Sudahkah Kita Belajar Seni Menemani Belajar?
Sagala Riana Bakkara
“teacher teaches less, scholars learn more”
“Passionate teacher teaches passionately”
“teacher, put passion onto your teaching”
Dalam buku Cinta yang Berpikir, Charlotte Mason memaparkan tentang seni menemani belajar. Seperti apakah seni menemani belajar itu? Bagaimana caranya? Dikatakan bahwa pendidikan itu adalah sebuah proses, yang tidak jarang para orangtua memiliki andil dominan dalam proses tersebut.
Peran orangtua yang dominan itu ternyata memberi pengaruh yang tidak sehat. Charlotte mengatakan, “jika kita menyakini anak-anak sebagai pribadi yang utuh, jiwa hidup yang ingin bertumbuh, makan peran utama dalam proses pendidikan ada ditangan mereka sendiri.
Sebab pertumbuhan hanya bisa terjadi dari dalam. Seseorang dibangun dari dalam, bukan dari luar. Ia adalah mahluk yang hidup, dan upaya apapun yang memaksakan pendidikan dari luar dirinya hanya akan menjadi ornamen-ornamen hiasan, tidak akan menetap sebagai bagian vital dari identitasnya (vol 6 hlm 109).
Sama seperti tubuh anak secara alamiah punya kemampuan mencerna makanan, begitu pula pikiran anak memiliki kemampuan bawaan untuk mencerna pengetahuan. Ketika menemukan ide yang menurutnya berharga, secara otomatis benaknya akan bekerja, menalar, membandingkan, berimajinasi, menaut-nautkan memori, untuk mengolah ide itu.
Tidaklah sehat memberikan makanan yang sudah kita kunyahkan dulu untuk anak. Jika itu terus menerus kita kerjakan, ia tidak akan mengalami pertumbuhan yang sebenarnya. Prinsip yagn sama berlaku diranah pertumbuhan mental. “ Benak anak harus mengerjakan sendiri proses mencerna ide itu, jika kita tidak mau ia melemah dan berhenti berfungsi (vol 6 hlm 26).
Olah karenanya, Charlotte mengimbau agar kita, orangtua untuk sesedikit mungkin campur tangan dalam proses pembelajaran. Tugas kita adalah sebagai penyedia dan fasilitator yang menyajikan ide-ide terbaik sebagai makanan mental dan pikiran mereka.
Berilah tanggungjawab penuh pada anak-anak kita dalam proses belajar. Biarkan mereka sendiri yang mengolah, menggarap, mempelajari dan berupaya mandiri dalam proses tersebut.
Nah, dalam hal seni menemani belajar, fungsi orangtua adalah mendampingi, mengawasi dari belakang tetapi tetap mengayomi, orangtua berperan sebagai pemeran pasif dalam proses belajar. Tidak mendominasi. Tidak bersikap cuek.
Tidak pula mengintervensi pikiran dan keputusan anak. Berhenti mengukur pendidikan anak melulu lewalt kemajuannya dalam menulis, membaca dan berhitung, tetapi ketahuilah seberapa besar ketertarikan anak terhadap berbagai hal yang tumbuh disekitarnya. Tumbuhkan terus minat dan ketertarikan anak pada sesuatu hal.
Jikalau anak menyukai pelajaran seni lukis ataupun seni tari, maka pupuklah minat tersebut, agar tidak sekadar menjadi rasa ingin tahu belaka (curiosity), yang dangkal dan tak berumur panjuang. Oleh sebab itu, mari kita siapkan anak kita menjadi pembelajar yang mandiri, yang mengakomodir segala kemampuan dan keunikan mereka untuk menjadi sosok pribadi yang utuh, yang memiliki kegembiraan untuk terus belajar sepanjang hayat.
Salam semangat!
Sumber: Buku Cinta yang berpikir Charlotte Mason, Ellen Kristie
(*)
Komentar Via Facebook :