Warga Eksodus, Kata Walikota Rudi: Capek di Batam!

Walikotta Batam, Muhammad Rudi. (Foto: batamnews.co.id)

BATAMNEWS.CO.ID,Batam - Wali Kota Batam, Muhammad Rudi menganggap fenomena eksodus merupakan hal yang biasa terjadi. "Kalau keluar, ya keluar. Saatnya masuk, ya masuk. Kita tak punya hak soal itu," kata Rudi, Kamis (15/6/2017).

Menurut dia, banyaknya orang yang keluar Batam saat ini, bisa jadi karena sudah lelah berada di Batam. "Capek di Batam, keluar. Mungkin dia mau mulai usaha baru," katanya.

Ribuan orang yang eksodus kemungkinan besar terjadi karena sudah tidak dapat bertahan hidup di kota Batam, Perusahaan tutup sehingga membuat banyak orang di PHK.

Dari data Dinas Kependudukan dan catatan sipil kota Batam peningkatan pengurusan surat pindah keluar dari kota Batam mengalami kenaikan hampir 50 persen dibandingkan pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, Kepala Bank Indonesia perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putra mengatakan bahwa fenomena eksodus tersebut bisa saja dipengaruhi musim lebaran saat ini.

"Mungkin saja dalam rangka mudik, karena menjelang hari raya, saya belum mendapat data mengenai kepindahan tersebut," ujar Gusti.

Berdasarkan data yang diperoleh, di Bulan April jumlah surat keterangan pindah sebanyak 1.190 lembar sementara yang datang ke Batam berkisar 1.985 orang. (Baca: Ekonomi Genting, Ribuan Orang Eksodus)

Kepindahan warga secara besar-besaran dari Batam ini diduga tak lepas dari deraan PHK dan ekonomi yang kian lesu. Bank Indonesia mencatat, di triwulan pertama ini, pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Riau hanya 2,02 persen.

Angka itu terburuk di Sumatera. Grafik pertumbuhan ekonomi ini dari tahun ke tahun menunjukkan tren negatif. Di tahun sebelumnya, 2016, pertumbuhan ekonomi sekitar 4 persen lebih, dan di tahun 2015 sekitar 5 persen.

Selain itu, Dinas Tenaga Kerja Kota Batam mencatat ada sekitar 23 perusahaan yang tutup serta hengkang di tahun 2017. Jumlah pengangguran juga tak sedikit mencapai 200 ribu orang. Hampir sekitar 20 persen lebih jumlah penduduk Batam yang kini mencapai 1,2 juta jiwa. ***

(ret)
SHARE US :