Suku Yang Malas ... Sekarang, Disini
MvR.
Oleh: Abang Mat
1. Kita bisa lihat di mana-mana sudut di Batam, jarang ada kedai Melayu. Baik itu ditepi jalan, di pusat kota, apalagi di mall. Setidaknya seperti kedai makan, kedai pakaian, kedai sepatu, kedai karpet, kedai obat, kedai mainan, kedai perhiasan, kedai dollar, kedai laptop, dan kedai perabotan. Jangankan membuat, sekedar berkedai pun tak ada. Tapi kalau kita beruntung, ada sekali-sekali kita terjumpa dengan kedai Melayu, biasanya tak jauh-jauh dari kedai kopi dan kedai kue. Dua ini biasanya.
2. Orang Melayu disini sangat jarang berwirausaha. Karena malas. Dari 100% tak lebih dari 10% yang berwirausaha. Tak ada rasa terpacu dalam diri mereka untuk mempunyai perniagaan, walaupun sekedar perniagaan kecil. Berbeda dengan orang Minang yang di setiap pasar tradisional, pasti ada perniagaannya. Setidaknya berniaga daging ayam dan daging sapi. Bukan cuma di pasar tradisional, tapi bahkan sampai di mall pun ada. Kedai perhiasan orang Minang.
3. Terlepas dari semua kelebihan orang Melayu yang pembersih dan sangat jarang merugikan orang lain, kenyataan menunjukkan orang Melayu adalah suku yang malas. Malas di bidang apa? Apa dalam semua hal? Tentu tidak. Karena nyatanya adinda-adinda saya dan orang Melayu yang saya kenal adalah orang-orang yang sangat rajin bekerja. Dalam pandangan penulis, Melayu adalah suku yang malas dalam bidang berwirausaha atau perniagaan.
4. Kata malas disini maksudnya adalah lebih ke tak mau bersusah payah mengurus perniagaan (bisnis). Malas berwirausaha. Padahal, kemampuan mengurus dan menjalankan suatu perniagaan, bisa membuat seseorang itu menjadi seseorang yang handal dalam memimpin kelompok. Karena dari sini bisa didapat keahlian mengatur uang, barang, waktu, diri, dan pegawai. Dan kemampuan bertahan menghadapi semua tantangan, demi ketahanan perniagaannya.
5. Keadaan malas ini didukung sifat orang Melayu yang cenderung gampang puas. Sehingga membuat mereka merasa sudah cukup dengan hidup yang seadanya. Disatu sisi ini bagus karena mensyukuri nikmat Allah, tapi disisi lain sikap seperti ini tak menghasilkan prestasi yang membanggakan. Itu sebabnya tak ada kedai kopi Melayu yang legendaris di Batam. Jangankan sekelas dengan Starbucks, sekelas dengan kedai kopi-kedai kopi China pun tak ada. Yang sudah bergenerasi.
6. Jangankan perniagaan yang besar-besar seperti hotel, resort, mall, bank, ferry, dan kawasan industri, perniagaan yang kecil-kecil pun jarang. Bahkan tak ada. Kedai perlengkapan solat misalnya, yang menjual kopiah dan sejadah, tak ada orang Melayu. Contoh lain misalnya adalah sangat jarang kita jumpai kedai makan Melayu di mall dan di pelabuhan internasional. Restoran ikan asam pedas Bintan dan Restoran Nasi Lemak Karimun di Grand Mall misalnya, tak ada.
7. Meskipun begitu, lima dari sepuluh orang nusantara terkaya di (kepulauan) Riau adalah orang Melayu. Contohnya adalah pemilik Esqarada, Snepac, Hang Nadim, Al Baiq, dan Awal Bross. Bahkan di Batam, Awal Bross sampai ada tiga. Bisa dibayangkan triliunan nilainya. Tapi malangnya, tak banyak orang Melayu yang begini. Dan orang-orang Melayu yang sudah berjaya ini, tak terpikir untuk mendukung Melayu-melayu lainnya supaya berjaya seperti mereka.
8. Golongan orang-orang Melayu yang berpendidikan, hanya rajin dibidang-bidang yang mereka sukai. Ini tidak sepenuhnya salah, tapi menjadi salah saat jarang ada orang Melayu yang terlibat di bidang wirausaha (perniagaan). Karena apa? Karena provinsi Kepulauan Riau adalah daerah Melayu, perniagaan adalah native rightsnya Melayu. Meskipun bukan hanya Melayu yang boleh berniaga di (kepulauan) Riau. Sama seperti suku Inggris di England dan suku Scottish di Scotland.
