Ketika Air Jadi Target Perang: Ancaman Kiamat di Tengah Konflik Iran-AS

Ketika Air Jadi Target Perang: Ancaman Kiamat di Tengah Konflik Iran-AS

Rudal diatas langit Israel terekam kamera warga.

Nurjali

Batam, Batamnews - Hidup di gurun tanpa listrik terasa mustahil. Tidak ada kulkas, pendingin ruangan, bahkan media sosial. Tiga hari tanpa air, nyawa melayang. Inilah taruhan di balik ketegangan baru di Teluk yang kini bernama Perang Teluk.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman terbuka: Iran akan "dihancurkan" pasokan listriknya.

"Iran harus membuka sepenuhnya Selat Hormuz tanpa ancaman dalam 48 jam sejak saat ini. Jika tidak, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar," tulis Trump di media sosialnya kemarin 22 Maret 2026.

Baca juga: Viral di Thailand, Antre BBM Pakai Tenda demi Dapatkan Solar

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, tak tinggal diam. Dalam pernyataannya tadi malam, ia membalas: "Begitu pembangkit listrik dan infrastruktur kami menjadi sasaran, maka infrastruktur kritis, energi, dan fasilitas minyak di seluruh kawasan akan kami anggap sebagai target sah dan akan dihancurkan secara permanen."

Balasan itu berarti fasilitas produksi minyak, pusat transportasi, dan instalasi desalinasi air—yang di Timur Tengah nilainya lebih berharga dari minyak—resmi masuk daftar sasaran.

Ginger Matchett, ahli geostrategi dari Atlantic Council, memperingatkan: "Menyerang infrastruktur air dan peralatan kritis di negara-negara Teluk bisa membuat mereka kehilangan sebagian besar air minum hanya dalam hitungan hari, dan menghadapi krisis air nasional yang berlangsung berbulan-bulan. Risikonya sangat serius. Serangan sistematis terhadap instalasi desalinasi dapat memperdalam ketidakstabilan kawasan dan memicu bencana kemanusiaan atau krisis migrasi."

Dan ancaman itu sudah mulai terjadi.

Sejak beberapa pekan lalu, Iran telah menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, hanya mengizinkan negara-negara sahabat seperti Rusia, China, dan India. Akibatnya, ekonomi negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk—Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi—tercekik. Pasokan global pun terkikis 20 persen.

Tapi negara-negara bijak sudah memiliki cadangan minyak 90 hari untuk keadaan darurat.

Namun, 60 juta penduduk di kerajaan gurun yang kaya minyak di sekitar Teluk Persia ini juga bergantung pada makanan impor. Sekitar 85 persen dari makanan mereka harus melewati Selat Hormuz. Mereka memang punya cadangan pangan: UAE disebut memiliki stok empat hingga enam bulan, Arab Saudi menyimpan stok gandum selama empat bulan di silo-silo raksasa.

Tapi masalah utamanya tetap air.

Tak satu pun negara Teluk memiliki sungai yang mengalir sepanjang tahun. Mereka mengandalkan akuifer bawah tanah—yang kini mulai mengering. Maka, dengan kekayaan minyaknya, mereka membangun jaringan besar instalasi desalinasi.

Kuwait dan Bahrain menggantungkan 90 persen air minumnya dari desalinasi. Di Qatar, angkanya mendekati 99 persen. Para analis memperkirakan, dalam sistem ini, cadangan air yang tersedia hanya cukup untuk satu hingga dua hari.

Sanam Mahoozi, analis Timur Tengah dari Universitas London, menjelaskan: "Dampaknya akan langsung terasa. Jika instalasi desalinasi besar tak berfungsi, pemerintah bisa menghadapi skenario pembatasan air darurat bagi jutaan warga dalam hitungan hari. Rumah sakit, sistem sanitasi, produksi pangan, dan industri akan terdampak bersamaan."

David Michael, analis pangan dan air dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), mengingatkan: "Perekonomian negara-negara Teluk bergantung pada minyak dan gas alam. Penduduknya bergantung pada air hasil desalinasi."

Guncangan minyak memang mendominasi berita global. Tapi kekhawatiran tentang air sudah terbukti sejak 7 Maret, hanya sepekan setelah Perang Teluk baru ini dimulai.

