Duh Cabe Merah Naik, Kepri Inflasi
foto: katipol.com
BATAMNEWS.CO.ID, Batam- Bayam, Cabai, Kangkung dan Beras atau Kelompok komoditas Volatile Food menjadi penyebab inflasi pada bulan Maret 2018, yang tercatat sebesar 0,21 % (mtm).
Dibandingkan bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,03 % (mtm), jika secara tahunan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri tercatat sebesar 5,05 % (yoy) lebih tinggi dibanding inflasi nasional sebesar 3,40 % (yoy).
"Inflasi bulan Maret lebih tinggi dibanding rata-rata historisnya tiga tahun terakhir, dan penyebabnya dari kelompok Volatile Food," ujar Kepala perwakilan Kepri Bank Indonesia, Gusti Raizal Eka Putra, Selasa (17/14/2018).
Kelompok komoditas Volatile Food mencatatkan inflasi sebesar 1,02 % (mtm), dibanding bulan lalu yang mengalami deflasi sebesar 2,83 % (mtm), dengan rincian Bayam, cabai merah, kangkung dan beras yang masing-masing mengalami inflasi sebesar 22,26 % (mtm), 8,82 % (mtm), 22,09 % (mtm), dan 0,94 % (mtm).
"Kenaikan harga bahan dan kangkung diperkirakan akibat dari keterbatasan pasokan karena produksi lokal yang terbatas, kenaikan harga cabai merah disebabkan oleh terganggunya pasokan cabai merah karena pengaruh cuaca di sentra penghasil seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat," kata Gusti.
Untuk kelompok inti juga mengalami inflasi yaitu sebesar 0,05 % (mtm), dimana bersumber dari kenaikan harga minuman ringan yang mengalami inflasi sebesa 4,10 % (mtm) dan kenaikan harga tersebut dikarenakan dari penyesuaian harga yang dilakukan oleh produsen.
Berbeda dengan kelompok komoditas lainnya, kelompok administratif price mencatatkan deflasi 0,11 % (mtm), dibanding bulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 1,50 % (mtm), hal ini dikarenakan oleh penurunan tarif angkutan udara akibat dari telah berlalunya perayaan Cap Go Msh.
"Namun memasuki April, inflasi diperkirakan tetap terkendali dan cenderung melemah, meski demikian, perlu diwaspadai beberapa inflasi kedepan yaitu: peningkatan harga cabai merah akibat terganggunya pasokan, tren kenaikan harga migas dunia berpotensi mendorong pemerintah menaikkan harga BBM, dan keterbatasan produksi lokal dalam memenuhi permintaan masyarakat," jelasnya.
(ret)
Komentar Via Facebook :