Tangkapan Sembako di Batam Bikin Resah Warga Karimun: “Itu Pasokan Kami, Kalau Terhenti Kami Bisa Tak Makan”

Tangkapan Sembako di Batam Bikin Resah Warga Karimun: “Itu Pasokan Kami, Kalau Terhenti Kami Bisa Tak Makan”

Wali Kota Batam Amsakar Achmad saat menjelaskan mengenai sembako yang diamankan Kodim Batam (Foto: Batamnews)

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews – Penindakan puluhan ton sembako dan balpres oleh Kodim 0316/Batam di Pelabuhan Rakyat Haji Sage, Tanjung Sengkuang, Senin (24/11/2025) malam, memunculkan gelombang kekhawatiran baru. Bagi warga Karimun, muatan sembako yang disebut ilegal itu justru diyakini sebagai pasokan rutin yang selama ini mereka andalkan.

Sejumlah warga dan pengecer di Karimun mengaku panik setelah mendengar kabar penindakan besar tersebut. Mereka menyebut sebagian besar kebutuhan pokok di Karimun memang bergantung pada distribusi dari Batam, termasuk melalui jalur pelabuhan rakyat.

“Kami ini hidup dari pasokan Batam. Kalau itu dihentikan atau ditahan semua, kami bisa tak makan. Harga bisa melonjak, warung-warung juga tak bisa jual apa-apa,” ujar seorang pedagang sembako di Tanjungbalai Karimun yang enggan disebut namanya.

Jalur Pasokan yang Selama Ini Berjalan

Selama bertahun-tahun, Batam menjadi pusat suplai kebutuhan pokok untuk daerah pulau-pulau sekitar, termasuk Karimun. Banyak pedagang kecil hingga distributor mengangkut beras, gula, minyak goreng, hingga frozen food dari Batam melalui kapal-kapal berkapasitas kecil.

Jalur ini bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan. Pasokan dari luar provinsi umumnya memakan waktu lebih lama dan biaya lebih tinggi, sehingga arus dari Batam menjadi tumpuan logistik utama masyarakat.
“Itu bukan barang sembunyi-sembunyi. Itu barang untuk kami, untuk dijual di warung dan pasar. Kalau semua dianggap ilegal tanpa melihat kebutuhan masyarakat, kami yang kena dampaknya,” sambung pedagang lainnya.

Tangkapan Puluhan Ton Buat Warga Cemas

Dalam operasi di Haji Sage, aparat mengamankan beragam barang:
Beras berbagai merek dengan total beras Daik dan Wong Cilik mencapai 40,4 ton
4,5 ton gula minyak, tepung, susu, mie instan impor, frozen food, hingga minuman kemasan, serta parfum dan barang campuran lainnya.

Bagi aparat, muatan ini disebut tak mengantongi dokumen resmi. Namun bagi warga Karimun, barang-barang itu adalah kebutuhan harian yang sudah lama menjadi alur distribusi umum dari Batam ke pulau mereka.

Kekhawatiran Soal Ketersediaan dan Lonjakan Harga

Sejak informasi penindakan mencuat, sebagian pedagang mulai menahan stok mereka. Ada pula yang langsung memprediksi harga kebutuhan pokok akan melambung dalam beberapa hari ke depan bila pasokan dari Batam terhambat.
“Beras Daik dan Wong Cilik itu yang paling banyak kami jual. Kalau 40 ton ditahan, itu artinya pasokan untuk ratusan warung hilang seketika,” kata seorang pengecer di Meral.

Kodim: Barang Tak Berizin

Di sisi lain, Kodim 0316/Batam menegaskan operasi dilakukan karena kapal dan barang tidak memiliki dokumen resmi. “Barang dan kapal tidak mengantongi izin sehingga kami amankan,” ujar Dandim 0316/Batam Kolonel Arh Yan Eka Putra.

Sementara proses pendalaman masih berlangsung, warga Karimun berharap pemerintah memberi kejelasan agar jalur pasokan tidak tersendat.

“Yang penting ada aturan jelas. Jangan sampai masyarakat yang jadi korban,” tegas seorang tokoh masyarakat Karimun.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :