https://www.batamnews.co.id

Seorang Pendeta di Wamena Dibunuh, Polisi Kantongi Identitas Pelaku

Ilustrasi.

Wamena - Seorang Pendeta di Wamena, Claarce Rinssampesy Salamena menjadi korban penjambretan dan pembunuhan di depan rumahnya, Jalan SD Percobaan, tepatnya di depan Gereja Effata Wamena, Jumat (31/12/2018).

"Kami sudah mengantongi identitas salah satu tersangka pembunuhan Ibu Pdt. Claarce Rinssampesy dan sementara dalam pencarian," kata Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Pieter Reba di Wamena, Senin (31/12).

Informasi yang dihimpun menyebutkan, Pendeta Clarce ditikam saat berboncengan dengan seorang wanita dalam perjalanan menuju rumah korban.

Saat itu dua pria yang mengendarai sepeda motor, berusaha mendekati korban dan saksi, lalu merampas tas milik korban, namun terjadi perlawanan.

Korban yang merupakan wanita berusia 66 tahun itu diantar oleh teman wanita (saksi), dari gereja yang berada di Jalan Irian Atas, menuju rumah korban.

Usai ditikam, pelaku kemudian kabur dan beberapa warga yang berada di lokasi berusaha membawa korban ke RSUD untuk mendapatkan perawatan. Namun pukul 20.00 WIT nyawanya tidak terselamatkan.

Tas dan kendaraan milik korban masih ditemukan di tempat kejadian perkara, sehingga diduga pelaku melarikan diri tanpa membawa barang hasil kejahatannya.

Dia mengatakan, pencarian pelaku melibatkan Kopassus, BIN dan personel Kodim 1702/Jayawijaya. Polisi akan menembak lumpuh, jika saat melakukan penangkapan, tersangka melakukan perlawanan.

Polisi juga akan memberlakukan tindakan tegas bagi pelaku agar ke depan tidak ada lagi kajadian pembunuhan serupa.

"Jika pelaku melakukan perlawanan, saya akan tembak di tempat," katanya.

Tersangka pembunuhan pendeta ini dipastikan masih berada di dalam wilayah hukum Polres Jayawijaya.

"Jika pelaku melarikan diri ke kabupaten pemekaran, kami sudah kantongi identitasnya sehingga dalam waktu dekat kami sudah bisa menangkapnya," kata Yan Pieter.

Kapolres menyampaikan belasungkawa dan permohonan maaf kepada keluarga korban atas kejadian tersebut.

Aktivitas membawa senjata tajam seperti parang, kampak dan panah di dalam Pusat Kota Wamena setiap hari bisa ditemui, sehingga memudahkan terjadinya tindakan kekerasan dengan alat tajam.

Terkait kasus tindak pidana kriminal itu, pada Sabtu kemarin, sejumlah warga di Kabupaten Jayawijaya, melakukan orasi damai ke Mapolres Jayawijaya dan menuntut polisi mengungkap pelaku pembunuhan terhadap seorang pendeta itu.

Pendeta Alexander Mauri mengatakan kedatangan mereka ke Mapolres merupakan upaya mendukung polisi dan TNI untuk memberantas segala bentuk kejahatan.

"Ini hari Natal, pendeta di bunuh di depan gereja. Ini keji, kami tidak tolerir ini. Kami minta ditangkap dan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku. Pemicu kejahatan adalah minuman beralkohol lokal," katanya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jayawijaya Pendeta Esmon Walilo mengatakan pembunuhan sudah sering terjadi, walau sudah sering dilakukan pertemuan dengan pihak keamanan untuk membahas masalah tindak pidana itu.

"Kita juga pernah usul agar senjata tajam (parang, kampak, jubi) tidak boleh masuk ke Kota Wamena, kalau berkebun baru bisa bawa parang atau kapak atau pisau. Ini pembiaran terjadi, sehingga di kota ini ketika bertemu seseorang membawa parang atau pisau menjadi takut," katanya.

Ia menilai polisi di Jayawijaya tidak bekerja profesional untuk mengatasi kejahatan di Jayawijaya.

"Di Pulau Jawa sana kalau ada pembunuhan, pelakunya bisa dapat cepat. Kenapa di Wamena ini susah sekali. Kalau kasus pembunuhan ini tidak bisa diungkap, maka ke depan kejahatan akan semakin marak dan tidak akan terungkap juga. Minuman ditertibkan dan pelaku harus diungkap," katanya.

Kepala Suku Besar Maluku se-Pegunungan Tengah Papua Christian Sohilait menyampaikan empat tuntutan warga yaitu Kapolda bersama jajaran membersihkan peredaran minuman keras dan senjata tajam di Wamena.

"Kedua, pelaku pembunuhan terhadap ibu pendeta ini ditangkap. Ketiga, 2 x 24 jam Kapolres Jayawijaya harus diganti, dan keempat, imbauan ke masyarakat untuk mengakhiri akhir tahun ini dengan damai," katanya.

(*)