Instalasi desalinasi di Iran dan Bahrain diserang. Kementerian Dalam Negeri Bahrain menuduh Iran menyerang instalasinya dengan drone, menyebabkan 30 desa kehilangan pasokan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membalas dengan menuding Amerika Serikat menyerang instalasi pemurnian air di Pulau Qeshm.

Kuwait dan Uni Emirat Arab juga melaporkan kerusakan di beberapa fasilitas mereka.

Matchett memperingatkan: "Serangan ini memberi gambaran tentang potensi bahaya jika infrastruktur ini sengaja dan sistematis menjadi sasaran. Tanpa teknologi seperti ini, sekitar 100 juta orang di Timur Tengah tak akan memiliki akses rutin ke air minum."

Mahoozi menambahkan: "Efek berantainya akan jauh melampaui air minum. Sistem sanitasi akan mulai gagal, risiko kesehatan publik meningkat, dan aktivitas ekonomi bisa melambat drastis. Pariwisata, industri, dan layanan—semua pilar ekonomi negara-negara Teluk—bergantung pada pasokan air yang stabil."

Tidak ada satu serangan pun yang bisa menghentikan total pasokan air desalinasi. Ada sekitar 5.000 instalasi tersebar di Timur Tengah, sekitar 400 di antaranya berada di Teluk Persia, dalam jangkauan Iran.

Namun, segelintir instalasi raksasa-lah yang memproduksi sebagian besar air. Lima puluh enam fasilitas besar ini sebagian besar memasok kota-kota metropolitan di Teluk Persia.

"Konsentrasi dan kedekatan dengan Iran ini membuat infrastru desalinasi Teluk sangat rentan seiring meningkatnya pertukaran rudal dan drone," kata Matchett.

Presiden Trump disebut tidak siap dengan strategi balasan Iran.

"Lihat yang terjadi. Dalam dua minggu terakhir, mereka seharusnya tidak menyerang semua negara lain di Timur Tengah," kata Trump kepada wartawan pekan lalu. "Jadi, mereka menyerang Qatar, Arab Saudi, UAE, Bahrain, Kuwait. Tak ada yang menduga itu. Kami kaget."

Kini, Iran menolak tuntutan menyerah dalam 48 jam dari Trump.

"Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya dan tak akan dibuka sampai pembangkit listrik kami yang hancur dibangun kembali," ancam Pasukan Revolusi dalam pernyataan tadi malam.

Teheran justru menyalahkan Washington atas perang air yang mengintai. "AS yang menetapkan preseden ini, bukan Iran," kata Menteri Luar Negeri Iran awal bulan ini, merujuk pada serangan di Pulau Qeshm.

Negara-negara Teluk terjepit di tengah perang yang tak mereka inginkan.

"Kota seperti Doha, Dubai, Manama, dan Kuwait City tak akan mungkin ada tanpa desalinasi," ujar Michel dari CSIS. "Qatar dan Bahrain, khususnya, juga sangat bergantung pada desalinasi untuk industri. Lebih dari separuh produksi air desalinasi mereka digunakan untuk sektor seperti petrokimia dan pusat data."

Teheran, kata Michel, tahu persis kelemahan ini.

Baca juga: Targetkan Ribuan Titik, Militer Israel Pastikan Gempur Iran Hingga April

"Iran tidak bisa mengalahkan Amerika dan Israel secara militer, juga tak bisa mencegah mereka menyerang wilayah Iran sesuka hati. Iran mungkin menghitung bahwa mengancam pasokan air negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk bisa menjadi strategi asimetris yang efektif untuk perjuangan eksistensial mempertahankan rezim."

Menutup Selat Hormuz sudah mengganggu pasar energi dan pupuk global. Menyerang infrastruktur minyak dan air negara-negara Teluk akan semakin meningkatkan tekanan internasional bagi Presiden Trump.

Tujuan Teheran, menurut Michel, adalah "meningkatkan biaya dari kelanjutan konflik bagi pemerintah, ekonomi, dan publik jauh di luar Teluk Persia. Tujuannya bukan kemenangan militer, tapi daya ungkit strategis dalam perang gesekan politik, di mana Iran percaya bisa bertahan lebih lama daripada Amerika Serikat."

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :