Sekolah dan Dunia Kerja: Masihkah Sejalan?

Sekolah dan Dunia Kerja: Masihkah Sejalan?

Dr. Ramdani, M. Pd., M.H, Akademisi Universitas Riau Kepulauan. (Foto: istimewa)

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Dr. Ramdani, M.Pd

Setiap kali Hari Pendidikan Nasional tiba, kita kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama: sejauh mana pendidikan benar-benar mempersiapkan generasi muda menghadapi kehidupan nyata? 

Di tengah perubahan dunia kerja yang begitu cepat, pertanyaan itu menjadi semakin relevan bahkan mendesak.

Di kota industri seperti Batam, misalnya, geliat ekonomi berjalan beriringan dengan kebutuhan tenaga kerja yang terus berkembang. 

Kawasan industri tumbuh, investasi berdatangan, dan peluang kerja terbuka. Namun, di sisi lain, tidak sedikit lulusan sekolah yang justru masih kesulitan menembus dunia kerja. Mereka membawa ijazah, tetapi sering kali belum cukup percaya diri menghadapi tuntutan lapangan.

Di sinilah kita melihat sebuah jarak yang tidak kasatmata, tetapi nyata dampaknya: jarak antara sekolah dan dunia kerja. Sekolah berjalan dengan logika akademiknya, sementara dunia kerja bergerak dengan logika kebutuhan dan kompetensi. Keduanya penting, tetapi tidak selalu saling terhubung secara erat.

Selama ini, keberhasilan pendidikan kerap diukur dari capaian-capaian formal nilai ujian, kelulusan, dan serangkaian indikator administratif lainnya. Ukuran-ukuran tersebut memang penting, tetapi belum cukup. Dunia kerja tidak hanya menanyakan seberapa tinggi nilai seseorang, melainkan juga seberapa mampu ia berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan beradaptasi dengan perubahan.

Sayangnya, dimensi-dimensi tersebut belum sepenuhnya menjadi arus utama dalam praktik pembelajaran di sekolah. Proses belajar masih sering berpusat pada penyampaian materi, bukan pada pengembangan kemampuan. Siswa mengenal banyak konsep, tetapi tidak selalu memiliki kesempatan untuk menggunakannya dalam konteks nyata. Akibatnya, ketika dihadapkan pada persoalan konkret, mereka cenderung ragu dan kurang siap.

Kondisi ini diperkuat oleh belum optimalnya hubungan antara sekolah dan dunia kerja. Gagasan tentang keterkaitan dan kesepadanan sering digaungkan, tetapi dalam praktiknya masih bersifat terbatas. Dunia industri berjalan dengan kebutuhan yang dinamis, sementara sekolah kerap terikat pada pola yang relatif tetap. Akibatnya, lulusan yang dihasilkan tidak selalu selaras dengan kebutuhan yang ada.

Dampaknya tidak sederhana. Pengangguran terdidik menjadi salah satu fenomena yang terus berulang. Di saat yang sama, pelaku industri mengeluhkan sulitnya menemukan tenaga kerja yang siap pakai. Situasi ini menunjukkan adanya ketidaksinkronan yang perlu segera dijembatani.

Lebih jauh, persoalan ini mengajak kita untuk meninjau kembali cara kita memaknai pendidikan. Apakah sekolah hanya menjadi ruang untuk mentransfer pengetahuan, ataukah ia juga menjadi ruang untuk membentuk kesiapan hidup? Jika pendidikan dimaknai secara sempit, maka wajar jika hasilnya pun terbatas.

Sudah saatnya pembelajaran di sekolah bergerak ke arah yang lebih kontekstual. Pendekatan berbasis proyek, pemecahan masalah, dan pengalaman langsung perlu diperkuat. Siswa tidak hanya belajar “tentang sesuatu”, tetapi juga belajar “melakukan sesuatu”. Dengan demikian, pengetahuan tidak berhenti pada hafalan, melainkan menjadi alat untuk memahami dan menghadapi realitas.

Di sisi lain, penguatan keterampilan nonteknis perlu menjadi perhatian utama. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, dan beradaptasi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi penting dalam dunia kerja yang terus berubah. Sekolah memiliki peran strategis untuk menumbuhkan kemampuan-kemampuan tersebut sejak dini.

Tidak kalah penting, kemitraan antara sekolah dan dunia kerja perlu dibangun secara lebih substantif. Program magang yang bermakna, keterlibatan praktisi dalam pembelajaran, hingga ruang kolaborasi yang berkelanjutan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan kebutuhan industri dengan proses pendidikan. Dengan cara ini, sekolah tidak berjalan sendiri, dan dunia kerja tidak kehilangan arah dalam mencari talenta. 

Pada akhirnya, Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar seremoni. Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah pendidikan kita masih relevan dengan kebutuhan zaman? Apakah sekolah telah benar-benar mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi kehidupan, termasuk dunia kerja?

Jika jawabannya belum sepenuhnya, maka pembenahan tidak bisa ditunda. Pendidikan perlu dilihat sebagai proses menyiapkan manusia untuk hidup secara utuh bukan sekadar untuk lulus. Di situlah, seharusnya, sekolah dan dunia kerja kembali dipertemukan: dalam satu tujuan yang sama, yaitu membentuk manusia yang mampu belajar, bekerja, dan berkontribusi di tengah perubahan zaman.

------

Penulis adalah Akademisi Universitas Riau Kepulauan

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :