Derita Putri Aisyah, Bayi 2 Bulan yang Harus Buang Air dari Mulut

Santi, ibunda Putri Aisyah dengan sabar menunggui putrinya yang dirawat di RSUD HM Sani, Karimun. (Foto: Edo/batamnews).

Karimun - Putri Aisyah, balita berusia 53 hari harus terbaring di RSUD HM Sani Karimun. Sakit yang diderita bayi mungil itu, menyebabkannya harus buang air melalui mulut.

Aisyah merupakan anak dari pasangan Yusran (28) dan Santi (24) warga RT 07 RW 03, Sebele, Gang Polindes, Kelurahan Kundur, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun.

Pasangan ini telah lama mendambakan hadirnya keturunan, setelah dua kali kehilangan anak akibat meninggal dunia dan keguguran.

Hadirnya Aisyah disambut dengan gembira oleh keduanya. Namun mereka harus menerima kenyataan, anaknya divonis oleh dokter menderita penyakit Hirschsprung. 

Penyakit Hirschsprung adalah kelainan yang terjadi pada usus besar (kolon). Penyakit ini biasanya muncul sebagai kondisi bawaan pada bayi yang baru lahir. 

Bayi yang menderita penyakit Hirschsprung seringkali kesulitan buang air besar karena gangguan pada sel saraf yang berfungsi mengendalikan pergerakan usus.

Santi menuturkan, sebelum terjadinya pembengkakan, Aisyah mengalami kembung biasa. Namun, sehari berselang, kondisi perutnya semakin membesar.

"Awalnya kembung biasa, hari kedua dan hari selanjutnya perutnya kok semakin membesar, pusarnya timbul urat-uratnya di perutnya pun sudah kelihatan kayak mau retak," ucap Santi, Kamis (14/2/2019).

Saat dibawa ke rumah sakit, kondisi Aisyah lemah dan pucat. Terkadang, bocah itu merengek menahan sakit yang dideritanya.

"Kata dokter usus seperti terlipat jadi menyebabkan saluran buang air besar tersumbat dan kecil. Tinjanya pernah keluar dari mulutnya," imbuh Santi.

Putri Aisyah yang merupakan anak satu-satunya dari pasangan tersebut, direncanakan akan menjalani operasi dengan biaya yang cukup besar dan masih dalam tahap pengurusan.

"Saya berharap jika dioperasi, operasinya lancar dan selamat bisa normal kembali. Karena dia satu-satunya anak kami. Saya sulit untuk mendapatkan anak. Anak pertama setahun baru dapat itupun meningggal, anak kedua keguguran dan Putri ini anak kami yang ketiga," ujarnya.

Sementara itu, Yusran menambahkan, untuk biaya penginapan saat ini ditanggung BPJS. "Kalau untuk penginapan ditanggung BPJS tapi kalau transportasi dan makan kita pribadi," ujar pria yang bekerja sebagai buruh penyadap getah.

Dia sangat membutuhkan uluran tangan para dermawan yang ingin membantu meringankan bebannya untuk biaya berobat anaknya.

"Kami butuh biaya untuk pengobatan anak kami," ucapnya.

(aha)