Produksi Usaha Sablon Kampanye Pemilu 2019 Menurun
Rizky desain grafis t-obenk sedang mengerjakan desain untuk partai dan caleg (foto:Johannes Saragih/Batamnews)
Batam - Musim kampanye Pemilu 2019 sudah mulai terasa sejak akhir 2018. Para calon wakil rakyat mulai berlomba-lomba mendekati masyarakat. Berbagai bahan kampanye mulai dibagikan untuk memperkenalkan diri.
Namun ada aturan baru dari KPU terkait jumlah nominal bahan kampanye. Berdasarkan aturan PKPU Nomor 23 Tahun 2018 tentang Kampanye Pemilu, berbunyi setiap bahan kampanye apabila dikonversikan dalam bentuk uang maka tidak boleh lebih dari Rp60 ribu.
Bahan kampanye tersebut terdiri dari selebaran, brosur, pamflet, poster, stiker, pakaian, penutup kepala, alat makan dan minuman, kalender, kartu nama, pin, dan alat tulis.
Beberapa percetakan baik pakaian, merchandise, maupun cetak print mulai merasakan keuntungan ekonomi dari masuknya musim ini. Sayang dengan adanya peraturan tersebut, menurunkan pemasukan tambahan yang seharusnya didapatkan mereka saat kampanye tiba.
Andri Kurniato, Owner sablon dan percetakan di T-Obenk Batam mengaku, ada penurunan hingga 40 persen dari yang didapatnya pada kampanye calon legislatif (Caleg) sebelumnya.
“Tahun ini peningkatan pemasukan gak sebanyak kampanye dulu,” ujarnya.
Produk pesanan untuk bahan kampanye yang dipesan oleh caleg ataupun partai masih sama dari sebelumnya. Rata-rata calon legislatif memesan kaos, payung dan mug di T-Obenk.
Andri mengatakan, walaupun jumlah pesanan menurun dari musim kampanye sebelumnya. Namun kaos masih menjadi idola para calon wakil rakyat untuk bahan kampanye.
“Masih kaos sih,” katanya.
Andri mengaku, ada dua jenis bahan kaos yang dipilih untuk pesanaan kampanye. Bahan teteron cotton dibanderol harga Rp25 ribu dan bahan cotton carded dibanderol harga Rp 35 ribu.
“Mereka pilih itu karena paling murah,” tuturnya.
Walaupun mengalami penurunan jumlah orderan bahan kampanye, Andri mengaku tidak mengalami penurunan pelanggan. “Kalau partai atau caleg yang pesen masih sama sih,” ujarnya.
Andri masih optimis orderannya masih bisa bertambah hingga mendekati musim kampanye. “Mungkin orderan akan bertambah akhirnya januari, puncaknya kan 2 bulan sebelum pemilu,” ucapnya.
Walaupun musim kampanye lalu T-Obenk mendapat pesanan lebih banyak, tetapi tempat sablon dan percetakan ini pernah terpaksa membakar kaos pesanan hingga 4 kali.
Hal tersebut dilakukan karena pesanan tak kunjung di ambil hingga enam bulan setelah proses produksi selesai. Namun hal itu tidak jadi masalah untuk Andri karena kerugian yang ditanggungnya tidak besar.
“Saat pemesanan pelanggang sudah membayar DP 50-70 persen, sehingga sudah bisa mengcover,” ucapnya.
Alasan lain Andri membakar kaos yang sudah di sablonnya tersebut dan justru bukan di jual kembali atau disumbangkan, karena adanya hak milik pada desain kaos tersebut.
“Disitu ada hak orang lain dari segi desain, sehingga ga boleh dipakai orang lain,” katanya.
(das)
Komentar Via Facebook :