Harga Dolar Terhadap Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000, Perang hingga Suku Bunga AS
ilustrasi
Jakarta, Batamnews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mendekati ambang psikologis Rp17.000 di akhir pekan ini. Mata uang Garuda ditutup melemah 75 poin atau 0,45 persen ke posisi Rp16.975 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg, Jumat, 27 Maret 2026.
Situasi ini terjadi di tengah kabut ketidakpastian yang masih menyelimuti pasar keuangan global. Dua sumber utama tekanan berasal dari eskalasi geopolitik dan kebijakan moneter AS.
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah belum juga mereda. Keputusan Presiden AS, Donald Trump, untuk menunda serangan dan mengerahkan pasukan darat justru menambah kekhawatiran pasar.
Baca juga: Daftar Negara dengan Kenaikan Harga BBM Tertinggi Imbas Perang Iran vs AS-Israel, Ada Tetangga Batam
Sementara itu, proposal perdamaian yang diajukan Trump melalui Pakistan dinilai sepihak oleh Iran. Teheran menyebut tawaran itu tidak adil, sehingga prospek resolusi konflik masih jauh dari kata pasti.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa dampak dari konflik ini sangat nyata terhadap pasokan energi.
"Perang telah mengurangi pasokan minyak global sebesar 11 juta barel per hari. Badan Energi Internasional menggambarkan krisis ini lebih buruk dari krisis minyak tahun 1970-an," ujarnya, Jumat, 27 Maret 2026.
Ia menambahkan, situasi ini diperparah dengan krisis gas akibat perang Rusia-Ukraina. Kombinasi keduanya membuat pasar kini bersiap menghadapi skenario inflasi yang tinggi.
Akibatnya, pelaku pasar terpaksa mengubah ekspektasi mereka terhadap kebijakan bank sentral AS, The Fed. Keyakinan akan adanya pemangkasan suku bunga dua kali tahun ini mulai luntur. Bahkan, setelah The Fed mempertahankan suku bunga pada Februari lalu, pasar kini justru memperkirakan potensi pengetatan.
"Sebaliknya, pelaku pasar memperkirakan pengetatan suku bunga sebesar 12 basis poin oleh bank sentral AS. Suku bunga yang lebih tinggi akan membebani harga emas, sehingga mengurangi daya tariknya sebagai aset yang tidak menghasilkan," jelas Ibrahim.
Dari dalam negeri, kondisi ekonomi juga dinilai belum memberikan bantalan yang kuat. Ibrahim mencermati bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 kemungkinan tidak setinggi perkiraan pemerintah, diperkirakan sedikit di bawah target 5,4 persen.
Baca juga: Ringgit Menguat ke Level Tertinggi dalam 5 Tahun terhadap Dolar Singapura, Rupiah Tertinggal
"Perkiraan ini didasarkan pada pelaksanaan Hari Raya Lebaran tahun ini yang tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Hal ini membuat dorongan pelaksanaan Hari Raya terhadap pertumbuhan ekonomi jadi lebih terbatas," ucapnya.
Ia menambahkan, geliat ekonomi di sejumlah daerah yang masih terdampak bencana juga belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini turut menekan laju rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional di tengah gempuran faktor eksternal yang sedang tidak bersahabat.

Komentar Via Facebook :