Penggusuran di Bengkong

Jeritan yang Tenggelam dalam Butiran Debu Penggusuran

Jeritan yang Tenggelam dalam Butiran Debu Penggusuran

Warga menyaksikan penggusuran permukiman Kampung Harapan Swadaya, Bengkong Sadai, Batam (Foto: Edo/Batamnews)

Tatapan kosong dari cahaya mata yang redup sebagian masyarakat mengantarkan aksi aparat berseragam meluluh-lantakkan pemukiman warga Kampung Harapan Swadaya, Kelurahan Sadai, Bengkong, Batam, Rabu (1/2/2017).

Sebagian lainnya, melotot dengan sinar kebencian dan amarah yang memuncak, namun mereka menahan murka, sebab tak berdaya melawan aparat bersenjata yang mengawal aksi penggusuran itu.

Tiga buldozer bergerak bergemuruh dengan tangkai tangannya yang mencengkram ganas, meremukkan bangunan laksana kerupuk dan menghempaskannya ke atas lahan yang diklaim sebagai lahan milik PT Glory Point.

Seorang wanita mencoba mengadang laju buldozer. Namun apa daya, dengan mudah ditepis aparat gabungan Polri-TNI yang membantu Satpol PP Pemko Batam.

Tentu sangat berat bagi warga untuk hengkang dari kampung ini. "Saya sudah bertahun-tahun di sini, rumah permanen saya bangun dari hasil keringat saya, sekarang rata dengan tanah," kata Habibi (32) pria yang rumahnya di samping panti asuhan Nur Muthmainnah.

Habibi bersama warga lainnya akhirnya menjadi saksi hidup penggusuran ini. Mereka kebingungan setelah penggusuran ini hendak bermukim di mana lagi.

"Saya bingung mau bawa anak dan istri ke mana, saya tidak bekerja lagi, mau kos uang tidak ada, sementara barang-barang masih dikumpulkan di fasum," ujar Habibi dengan mata berkaca-kaca memikirkan nasib tiga anak dan istrinya.

Rumah permanen dibangun atas dasar adanya Surat Keputusan Bersama(SKB). Dan tidak akan menyangka menjadi seperti sekarang ini. Puluhan keluarga meratapi nasib mereka yang kehilangan tempat tinggal.

Mereka berharap adanya solusi dari pemerintah, agar tak mengabaikan nasib mereka yang sudah kehilangan tempat tinggal. "Tolonglah perhatikan nasib kami yang tertindas ini," kata Habibi lagi.

Warga kampung ini sangat cemas dengan penggusuran ini. Bahkan mereka sampai tak makan semalam, tentu mata pun tak mampu terpejam. Wajah-wajah lapar dan lelah mengantarkan penggusuran ini.

Teramat lapar, salah satu di antara warga sampai memohon untuk diberikan makanan. "Pak, bisa minta kuenya karena sejak malam kami tidak makan, karena harus bereskan barang-barang," ujar seorang perempuan di lokasi sebuah panti asuhan di kampung tergusur itu.

Wajahnya tampak lemah. Air matanya tak terbendung sembari mengunyah makanan yang diberikan anggota Ditpam BP Batam.

Lain lagi reaksi seorang perempuan berpakaian batik. Ia berteriak-teriak histeris melihat aksi penggusuran kampung itu. "kalian (tim terpadu) tidak punya hati, di sini ada anak anak panti asuhan, di sini ada gereja, di sini rakyat kecil diinjak injak tanpa rasa iba sedikitpun." Ia berusaha menghalangi alat berat jenis belko di lokasi.

Hanya seorang wanita, tentu perkara mudah bagi aparat untuk menghalaunya. Si perempuan itu lalu berusaha mengajak warga agar memprotes aksi itu. Sejumlah polisi wanita menghampiri dan berusaha menenangkannya. Dalam keadaan tak berdaya, perempuan ini tetap berteriak, "air mata yang keluar sebagai doa saya kepada Tuhan, agar Tuhan mendengar jerit hati orang miskin."

Namun, jeritannya itu tenggelam dalam butiran debu yang berterbangan seolah menjadi isyarat agar ia bersama warga lainnya segera angkat kaki dari tanah itu. Buldozer tetap bergumuruh hingga titik akhir penggusuran.***

(aha)