Tepis Isu Eksploitasi, Apindo Sebut Magang Solusi Bagi SDM Tingkatkan Skill
Ilustrasi pekerja (Pexels.com/energepic.com)
Jakarta, Batamnews – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) akhirnya buka suara menanggapi tudingan miring soal program magang.
Selama ini, banyak anggapan bahwa skema magang sengaja dimanfaatkan perusahaan sebagai cara licik untuk mendapatkan tenaga kerja dengan upah murah. Namun, pengusaha dengan tegas membantah hal tersebut.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, menegaskan bahwa magang sejatinya adalah proses pembelajaran yang krusial bagi seseorang sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja profesional.
“Enggak, sekarang magang proses supaya dia bisa bekerja,” ujar Bob di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (14/4/2026).
Menurut Bob, fakta di lapangan menunjukkan banyak calon tenaga kerja yang memiliki kualitas pendidikan rendah dan tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Magang hadir sebagai solusi untuk memoles kemampuan mereka agar bisa bersaing.
“Karena banyak yang kita tes, terutama yang pendidikannya kualitasnya rendah, begitu itu tidak diterima. Nah, begitu dimagangin, tiga bulan, enam bulan, eh dia bisa perform,” jelasnya.
Ia juga menepis mentah-mentah anggapan bahwa motif utama perusahaan menjalankan program magang adalah demi efisiensi biaya atau menekan gaji karyawan.
“Bukan (magang dilakukan demi tekan biaya),” katanya.
Bob tidak menampik bahwa imbalan yang diterima peserta magang memang di bawah gaji karyawan tetap. Namun, ia menilai hal tersebut sangat wajar karena status mereka masih dalam tahap belajar dan belum memikul tanggung jawab penuh sebagai pekerja tetap.
“Cuma kan disalah artikan magang upah murah lah, ya enggak mungkin magang gajinya sama yang udah jadi karyawan. Pasti lebih rendah, tapi begitu sekian bulan dia punya keterampilan, kemampuan, kemampuan yang kita harapkan,” ujarnya.
Senada dengan Bob, Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Darwoto, juga meluruskan definisi pendapatan yang diterima pemagang. Secara regulasi, peserta magang tidak menerima upah formal seperti buruh pada umumnya, melainkan uang saku sebagai penunjang belajar.
“Kadang-kadang kita melaksanakan magang dikira memang itu upah-upah murah dan lain sebagainya, padahal kita tahu bahwa pemagangan itu memang yang ada bukan upah tapi uang saku,” ujar Darwoto.
Bagi Apindo, program magang adalah jembatan emas untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Hal ini menjadi sangat penting karena sistem pendidikan formal seringkali belum mampu mencetak lulusan yang langsung "siap pakai" di dunia industri.
Dengan skema yang tepat, magang bukan tentang eksploitasi, melainkan pembekalan agar pencari kerja lebih siap menghadapi tantangan pasar kerja yang semakin kompetitif.

Komentar Via Facebook :