9. Sembilan dari sepuluh orang Melayu lebih suka menjadi pembeli. Orang Melayu lebih banyak bermain dan bersenang-senang, hidup tanpa target yang tinggi. Diperparah dengan ketidakadilan negara yang tak menyediakan semua prasarana yang layak di daerahnya sejak tahun 1950. Dan pengucilan yang dibuat orang China selama puluhan tahun kepada orang Melayu, yang menghendaki orang Melayu tetap seperti dulu. Sebagai pemasok bahan utama di kedai makan-kedai makan mereka.
10. Keluarga saya walaupun berlatar belakang seorang pegawai, tapi berjiwa wirausaha. Ayah saya telah menjalani berbagai macam perniagaan, yang berjaya adalah sebagai penyalur barang antik. Karena keahliannya mengetahui asal-usul keramik dari setiap dinasti. Ibu saya pernah menjadi private bank bagi masyarakat di sekitarnya, tentunya dalam skala kecil. Sedangkan adinda bungsu saya sejak kecil sudah pandai berniaga, dan sekarang beliau sudah mempunyai perniagaannya sendiri.
11. Keluarga kami dibesarkan dengan buku-buku, lagu-lagu, tontonan-tontonan, perjalanan-perjalanan, dan cerita-cerita yang membuat kami mempunyai cita-cita yang besar dalam hidup. Kami bukan orang yang puas hanya dengan menjadi nelayan, PNS, atau sekedar pegawai bank daerah. Adanya cita-cita membuat hidup kami menjadi penuh semangat. Karena jelas tujuannya. Penguat disaat lemah dan penerang dengan arahnya, itulah cita-cita.
12. Keadaan orang Melayu sekarang ini sangat berbeda dengan keadaan orang Melayu beribu tahun yang lalu, di zaman Yunani kuno. Yang bukan hanya sebagai pelaut tangguh tapi juga sebagai wirausaha-wirausaha yang handal. Peniaga rempah-rempah yang mendunia. Yang aliran perniagaannya sampai ke Eropa. Sehingga berjaya membuat negara-negaranya menjadi negara yang berjaya di Asia. Batam, Bintan, dan Karimun. Titik akhir dari jalur sutra.
13. Dalam bidang perniagaan, keadaan orang Melayu disini sekarang mirip dengan keadaan orang Melayu di Malaya pada saat sebelum merdeka. Bedanya adalah orang Melayu disini berjaya. Walaupun sedikit tapi ada juga yang punya perniagaan-perniagaan besar. Perniagaan-perniagaan kecil pun ada, walau sedikit. Sedangkan orang Melayu di malaya pada masa sebelum kemerdekaan, satu perniagaan pun tak ada. Betul-betul kosong.
14. Akar sejarahnya disebabkan oleh politik Belanda di masa lalu, yang merancang keadaan ini. Di zaman Belanda, mereka menjadikan orang-orang China sebagai pemilik perniagaan. Mulai dari yang kecil-kecil sampai yang sedang-sedang. Itu sebabnya di daerah Melayu, banyak orang China. Dan sering dijumpai deretan rumah kedai-rumah kedai bergaya peranakan. Mereka susah hati kalau orang Melayu disini banyak yang kaya. Karena wilayahnya dekat dengan Singapura.
15. Tujuan Belanda membuat keadaan ini adalah untuk membuat perimbangan kekuatan. Supaya suku Melayu sebagai pribumi jangan menjadi terlalu kuat, yang kokoh di semua dibidang. Dan supaya orang-orang China (juga) punya kekuatan di dalam negara, sehingga akhirnya bisa ikut menentukan kebijakan negara. Tapi malangnya, keadaan ini berterusan sampai sekarang. Walaupun setelah orang-orang Belanda pindah ke Singapura dan negara-negara lain.
16. Di masa indonesia, sejak dicurinya hak pribumi suku Melayu (kepulauan) Riau pada tahun 1950 dan digabungkannya wilayah (kepulauan) Riau ke dalam provinsi Sumatra Tengah, sejak masa inilah suku Melayu memasuki masa-masa suram, yang berdampak besar sampai sekarang. Sedangkan orang-orang China dengan jaringannya yang kokoh di pusat dan di mancanegara, terus berjaya sampai sekarang. Menjadi penguasa yang sesungguhnya di (kepulauan) Riau.
