Suhu Bisa Tembus 29 Derajat! Singapura Bersiap Hadapi Hari Terpanas Imbas El Nino
Foto tahun lalu saat kabut asap melanda Singapura.
Singapura, Batamnews – Warga Singapura disarankan bersiap menghadapi cuaca yang lebih panas dan kering dalam beberapa bulan mendatang. Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) dan Layanan Cuaca Singapura (MSS) memperingatkan bahwa kondisi El Nino kemungkinan akan mulai terbentuk pada Juni 2026.
El Nino, yang merupakan fenomena alam akibat pemanasan suhu permukaan laut, disebut memiliki peluang lebih dari 80 persen untuk terjadi antara Juni dan Juli 2026. Pada saat yang sama, fenomena serupa yang disebut Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga diprediksi berkembang di tahun ini.
"Jika keduanya terjadi bersamaan, suhu akan meningkat dan curah hujan di Singapura serta kawasan regional bisa menurun hingga Oktober mendatang," demikian pernyataan gabungan MSS dan NEA, Jumat, 29 Mei 2026.
Baca juga: Plh. Kepala BP Batam Li Claudia Chandra Tinjau Pengerjaan Peningkatan Jalan dan Drainase
Kombinasi kedua fenomena itu juga disebut meningkatkan risiko kabut asap lintas batas yang selama ini kerap mengganggu kualitas udara di Singapura.
MSS menjelaskan, El Nino biasanya paling terasa saat musim monsun barat daya berlangsung, yakni dari Juni hingga September. Pada periode itu, curah hujan kerap turun drastis.
Contohnya pada peristiwa El Nino kuat di tahun 2015, curah hujan di Singapura tercatat 35 persen di bawah rata-rata. Suhu pun cenderung naik. Tahun 2016 misalnya, suhu rata-rata antara Maret dan Mei mencapai 29,2 derajat Celsius—satu derajat lebih tinggi dari rata-rata jangka panjang.
Catatan itu menjadikan 2016, bersama 2019 dan 2024, sebagai tahun-tahun terpanas di Singapura.
Meski El Nino diprediksi bermula dengan kekuatan sedang, MSS dan NEA memperingatkan bahwa fenomena itu bisa menguat antara Agustus dan September.
Selain El Niño, perhatian juga tertuju pada potensi IOD positif yang diprediksi muncul antara Juli dan Agustus. IOD positif biasanya mendinginkan suhu permukaan laut di timur Samudra Hindia, yang berakibat pada berkurangnya pembentukan awan dan cuaca yang lebih kering.
Tahun 1997 menjadi rekor tahun terkering di Singapura, saat El Nino dan IOD positif terjadi bersamaan.
Dengan kondisi panas dan kering yang berkepanjangan, risiko kebakaran lahan gambut dan vegetasi di negara-negara tetangga meningkat. Jika angin bertiup membawa asap ke arah Singapura, kabut asap lintas batas bisa mengganggu kualitas udara.
"Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih intens dan berkepanjangan dibanding tahun-tahun terakhir, bahkan bisa berlangsung hingga Oktober," ujar NEA.
Baca juga: Mulai 1 Juli 2026, Aktivasi Kartu SIM Baru Harus Pakai Foto Wajah Face Recognition
NEA memastikan bahwa badan-badan dalam Gugus Tugas Kabut Asap (Haze Task Force) telah siap mengaktifkan rencana penanganan jika kondisi memburuk.
Masyarakat diimbau untuk memantau pembacaan kadar PM2.5 satu jam sekali saat merencanakan aktivitas luar ruangan. Untuk rencana keesokan harinya, warga disarankan mengecek prakiraan Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam dan saran kesehatan yang menyertainya.
NEA juga mengingatkan agar warga memastikan pembersih udara (air purifier) di rumah berfungsi dengan baik. Informasi terkini mengenai kondisi panas dan kabut asap bisa diakses melalui aplikasi myENV dan laman web stres panas milik MSS.

Komentar Via Facebook :