Wagub Kepri Soroti Tragedi Tugboat Terbalik di Batam, Diduga Ada Kelalaian dan Putus Koordinasi
Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura. (Foto: Asrul/Batamnews)
Batam, Batamnews — Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Harris Pratamura, angkat bicara menyoroti tragedi kecelakaan kerja yang merenggut nyawa tiga awak kapal di kawasan galangan kapal PT ASL Shipyard Indonesia, Tanjung Uncang, Batam.
Ia menduga adanya unsur kelalaian serta putusnya koordinasi sebagai pemicu utama terbaliknya kapal tunda (tugboat) saat proses penyandaran kapal berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul insiden yang melibatkan sebuah tugboat ketika melakukan asistensi terhadap kapal kargo raksasa berukuran sekitar 200.000 Gross Tonnage (GRT) yang hendak melakukan proses docking di galangan kapal tersebut.
Berdasarkan kesaksian korban yang selamat, gelombang serta arus kuat yang ditimbulkan oleh olah gerak kapal assist tug berukuran besar memicu kemiringan ekstrem hingga kapal tunda akhirnya terbalik hingga sekitar 45 derajat.
"Kegiatan di sana itu ada port captain-nya, ada pandu, dan tundanya. Tadi disampaikan oleh korban selamat bahwa arus dari kapal assist tug yang besar itu menimbulkan gelombang dari kanan dan kiri, makanya bisa kebalik," ungkap Nyanyang.
Lebih lanjut, Wagub Kepri menegaskan pentingnya ketaatan terhadap aturan standar keselamatan maritim.
Dalam prosedur operasional standar, setiap kapal yang akan bersandar atau melakukan dry docking di galangan kapal diwajibkan menggunakan jasa pandu serta kapal tunda secara terukur. Terlebih lagi, saat kejadian dilaporkan terdapat lima armada assist tug serta pandu yang seharusnya memonitor pergerakan kapal.
"Ini menjadi perhatian kita semua, bahwa kita di pelabuhan yang pertama harus mengikuti aturan yang sudah ada. Namun di sini mungkin ada kelalaian, komunikasi yang seharusnya dijaga jangan sampai putus. Apalagi ada lima kapal tunda di sana, ada pandu juga yang memonitor dan selalu berkoordinasi dengan port captain di pelabuhan maupun di shipyard tersebut," tegasnya.
Nyanyang juga menyampaikan rasa syukur karena masih ada korban selamat yang dapat menceritakan kronologi kejadian sebenarnya di lapangan.
Sebagai informasi, insiden maut ini terjadi pada Jumat (6/3/2026) di perairan PT ASL Shipyard, Tanjung Uncang. Tugboat Mega dilaporkan terbalik dan terhimpit di bawah badan kapal kargo Kyparissia yang sedang dipandunya untuk bersandar.
Kecelakaan tragis tersebut menelan tiga korban jiwa dari jajaran kru, yakni Abdul Rahman (Kapten), Guntur Pardede (Chief), dan Jhonson Bertuahman Damanik (KKM).
Sementara itu, dua kru lainnya berhasil selamat dari maut, yaitu M. Habib Ansyari (ABK) dan Yusuf Tankin (Second Engineer). Nama terakhir berhasil dievakuasi secara dramatis oleh tim SAR gabungan dalam keadaan hidup setelah sempat terjebak selama 38 jam di dalam ruang mesin kapal yang tenggelam.
Peristiwa ini kembali memantik sorotan tajam terhadap penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan galangan kapal, khususnya di kawasan industri maritim Batam.

Komentar Via Facebook :