Jeritan Hati Ibu di Batam: Lagu "Jangan Sakiti Anak Kami" Jadi Suara Dugaan Kekerasan oleh Guru

Jeritan Hati Ibu di Batam: Lagu "Jangan Sakiti Anak Kami" Jadi Suara Dugaan Kekerasan oleh Guru

Jeritan Hati Seorang Ibu di Batam, Tuangkan Dugaan Kekerasan Anak Lewat Lagu “Jangan Sakiti Anak Kami”, Sabtu (06/06/2026) (Foto. Batamnews.co.id).

Nurjali

Batam, Batamnews - Rasa sakit, kekecewaan, dan perjuangan seorang ibu mencari keadilan untuk anaknya kini dituangkan dalam sebuah lagu berjudul "Jangan Sakiti Anak Kami".

Lagu ini diambil dari pengalaman Sri Suryati, orang tua murid Playgroup Swasta Djuwita Batam, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, yang dinyanyikan dan diciptakan oleh musisi Michael Bennett. Karya ini lahir dari pengalaman pribadi Sri yang mengaku anaknya menjadi korban dugaan kekerasan oleh seorang oknum guru di sekolah tersebut.

Dalam video lagu bagian awal, tampak sang anak menunjuk foto seorang guru yang diduga melakukan tindakan tersebut.

Baca juga: Dua Eks Pekerja First Club Dituntut 7 Tahun Penjara dalam Kasus Ekstasi dan Vape Narkotika

"Yang ini, Miss pukul," ujar anak itu kepada ibunya.

Sri mengaku lagu tersebut merupakan ungkapan perasaan terdalamnya sebagai seorang ibu.

"Ini jeritan hati saya. Saya ingin menyampaikan bahwa anak-anak harus dilindungi dan tidak boleh menjadi korban kekerasan dalam bentuk apa pun," ujar Sri, Sabtu, 6 Juni 2026.

Lagu itu juga dikampanyekan secara nasional dengan pesan "Save Anak Indonesia".

Sebelumnya, perjuangan Sri mencari kejelasan atas dugaan kekerasan terhadap anaknya menjadi perhatian publik setelah muncul pemberitaan terkait dugaan aksi premanisme di lingkungan sekolah.

Sri membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan kedatangannya ke sekolah bersama sejumlah orang pada 21 April 2026 bukan tindakan intimidasi.

"Kehadiran kami di sana bukan untuk melakukan intimidasi atau premanisme. Itu bagian dari pertemuan internal dengan karyawan saya," kata Sri.

Ia menjelaskan, hari itu dirinya sedang menggelar rapat bersama sejumlah karyawan untuk membahas operasional usaha. Setelah rapat, ia berencana melanjutkan ke kantor di dekat BCS namun sempat berbelok arah dan diikuti beberapa karyawan.

Menurut Sri, tidak ada tindakan anarkis selama di lokasi sekolah. Ia datang hanya untuk meminta klarifikasi dan dokumentasi terkait dugaan kekerasan yang dialami anaknya.

"Saya duduk dan berdiskusi. Orang-orang yang bersama saya juga tidak melakukan kekerasan," tegasnya.

Sri mengakui beberapa karyawan sempat menunjukkan reaksi emosional. Namun menurutnya itu hal manusiawi ketika mendengar dugaan perlakuan tidak layak terhadap anak.

"Tapi tidak ada pemukulan, perusakan, ataupun ancaman," ujarnya.

Ia pun meminta rekaman CCTV dibuka secara utuh. "Silakan buka CCTV secara lengkap supaya masyarakat bisa menilai dengan objektif," ucap Sri.

Di tengah proses yang masih berjalan, Sri mengaku kecewa karena hingga kini belum memperoleh penjelasan memuaskan dari pihak sekolah.

"Saya kecewa karena tidak ada kejelasan dan bukti yang diberikan," ungkapnya.

Baca juga: Polisi Pastikan Video Pocong Bawa Parang di Batu Aji Batam Rekayasa AI

Meski demikian, ia menegaskan akan terus menempuh jalur hukum demi mendapatkan keadilan bagi sang buah hati.

Bagi Sri, lagu "Jangan Sakiti Anak Kami" bukan sekadar karya musik. Melainkan suara hati seorang ibu yang tidak akan tinggal diam ketika anaknya disakiti.

Lagu itu menjadi suara seorang ibu yang berharap tidak ada lagi anak yang mengalami perlakuan serupa, sekaligus pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan terlindungi.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :