Konservator Hutan Mata Kucing Batam

Netti Herrawati Pernah Patah Hati Karena Pohon

Netti Herrawati Pernah Patah Hati Karena Pohon

Konservator Hutan Lindung Mata Kucing, Netty Herrawati. (Foto: Dyah/batamnews)

Muhammad Ikhsan

Salah satu paru-paru kota Batam adalah hutan lindung Mata Kucing. Namun menurut pengelola kawasan ini, kesadaran masyarakat terkait lingkungan kini kian berkurang.

Netti Herrawati, sebagai konservator hutan dan pengelola kawasan mata kucing mengatakan,  tidak mudah memberi pemahaman kepada masyarakat untuk menjaga alam. Melalui obyek wisata ini dia memperkenalkan wisata hutan tanpa merusaknya. 

"Kesadaran masyarakat untuk menjaga alam itu masih sangat rendah, dengan wisata seperti inilah kita memperkenalkan hutan," ucapnya. 

Sebagai seorang penjaga hutan, Netti mendapat gelar konservator pada 1984. Wanita paruh baya ini sudah delapan belas tahun menjaga dan mengelola hutan lindung mata kucing ini.

 

 

Kecintaannya terhadap pohon membuat nenek satu cucu ini berani mengorbankan kesuksesannya untuk merawat hutan. 

Kehidupannya ditinggalkan untuk tinggal di tengah-tengah pohon besar. Rumah mungil dan sederhana menjadi tempat ia berteduh saat ini.

Di Kawasan Wisata Hutan Lindung ini, Netti menyediakan berbagai wahana agar pengunjung lebih dekat dengan alam. 

Wahana yang ada di Hutan Lindung Mata Kucing ini diantaranya flying fox, berna bridge, sepeda, jungle track, kolam renang, berbagai satwa, dan perawatan hutan.

Hutan merupakan ekosistem yang memiliki peranan penting bagi daerah sekitarnya. Dia juga berperan untuk menstabilkan iklim lingkungan. 

Namun tidak mudah menjaga hutan di era modern, serta daerah yang menyandang gelar kota industri. 

Hal ini di akui oleh Netti bahwa hal tersulit menjaga Hutan adalah dari manusia. "Paling susah menjaga hutan itu dari manusia," ucapnya. 

Netti menceritakan dirinya pernah patah hati ketika pohon kesayangannya hilang tak bersisa. "Saya pernah mendatangkan pohon dari kalimantan dan pohon ini termasuk langka, saya hadirkan disini malah di tebang orang," ucapnya.

Berbagai usaha dilakukannya untuk menjaga keamanan hutan, mulai dari membuat pagar hingga berpatroli. Namun kelakuan masyarakat tak ada habisnya. 

"Pernah pasang pagar kawat keliling hutan, malah kawatnya dipotong inang-inang," imbuhnya. 

Tak hanya itu, Netty nuga sering berurusan dengan pencuri pohon. Sayangnya tak ada satupun penjahat hutan yang bisa dibawa ke jalur hukum. 

"Gimana mau tegas, orang-orang itu sudah punya pegangan, kalau kita melapor, kita yang balik dimarahin, padahal kita menjaga alam," ucapnya. 

 

 

Dari kejahilan masyarakat, adanya pencuri hutan hingga ancaman politik dihadapi Netty untuk tetap menjaga keutuhan hutan. 18 tahun menurut Netti masih belum cukup usahanya untuk mempertahankan hutan.

Menurut Netti masyarakat juga perlu turut menjaga hutan bukan hanya para konservator. "Percayalah kalau kita baik sama alam, maka alam akan menjaga kita," sebut Netty.

Netti mengatakan usahanya menjaga hutan lindung mata kucing ini bukanlah karena uang semata. "Saya tidak butuh kaya toh mati ga dibawa, tapi saya mau diingat bagaimana saya menjaga warisan anak cucu," ucapnya.

(das)

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :