PT JAJ Laporkan Dugaan Kezaliman PT CCYR ke Wali Kota Batam: Kami Kontraktor Kecil, Harus Lawan Raksasa!

PT JAJ Laporkan Dugaan Kezaliman PT CCYR ke Wali Kota Batam: Kami Kontraktor Kecil, Harus Lawan Raksasa!

Pengaduan disampaikan terkait tidak dibayarnya pekerjaan proyek pembangunan data center di Nongsa Digital Park oleh main kontraktor PT China Construction Yangtze River Indonesia (CCYR). (Foto: Asrul/Batamnews)

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews - PT JAJ mengadukan dugaan kezaliman yang dialami perusahaan kontraktor lokal tersebut kepada Walikota Batam. Pengaduan disampaikan terkait tidak dibayarnya pekerjaan proyek pembangunan data center di Nongsa Digital Park oleh main kontraktor PT China Construction Yangtze River Indonesia (CCYR).

Direktur PT JAJ, Arloji, menyampaikan bahwa pihaknya merasa dizalimi karena pekerjaan sudah selesai namun ketika ditagih justru mendapat respons arogan dari PT CCYR.

"Pekerjaan sudah selesai tapi ketika ditagih jawabannya malah dengan cara-cara yang arogan, minta kita suruh gugat," ujar Arloji saat menyerahkan surat pengaduan.

Arloji menjelaskan, pihaknya mengalami kesulitan dalam melakukan penagihan karena saat penandatanganan kontrak dilakukan dengan direktur bernama Lian, namun saat penagihan hanya dihadapi oleh karyawan perusahaan tersebut.

"Kami kebingungan untuk menghubungi siapa. Ini perusahaan raksasa BUMN China, ibaratnya semut disuruh menghadapi gajah," kata Arloji menggambarkan posisi perusahaannya yang merupakan kontraktor lokal warga Batam.

Menurutnya, persoalan ini bukan hanya masalah hukum semata, tetapi juga terkait arogansi terhadap kontraktor kecil dan kontraktor lokal di Batam.

"Jangan sampai ini terjadi juga dialami oleh kontraktor-kontraktor lokal yang lain karena merasa tidak punya power, tidak punya kekuasaan, tidak punya uang untuk beradu dengan perusahaan raksasa seperti ini," tegasnya.

Arloji menceritakan sikap arogan yang diterima saat melakukan penagihan. Pihak PT CCYR menyatakan belum membayar karena klien mereka belum membayar. Namun saat terus ditagih, karyawan perusahaan tersebut justru mengatakan "Are you pressing me? You want to play with me?" dengan nada mengancam.

"Dengan arogan dia mengatakan 'Kamu menekan saya, kamu mau main-main dengan saya.' Ini tidak fair. Apalagi kami ini kontraktor kecil lokal di Batam, harus melawan kontraktor raksasa BUMN milik pemerintah China. Ini sangat-sangat zalim bagi kami," ujar Arloji.

Pekerjaan yang dilakukan PT JAJ merupakan bagian dari proyek pembangunan data center milik perusahaan data center terbesar di Asia Tenggara yang berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus Nongsa Digital Park. PT CCYR ditunjuk sebagai main kontraktor karena berasal dari negara yang sama dengan Daiwan.

PT JAJ mempekerjakan lebih dari 60 pekerja yang merupakan warga Batam dan sebagian kecil dari Tanjungpinang. Akibat tidak dibayarnya pekerjaan ini, Arloji mengaku menghadapi berbagai permasalahan hukum dari vendor yang menagih pembayaran.

"Kami akan digugat, kami akan dilaporkan ke polisi. kami sudah habis-habisan. Mobil sudah dijual, rumah sudah tidak ada karena untuk membayar vendor, dan sampai sekarang masih banyak tagihan yang datang," ungkap Arloji.

Dalam pengaduannya, PT JAJ tidak hanya meminta mediasi tetapi juga perlindungan dari Wali Kota Batam. Arloji berharap BP Batam sebagai regulator dapat mengawasi dan peduli dengan masalah ini.

"Investasi seharusnya menggerakkan ekonomi lokal, harus membawa multiplayer effect kepada ekonomi lokal dan kontraktor lokal serta warga lokal. Tetapi kalau seperti ini bukan menggerakkan ekonomi lokal, malah membuat kami sebagai warga lokal terpuruk," katanya.

Arloji juga mengungkapkan bahwa pekerjaan-pekerjaan mudah dengan nilai besar di proyek tersebut menggunakan tenaga kerja langsung dari China.

"Tukang sapu dan tukang pipa pun itu warga negara China. Saya tidak tahu apa mereka punya permit atau KITAS atau apa. Pekerjaan yang sulit seperti pemancangan baru diserahkan ke warga lokal," jelasnya.

Menurutnya, sekitar 80 persen sub kontraktor berasal dari China dan Malaysia, sementara warga lokal hanya mendapat remah-remahnya saja.

"Pekerjaan struktur yang gampang, yang banyak, kita warga lokal menganggur di Batam itu warga China semua yang kerja. Yang sulit-sulitnya baru ke kontraktor lokal termasuk saya," tuturnya.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :