Belajar Menggusur dari Kampung Agas Tanjung Uma

Belajar Menggusur dari Kampung Agas Tanjung Uma

Aktivitas penggusuran Kampung Agas Tanjung Uma Batam (Foto: Batamnews)

ADA yang berbeda dalam aksi penggusuran di Kampung Agas, Tanjung Uma, Batam, pada Kamis pagi. Hujan cukup lebat yang mengguyur membuat suasana penggusuran terkesan adem.

Begitu juga halnya di lapangan. Tidak ada ketegangan yang berarti. Tidak ada aksi bakar ban dan todongan senjata tajam seperti penggusuran pada umumnya.

“Ini penggusuran yang sangat manusiawi,” ujar seorang warga yang melongok aksi penggusuran itu kepada batamnews.co.id, Kamis (18/5/2017).

Ucapan pria tersebut memang tak mengada-ada. Sejumlah mobil lori atau truk terlihat hilir mudik mengangkut barang-barang warga Kampung Agas.

“Mereka memang disediakan lori untuk mengangkut barang, pasca 10 hari penggusuran kita siapkan Satpol PP untuk membantu warga pindahan atau mengangkut barang,” ujar Aji Sawung, salah satu pengelola lahan.

Baca juga:

Ratusan Aparat Siap-siap Gusur Lahan Kampung Agas Tanjunguma

 

Di dalam truk terlihat berbagai macam peralatan rumah tangga, mulai dari kasur hingga mesin cuci berada di dalam bak lori.

Bambang Sudiono, pihak PT Wira Nata Tamtama (Foto: Batamnews)

 

Ada sejumlah truk khusus yang bertugas membantu warga mengevakuasi barang-barang tersebut.

“Kita sebelumnya juga menyediakan pos konsultasi ataupun negosiasi,” ujar Aji mengimbuhkan.

Pagi itu memang awalnya cukup menegangkan. Ratusan personel aparat keamanan mulai dar TNI, Polri, Satpol PP, Ditpam BP Batam bersiap-siap melakukan penggusuran.

Mereka menggunakan seragam anti huru-hara. “Kita hanya berjaga-jaga,” ujar seorang anggota polisi.

Apel pun digelar di Pujasera J8, Jodoh. Sebelum turun ke lokasi hujan turun. Tak lama kemudian reda.

Di tengah hujan turun itu, sejumlah polisi berusaha merangsek ke lokasi penggusuran. Tidak seperti dibayangkan. Tidak ada bentrokan, adangan, bahkan intimidasi dari warga. Bahkan mereka menyadari bahwa lahan tersebut bukan milik mereka.

“Kami sadar ini bukan lahan kami,” ujar seorang warga sembari mengemasi barangnya.

Mustari, konsultan hukum PT Wira Nata Tamtama, mengatakan, berkas-berkas lahan tersebut sudah cukup jelas. Proses tahapan-tahapan penggusuran juga sudah dipenuhi.

“Mereka yang digusur diberi kompensasi, kapling, uang paku, dan transportasi,” ujar dia. Bahkan mereka yang belum memiliki tempat tinggal bisa memilih tinggal di rumah susun di daerah Tanjunguncang untuk sementara.

“Boleh tinggal selama 3 bulan, kita tanggung biayanya, setelah itu baru biaya sendiri,” ujar Mustari.

Bambang dan konsultan hukum (Foto: Batamnews)

 

Mustari menyebutkan, penggusuran itu adalah yang kedua kaliya. Di sana terdapat lahan milik perusahaan seluas 7,5 hektare. Dua hektare rencananya dihibahkan ke Pemko Batam untuk membangun rumah susun, sedangkan dua hektare untuk gardu induk listrik PLN Batam.

Selain itu, juga akan dibangun fasilitas olahraga dan aktivitas masyarakat. “Pokoknya lengkap, dan nanti pekerjanya kita utamakan dari penduduk setempat,” ujar Bambang Sudiono, yang mewakili PT Wira Nata Tamtama.

Menurut Bambang, dampak dari pembangunan itu tentunya akan bermanfaat bagi warga sekitar. Pembangunan di mana pun kata dia, akan memberikan pengetahuan dan pertumbuhan ekonomi bagi warga sekitar.

Bambang mengatakan, penggusuran ini sudah direncanakan matang. Termasuk memberikan hak-hak kepada para warga yang menjadi korban gusuran.

“Kalau dihitung-hitung satu kapling udah berapa sekarang? Mau 40 juta, belum sagu hati, dan transportasi, bahkan kita sediakan rusun,” cetusnya.

Mengenai hibah kepada Pemko Batam untuk pembangunan rumah susun, kata Bambang, tergantung kesungguhan pemerintah. “Yah kalau nggak dibangun-bangun, terpaksa kita tarik lagi dong,” ujar dia.

 

Bambang berharap, Pemko Batam serius membangun fasilitas publik tersebut. Setidaknya rusun itu bisa dimanfaatkan warga setempat. 

Aktivitas penggusuran juga berlangsung damai. Nyaris tidak ada satu pun gas air mata yang muntah dari larasnya.

“Water canonnya nganggur aja,” ujar seorang warga yang menyaksikan penggusuran. Ada sekitar 800 personel aparat gabungan yang turun.

Beberapa alat berat tampak sibuk mengais dan merubuhkan bangunan semi permanen. Bagi warga yang telah memilih kapling, tampak dengan rela membongkar bangunannya sendiri, dan memilih barang-barang yang masih layak digunakan.

 

“Mereka yang membongkar sendiri itu sudah dapat kapling,” ujar seseorang dari pihak perusahaan.

Peristiwa penggusuran yang berlangsung damai ini memang sulit ditemui. Di beberapa kesempatan, penggusuran berlangung gaduh.

Tak jarang menemui jalan buntu. Muntahan gas air mata tak pernah lepas. Barangkali sejumlah investor yang ingin menggusur rumah-rumah serta bangunan liar, tampaknya harus belajar dari penggusuran di Kampung Agas, Tanjunguma, Jodoh, Batam ini.***

(snw)