Suka Duka Pebisnis Konveksi di Momen Pemilu

Untung Ratusan Juta per Bulan Hingga "Dikacangi" Oknum Caleg

Aktivitas pencetakan spanduk di sebuah percetakan milik Roy Kwok. (Foto: Diah/batamnews)

Batam - Pemilu yang tinggal beberapa bulan lagi ini, gaungnya sudah mulai terdengar dan terasa sejak 2018 lalu. Bisnis percetakan, mulai dari cetak spanduk hingga kaos pun kecipratan rezeki, tak terkecuali di Batam.

Seperti diungkapkan oleh Roy Kwok, pelaku usaha jasa percetakan Media Printer Indonesia di Batam, dirinya mengalami lonjakan penghasilan hingga 30 persen.

Penyumbang terbesar dari omzetnya adalah cetak kartu nama dan banner. "Untuk pemilu sendiri kami bisa mencetak 300 unit banner besar dan 200 kotak kartu nama," kata Roy, Kamis (3/1/2019). 

Senyum pria itu mengembang tatkala menyebut peningkatan omzet. Menurut dia, di luar momen tahun politik, biasanya omset Roy hanya sekitar Rp 60 juta per bulan.

Namun memasuki jelang pemilu, orderan pun mengalir deras. Pundi-pundi omzet pun berkembang signifikan.

"Kalau sudah musim pemilu gini, omzet Rp 90 juta hingga Rp 100 juta per bulan tak kemana," ujar dia.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Anri Dewa, Leader T-Obenk di kawasan Batam Centre. Bisnis konveksi yang digelutinya juga meroket tajam omzetnya.

Anri menyebut satu caleg bisa memesan kaos hingga ratusan helai sekali pesan. "Untuk kaos yang murah bisa pesan 500 helai, tapi kalau bahannya premium hanya beberapa saja karena untuk timnya," kata dia.

Namun demikian, Anri enggan menyebut omzet yang diterimanya. Dia menegaskan momen pemilu sudah pasti mendatangkan rezeki bagi dirinya.

 

Tak Selalu Untung dan Pernah Ditipu

Raihan omzet yang meningkat bagi para pelaku bisnis percetakan ini tak datang tiba-tiba. Butuh kepiawaian dalam memasarkan produk sekaligus membangun jaringan.

Akan tetapi, bisnis mereka juga pernah berlangsung pahit. Hal ini terjadi tatkala oknum calon legislatif ataupun oknum partai yang 'sayonara' tanpa membayar pesanannya.

Seperti diungkapkan Roy, keuntungan fantastis tidak serta merta diterima begitu saja olehnya. Dirinya juga pernah mengalami kerugian hingga puluhan juta. 

Kerugian tersebut diterimanya karena ada oknum partai pemesan membawa kabur barang pesanannya. 

"Sekali sampai tiga kali pesan dia bayar, yang keempat dia hanya bayar setengah, dan kelima dibilang bayar nanti tapi ga datang, padahal barang sudah diambil," katanya. 

Bukan hanya satu kali Roy mengalami hal ini. Pernah ada tujuh oknum caleg sekaligus mengemplang pembayaran pesanan.

Alhasil, kerugian yang diterima Roy juga sangat fantastis. Dari kejadian tersebut, dia harus menanggung kerugian hingga Rp 35 juta.

Mengatasi hal ini, Roy mengaku menjadi lebih selektif terhadap calon klien. "Kami sekarang hanya terima yang memang kenal dan langganan baik, kalaupun ada yang baru, untuk partai kami terapkan sistem bayar tunai untuk mencegah kejadian tersebut berulang," ucapnya. 

Sementara, Anri menerapkan sistem yang lebih preventif dalam menghadapi musim politik tahun ini. Manajemen T-Obenk menerapkan sistem ketat terhadap pembayaran barang pesanan.

"Kami adakan sistem uang muka 50% saat pemesanan, dan saat pengambilan harus dibayar tunai untuk mencegah hal-hal aneh," ujarnya

Dari sistem yang diterapkan, T-Obenk bisa mencegah terjadinya utang dan tidak dibayarnya barang pesanan. 

(das)