17. Tak adanya niat baik dari negara untuk menjadikan suku Melayu mandiri, upaya pengucilan suku Melayu yang dilakukan orang China karena diterapkannya kebijakan New Economic Policy di Malaysia, dan dilengkapi dengan keadaan orang Melayu yang sudah menjadi malas berwirausaha sejak zaman Belanda, semakin membuat orang Melayu menjadi kelompok yang sedikit mempunyai perniagaan. Bahkan sekedar menjadi agen beras pun tak ada, setidaknya di satu kabupaten.
18. Sangat berbeda dengan keadaan orang Minang yang memang sudah dibentuk pola pikirnya dan kepribadiannya sejak di daerah asalnya. Didukung penuh dengan daerahnya yang sudah menjadi provinsi sejak tahun 1958, sudah adanya universitas sejak tahun 1956, dan daerahnya selamat karena tak dijadikan kawasan industri negara. Dilengkapi dengan dukungan penuh orang China tentunya, demi membuat Melayu semakin lemah karena native rightsnya banyak didapat orang minang.
19. Artinya dilihat dari keadaan hari ini, keterlambatan orang Melayu bukan hanya disebabkan oleh kesalahan orang China dan bukan hanya karena ketidakbaikan orang-orang China, tapi juga karena kesalahan pemerintah pusat republik Indonesia dan kesalahan orang Melayu itu sendiri. Intinya, sama-sama salah. Meskipun yang paling bersalah tetaplah orang China. Yang membalas kebaikan Melayu dengan kejahatan. Kebaikan disini bukan dalam arti sekedar ramah tamah.
20. Dari sisi Melayu, tak adanya dukungan dari pejabat dan tokoh Melayu untuk menjadikan orang-orang Melayu sebagai wirausaha-wirausaha yang berjaya, setidaknya di daerahnya sendiri. Karena apa? Karena pejabat-pejabatnya pun bukan dari keluarga wirausaha. Dan pikirannya dangkal. Walaupun keadaannya telah dibuat susah untuk orang Melayu mendapatkan native rightsnya di lembaga-lembaga negara, orang-orang Melayu tetap tak banyak yang mendirikan perniagaan sendiri.
21. Tak perlu lah seperti orang China (yang berkat jasa Belanda) sudah terlalu jauh meninggalkan Melayu. Sampai mampu meluaskan perniagaannya ke luar provinsi dan ke luar negara, bahkan ke luar benua. Setidaknya seperti orang Minang, sudah cukup bagus. Yang dalam satu jalan, bisa sampai ada lima restorannya. Itu belum lagi termasuk dengan kedai-kedai yang lainnya. Ini sedikit banyak menandakan keahlian, keahlian menandakan kemauan untuk belajar. Kesungguhan.
22. Orang Jawa identik dengan perniagaan perabotan, ahli di bidang pembuatan perabotan. Orang Sunda ahli dalam membuat pakaian. Orang Banjar ahli dalam membuat perhiasan. Dan orang Minang ahli dalam membuat makanan. Orang Melayu? Apa keahliannya? Membuat rumah dan kapal tradisional. Malangnya adalah pohon-pohon di Batam sudah banyak ditebang supaya kawasan-kawasannya dibuat jadi pabrik, rumah kedai, dan lingkungan perumahan sebanyak-banyaknya.
23. Melayu disini tak betul-betul meresapi sejarah islam. Nabi Mohamad SAW pekerjaan sehari-harinya adalah seorang wirausaha. Bahkan sejak muda beliau sudah menjadi seorang akuntan. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya, hampir semuanya adalah orang-orang yang memiliki perniagaan. Hidup mereka bukan sekedar bersyair. Contoh yang terkenal adalah Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Awf. Konglomerat yang terkenal dengan kedermawanannya.
24. Nasib Melayu di (kepulauan) Riau sekarang memang tak terlalu mujur. Karena daerahnya dijadikan tujuan utama perantau-perantau dari provinsi-provinsi tertinggal. Apalah artinya sekedar bangga memakai baju melayu dengan tanjaknya, sambil berpantun dan bersilat, terkenang dengan cerita tuah jebat, terus mendapat gelar adat, tapi tak menjalankan perekonomian di daerahnya sendiri. Setidaknya setengahnya. Sehari-hari hanya sebagai pembeli. Tak paten.
---
Penulis adalah sosok yang berangan menjadi sampul majalah TIME, berangan mengadakan kunjungan kenegaraan ke Washington DC bersama keluarganya, dan berangan ke kedai pertama KFC di kentucky.

Komentar Via Facebook :