengandung unsur tindak kekerasan, seperti diajukan oleh Komisi Perlindungan Anak di negara itu. Salah satu koran terbesar di India menyebut PUBG sebagai epidemik dan berakibat mental yang buruk bagi anak-anak, tulis Navbharat Times dalam editorialnya pekan lalu (20/3/2019). 

PUBG atau PlayerUnknown's Battlegrounds adalah gim dengan genre penembak orang pertama (first person shooter/fps). Dalam game ini, para pemain mesti saling berburu 100 pemain lain hingga tersisa satu pemenang saja di akhir permainan. 

Game buatan Bluehole asal Korea Selatan ini menjadi sangat populer setelah Tencent di China ini membuat versi game mobile yang bebas dimainkan di ponsel. Selain di ponsel, game ini juga bisa dimainkan di PC. 

Game komputer memang tidak terlalu populer di India. Baru ketika vendor ponsel perang harga, game mobile meledak di negara itu. Namun, hal ini menimbulkan reaksi keras dari para penganut konservatif di negara itu. 

Para penduduk di desa yang tak pernah bermain dengan game konsol atau PC, langsung terlibat dalam game tersebut karena mereka kini mudah memainkannya di ponsel. 

Kompetisi PUBG pun ramai dibuat, salah satunya dibuat di selatan kota Hyderabad. Lomba ini dibuat beberapa hari sebelum penerapan larangan PUBG dilakukan.

Sebanyak 250 ribu mahasiswa dari 1.000 kampus di kota itu mendaftar. Satu tim yang berhasil menang, mendapat hadiah 1,5 juta rupee (Rp307 juta). 

Namun kekhawatiran politisi lokal, orang tua, dan guru menganggap permainan ini akan memicu kekerasan dan mengganggu kegiatan akademik. Mereka menyalahkan game atas tindakan persekusi, pencurian, dan dalah salah satu kasus di Mumbai, bunuh diri remaja. 

Seorang anak umur 11 tahun bahkan mengajukan gugatan atas kepentingan publik di pengadilan Mumbai agar game PUBG dilarang. Dalam pertemuan publik bulan lalu, seorang ibu mengeluhkan kepada Perdana Menteri Narendra Modi soal ketergantungan anaknya terhadap game. Modi lantas bertanya, " apakah itu gim PUBG?"

Menanggapi tekanan terhadap game buatannya, Bluehole menyebut akan memperkenalkan sistem bermain yang sehat di India, "Untuk menjaga keseimbangan, game yang bertanggung jawab, termasuk membatasi waktu bermain untuk pemain di bawah umur," jelas perusahaan itu, seperti dikutip Bloomberg. 

Tencent sendiri kesulitan memasukkan dan melakukan monetisasi beberapa game populer seperti PUBG dan Fortnite di negaranya sendiri. China dikenal sangat ketat terhadap gim yang bisa dimainkan di negara itu.

Tiap game mesti lewat sensor ketat apakah mengandung unsur kekerasan, seksual, atau konten tak pantas lainnya. Mereka bahkan menentukan judul dari game yang boleh keluar di negara itu.

Meski demikian, pemerintah India masih belum menargetkan untuk melarang Fortnite. Beberapa alasan yang mungkin karena permainan itu lebih terasa sebagai permainan fantasi ketimbang PUBG. 

Selain itu, hanya pengguna Android yang bisa memainkan game ini. Selain itu, pengguna pun harus mengunduh langsung dari situs Epic Games. 

Akibat banyaknya keterbatasan untuk bermain game Fortnite, sementara PUBG lebih mudah diakses, kemungkinan menjadi alasan mengapa game itu saja yang diincar oleh penegak hukum India, seperti disebutkan The Verge. 

(*)


Berita Terkait