Orangtua, Lembaga Pendidikan dan Urgensinya Adab

Orangtua, Lembaga Pendidikan dan Urgensinya Adab

Fatmawati.

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Fatmawati, S.Pd.I

Di tengah derasnya arus digital, kita menyaksikan ironi yang semakin nyata: anak-anak tumbuh makin cerdas secara teknologis, tetapi belum tentu makin matang secara moral. Ini bisa dilihat dari berbagai jenjang. Dari SD hingga pendidikan tinggi. Mereka cepat menguasai gawai, fasih menavigasi media sosial, bahkan kritis dalam menyampaikan pendapat. Namun pada saat yang sama, kita juga kerap mendengar kabar tentang menurunnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, lunturnya empati, serta menguatnya budaya instan yang lebih mengutamakan hasil daripada proses. Pertanyaannya, apakah pendidikan hari ini terlalu sibuk mengejar prestasi, tetapi lupa menanamkan adab?

Dalam khazanah pendidikan, adab bukan sekadar sopan santun di permukaan. Adab adalah tata laku yang lahir dari kesadaran akan nilai, penghormatan kepada sesama, dan kemampuan menempatkan sesuatu secara proporsional. Syed Muhammad Naquib al-Attas, misalnya, memandang adab sebagai pengenalan dan pengakuan akan tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam tatanan kehidupan. Dalam konteks pendidikan, ini berarti anak tidak hanya diajarkan apa yang benar, tetapi juga dibimbing untuk mencintai kebenaran dan membiasakan diri hidup di dalamnya.

Di sinilah persoalan mendasar pendidikan kita muncul. Pendidikan sering dipahami sebatas proses transfer pengetahuan dan keterampilan. Sekolah berlomba menghasilkan siswa berprestasi, orang tua sibuk mencari lembaga terbaik, sementara ukuran keberhasilan anak sering kali direduksi menjadi angka rapor, sertifikat lomba, atau capaian akademik lain. Padahal, masyarakat yang sehat tidak hanya dibangun oleh individu cerdas, melainkan oleh manusia yang beradab. Kepandaian tanpa adab berpotensi melahirkan generasi yang kompetitif tetapi kering empati, berani berbicara tetapi miskin hormat, dan produktif tetapi kehilangan arah moral.

Keluarga merupakan sekolah pertama dan paling menentukan dalam menanamkan adab. Sebelum anak mengenal ruang kelas, ia lebih dulu belajar dari ruang makan, ruang tamu, dan cara orang tuanya berbicara sehari-hari. Dari keluargalah anak pertama kali memahami makna menghormati, mendengar, meminta maaf, menunggu giliran, serta membedakan hak dan kewajiban. Maka, pendidikan adab sesungguhnya tidak dimulai dari nasihat panjang, melainkan dari keteladanan yang konsisten.

Anak belajar adab bukan terutama dari ceramah, tetapi dari contoh konkret. Ketika ayah berbicara santun kepada ibu, ketika ibu menghargai pendapat anak tanpa merendahkan, ketika orang tua meminta maaf setelah berbuat salah, saat itu sebenarnya pendidikan adab sedang berlangsung. Dalam psikologi sosial, proses ini dikenal sebagai pembelajaran melalui peneladanan. Anak menyerap perilaku bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang dilihat berulang-ulang. Maka, tidak cukup bagi orang tua mengatakan “harus sopan” jika rumah justru dipenuhi bentakan, sindiran, atau komunikasi yang kasar.

Sayangnya, tantangan keluarga modern tidak ringan. Era digital menghadirkan banyak kemudahan, tetapi juga membawa gangguan serius terhadap proses pembentukan adab. Anak hidup dalam banjir informasi, namun minim pendampingan makna. Konten-konten singkat membentuk kebiasaan serba cepat; budaya viral membiasakan reaksi spontan tanpa refleksi; dan algoritma media sosial sering kali lebih kuat membentuk karakter daripada nasihat orang tua. Di sisi lain, sebagian orang tua juga terjebak dalam pola parenting instan: ingin anak cepat patuh, cepat pintar, cepat sukses, tetapi kurang sabar dalam proses pembiasaan nilai.

Krisis nilai ini makin terasa ketika rumah tangga dan lembaga pendidikan berjalan sendiri-sendiri. Banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya tugas pembentukan karakter kepada sekolah. Sebaliknya, sekolah kerap menganggap nilai-nilai dasar seharusnya sudah ditanamkan di rumah. Akibatnya, anak berada di tengah dua institusi yang saling berharap, tetapi kurang berkolaborasi. Padahal, pendidikan berbasis adab hanya dapat tumbuh kuat jika keluarga dan lembaga pendidikan saling menguatkan, bukan saling melempar tanggung jawab.

Lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam meneguhkan adab sebagai ruh pendidikan. Sekolah bukan sekadar tempat mengajar mata pelajaran, melainkan ruang sosial tempat anak belajar hidup bersama orang lain. Di sekolah, anak berlatih menghormati guru, bekerja sama dengan teman, menerima perbedaan, menaati aturan, dan bertanggung jawab atas tindakannya. Semua itu adalah bagian dari pendidikan adab yang konkret.

Namun, lembaga pendidikan perlu berhati-hati agar pendidikan adab tidak berhenti pada slogan dinding atau tata tertib administratif. Adab bukan hanya soal seragam rapi, datang tepat waktu, atau mengucap salam, meski itu penting. Adab juga menyangkut budaya dialog, penghargaan terhadap martabat siswa, kejujuran akademik, etika dalam menggunakan teknologi, dan cara guru memperlakukan murid sebagai manusia yang sedang bertumbuh. Sekolah yang berbasis adab adalah sekolah yang menyeimbangkan disiplin dengan kasih sayang, aturan dengan keteladanan, serta prestasi dengan integritas.

Dalam hal ini, guru memegang posisi yang amat penting. Seorang guru bukan hanya pengajar, melainkan figur moral di mata siswa. Ucapan guru, cara ia menghadapi murid yang lemah, bagaimana ia merespons kesalahan, semuanya menjadi pelajaran yang sering lebih membekas daripada materi ajar. Ki Hadjar Dewantara pernah menegaskan, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Gagasan ini mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati tidak dibatasi tembok lembaga, tetapi berlangsung dalam ekosistem keteladanan. Sekolah yang baik akan memperluas nilai-nilai baik dari rumah, bukan menggantikannya.

Karena itu, strategi menumbuhkan pendidikan berbasis adab perlu dilakukan secara bersama-sama. Di lingkungan keluarga, orang tua perlu membangun budaya rumah yang sehat: membiasakan dialog yang hormat, menetapkan aturan yang konsisten, membatasi penggunaan gawai dengan pendampingan, dan menyediakan waktu khusus untuk interaksi bermakna. Kebiasaan sederhana seperti makan bersama tanpa ponsel, membiasakan anak mengucapkan terima kasih, atau melibatkan mereka dalam pekerjaan rumah dapat menjadi latihan adab yang sangat kuat.

Di lingkungan sekolah, pendidikan adab dapat diperkuat melalui integrasi nilai dalam seluruh aktivitas, bukan hanya dalam mata pelajaran agama atau pendidikan karakter. Guru matematika pun dapat menanamkan kejujuran, guru olahraga dapat menanamkan sportivitas, dan guru bahasa dapat mengajarkan etika berkomunikasi. Sekolah juga perlu membangun kemitraan aktif dengan orang tua melalui forum dialog, parenting class, atau evaluasi bersama tentang perkembangan perilaku anak. Ketika rumah dan sekolah memakai bahasa nilai yang sama, anak akan lebih mudah membangun konsistensi sikap.

Yang tak kalah penting, pendidikan berbasis adab harus dipahami sebagai investasi peradaban, bukan sekadar kebutuhan domestik. Keluarga yang menanamkan adab sedang membentuk warga masa depan. Sekolah yang menjaga adab sedang merawat kualitas masyarakat. Sebab bangsa tidak hanya runtuh karena kurangnya orang pintar, tetapi sering kali karena hilangnya orang-orang yang tahu cara menggunakan kepintarannya dengan benar.

Akhirnya, kita perlu jujur mengakui: mendidik anak beradab tidak semudah membuat mereka berprestasi. Prosesnya lebih panjang, tidak selalu terlihat hasilnya secara instan, dan menuntut keteladanan dari orang dewasa. Tetapi justru di situlah letak kemuliaannya. Pendidikan berbasis adab adalah upaya membentuk manusia seutuhnya manusia yang cerdas akalnya, lembut hatinya, dan tepat tindakannya.

Maka, sudah waktunya orang tua dan lembaga pendidikan berhenti berjalan sendiri-sendiri. Rumah harus kembali menjadi taman pertama bagi tumbuhnya adab, dan sekolah harus menjadi ruang yang menyuburkan nilai itu dengan sadar dan konsisten. Jika kita ingin masa depan yang lebih manusiawi, maka pendidikan berbasis adab tidak boleh lagi diposisikan sebagai pelengkap. Ia harus menjadi pondasi. Sebab dari adab lah ilmu menjadi bermakna, relasi menjadi sehat, dan peradaban menemukan arah yang benar.

-----

Penulis adalah Founder Bintan Islamic Parenting (BIP) dan Ibu Empat Anak 

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :