Obesitas, Tidak Menular Tapi Mematikan

Ilustrasi

Batam - Gaya hidup yang serba instan, mulai dari mengonsumsi fast food atau junk food hingga malas bergerak (Mager), menjadi salah satu pemicu seseorang menderita penyakit obesitas.

Meskipun penderitanya tidak terlalu banyak dibandingkan dengan penyakit yang lainnya, tapi jika terkena penyakit ini waktu dan biaya yang dibutuhkan tidak sedikit untuk proses penyembuhannya.

Di Kepulauan Riau sendiri, ada 4,4 persen balita menderita obesitas sepanjang 2018. Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala seksi (Kasi) Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri, Aniesaputri Junita.

"Diperkirakan penderita obesitas setiap tahunnya meningkat. Dari 4,4 persen penderita obesitas di Kepri, Kabupatan Bintan yang paling banyak," kata dia, Kamis (24/1/2019).

Lanjut Junita, obesitas dapat terjadi ketika seringnya mengonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori. Kemudian, tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang sesuai.

Dinkes Kepri sendiri sebenarnya sudah melakukan beberapa program untuk penanggulangan ini. Seperti, 'Piring Makan Ku' yang berpedoman pada gizi seimbang. Kemudian, 'Germas' atau aktivitas fisik dan gemar makan sayur dan buah, hingga pemantauan pertumbuhan balita di posyandu.

Mengonsumsi makanan dengan kadar kalori dan lemak melebihi dari jumlah yang dibutuhkan, ditambah dengan kurangnya aktifitas fisik membuat kalori tidak berubah menjadi energi. Maka tersimpan dan menumpuk di dalam tubuh dalam bentuk lemak.

Sudah banyak kasus di Indonesia penderita obesitas, misalnya saja Silvia, gadis asal Lamongan dan Arya Permana, bocah obesitas asal Kabupaten Karawang.

Junita menjelaskan, selain pola makan yang tidak sehat serta tubuh yang kurang aktif bergerak, obesitas juga bisa disebabkan oleh faktor-faktor lainnya, seperti keturunan atau genetik. Faktor ini dapat berpengaruh pada jumlah lemak yang diserap tubuh atau digunakan sebagai energi.

Selanjutnya, karena efek samping obat-obatan. Beberapa jenis obat yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan adalah antidepresan, antipsikotik, antikonvulsan, kortikosteroid, obat diabetes, dan obat penghambat beta.

Ketika wanita hamil, mereka akan membutuhkan banyak asupan nutrisi dari makanan. Namun tidak sedikit pula dari mereka yang mengalami kesulitan untuk menurunkan berat badannya kembali setelah melahirkan.

"Kurang tidur juga termasuk, perubahan hormon yang terjadi ketika kita kurang tidur dapat meningkatkan nafsu makan. Hal ini dapat mengarah kepada obesitas," ujarnya.

Semakin bertambahnya usia, maka risiko kenaikan berat badan juga lebih besar. Hal ini diakibatkan oleh metabolisme tubuh yang menurun dan massa otot yang berkurang.

(sya)