Ini Saksi Hidup Peristiwa Tragis di Camp Vietnam Galang

Ini Saksi Hidup Peristiwa Tragis di Camp Vietnam Galang

Bekas kamp pengungsi Vietnam di Pulau Galang. (foto: ist/net)

Indrawan


BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Tahun 1996 merupakan saat terakhir pengungsi di Camp Vietnam yang berada di Desa Sijantung, Pulau Galang, Kepri menghuni perkampungan seluas 80 hektare itu. Banyak peristiwa dan rentetan sejarah yang ditinggalkan sekitar 250.000 pengungsi tersebut di Camp Vietnam Pulau Galang.

Se Ta Che (81), seorang saksi sejarah dan sekaligus biksu relawan yang berasal dari Tanjungpinang. Ia ditunjuk pemerintah Indonesia kala itu untuk menjadi relawan spiritual sekaligus mendampingi para pengungsi.

"Pada tahun 1975 saya ditunjuk pemerintah Indonesia sebagai relawan spritual untuk pengungsi Vietnam di Pulau Galang," kata Se Ta Che di Vihara Kamp Vietnam beberapa waktu lalu.

Se Ta Che lalu bercerita, ia mengisahkan bagaimana proses para pengungsi tersebut bisa ditempatkan di Pulau Galang. Para pengungsi Vietnam tersebut mulai datang pada tahun 1975, diawali dengan terdamparnya sebanyak 75 orang di Pulau Bintan.

"Yang 75 orang ditampung di Vihara Tanjungpinang, kemudian pengungsi yang lain berdatangan. Setelah itu PBB melalui pemerintah Indonesia menunjuk Pulau Galang sebagai tempat pencari suaka dari Vietnam," ungkap Se Ta Che.

Sambungnya, semenjak itu ribuan orang pengungsi singgah di Galang. Mereka datang dan pergi bergantian. Ia mengatakan, pada masa itu ia aktif sebagai relawan spiritual mengisi siraman rohani di vihara.

Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama, kemudian PPB melarang warga setempat untuk berinteraksi dengan pengungsi. Hal itu untuk dilakukan untuk mengantisipasi penularan wabah penyakit yang dibawa para pengungsi atau yang waktu itu disebut penyakit Vietnam Rose.

"Semenjak dilarang saya hanya bisa masuk ke pengungsian satu atau dua minggu sekali, itu pun kalau ada bantuan masuk," kata biksu yang sudah 20 tahun bermukim di Pulau Galang ini.

Kemudian pada tahun 1995 pemerintah Indonesia meminta kepada PBB melalui UNHCR (United Nation High Comissioner for Refugees) agar Pulau Galang dikosongkan dari pengungsi.

"Terakhir sisanya tahun 1996 sebanyak 6.000 orang pengungsi Vietnam menolak untuk dipulangkan ke negaranya karena menganggap masih terancam," kata Se Ta Ceh.

Pada masa itu, kata dia, kejiwaan banyak pengungsi banyak yang terganggu. Sehingga terjadi peristiwa-peristiwa tragis seperti penyiksaan, pemerkosaan, hingga bunuh diri.  "Akhirnya peristiwa itu dapat diredam," kata biksu.

Pada akhir 1996 kamp pengungsian di Pulau Galang sudah dikosongkan. Jejak-jejak manusia perahu di pulau Galang itu masih tersisa hingga kini.

(isk)

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :