Cerita Mengerikan 100 TKI Lebih Terombang-ambing di Laut Lepas, Speed Pun Bocor

Para TKI ilegal yang nyaris jadi korban speed bocor di tengah lautan (Foto: Yude/Batamnews)

BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Kejadian kapal kayu yang nyaris tenggelam di perairan Johor Malaysia menuju Kepulauan Riau, masih menyisakan trauma kepada beberapa penumpang.

Mereka yang masih merasakan kengerian terombang-ambing di tengah lautan lepas, bahkan sudah pasrah dengan keadaan dan hanya bisa berdoa kepada Yang Maha kuasa.

Mereka bahkan bukan saudara, namun akibat terjadinya kejadian ini, mereka mampu menjalin persaudaraan.

Risma (42) yang sudah hampir 9 tahun berada di Malaysia dan ikut serta dalam ekspedisi ilegal itu bercerita, betapa malam itu sekitar pukul 12.00 WIB, adalah malam terburuk selama hidupnya. 

Ia yang berniat pulang total ke kampung halamannya di Malang, tak menyangka akan menghadapi pengalaman tak terlupakan.

Ia pergi membawa anaknya, Faizul (7). Selama hampir tiga jam mereka terombang ambing di lautan lepas tak jelas arah.

Di dalam kapal ikan kecil ditengah lautan dan dengan keadaan gelap gulita, mereka harus berhimpit-himpitan. 

Kapal pun sempat bocor, namun mereka bekerja sama menguras air agar tidak menenggelamkan kapal.

“Kami sudah pasrah, takut juga. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa kepada Allah,” kata dia di Mapolair Polda Kepri, Sekupang, Batam, tempat ke 107 TKI yang dievakuasi petugas berkumpul, Jumat (20/4/2017) pagi.

Tak sampai di situ kegelisahan Risma, anaknya pun menangis tak henti-henti dan bahkan sempat demam di atas kapal.

“Pas datang polisi, langsung diobatin,” ujar dia.

Risma mengakui, dia memilih jalur ilegal ini karena susahnya persyaratan mengurus paspor anaknya yang hilang.

Kumpul di perkampungan

Dia bercerita, sebelum menaiki kapal dia harus berkumpul dulu di sebuah perkampungan di Malaysia sebelum menuju ke pelabuhan. 

Bukan hanya itu, sebelum menuju ke pelabuhan dari perkampungan itu, dia harus berjalan dulu di pedalaman hutan di sana untuk menuju pelabuhan. 

Ada sekitar tiga jam mereka harus menyusuri hutan dalam keadaan gelap gulita, sepanjang 200 meter menuju pelabuhan tanpa penerangan sama sekali.

“Merokok saja tak boleh, saya saja sampai masuk lubang,” kata dia.

Beda dengan Winantu (38) tujuan Surabaya sebelum menuju ke pelabuhan. Dia dan beberapa teman-temannya dikumpulkan dulu di sebuah hotel sebelum menuju lokasi.

“Jadi beda-beda mas, nggak dikumpulin semuanya dulu. Dipisah-pisah mas. Jadi manis dulu, baru pait-paitan,” kata dia.

Dia berpikir, karena awalnya diinapkan di hotel. Ia merasa akan dinaikkan menggunakan kapal ferry.

“Jadi pas tau itu kapal ikan, nangis-nangis saya mas,” ujarnya.

Namun, setelah beberapa jam terombang ambing di tengah lautan lepas. 

Winantu bercerita, mereka sangat kegirangan ketika melihat sebuah kapal berbendera Indonesia yang datang untuk menolong mereka.

“Pas nampak kapal indonesia, spontan kami ngomong 'Merdeka'. Serentak semuanya, saking bahagianya, saking senangnya,” ungkapnya dengan nada bergetar.

ILHAM YUDE PRATAMA