Ekonom: Hilirisasi Perikanan Kunci Diversifikasi Ekonomi Kepri
Kepri Economic Forum (KEF) 2025 yang digelar di Kota Batam, Selasa (4/11/2025).
Batam, Batamnews - Kepulauan Riau memiliki peluang besar mengembangkan sektor perikanan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru di luar industri manufaktur Batam. Hal ini disampaikan Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede dalam Kepri Economic Forum (KEF) 2025 di Batam, Selasa (4/11/2025).
Josua menyoroti ketergantungan ekonomi Kepri yang masih sangat tinggi terhadap sektor manufaktur, khususnya elektronik di Batam. Struktur ekonomi provinsi ini didominasi tiga sektor besar: manufaktur 41 persen, konstruksi 20 persen, dan pertambangan. Dari sisi wilayah, Batam menjadi penyumbang terbesar sejak 2011 hingga 2024, sementara kabupaten lain masih tertinggal.
"Ketergantungan ekonomi Kepri terhadap Batam sangat tinggi. Jika terjadi guncangan eksternal di Batam, dampaknya langsung terasa ke seluruh provinsi. Karena itu, Kepri perlu menyiapkan sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan," tegas Josua.
Sektor perikanan dinilai memiliki potensi besar namun belum dikelola optimal. Meski menjadi penyumbang terbesar di bidang agrikultur dengan kontribusi 1,78 persen pada 2024, sektor ini masih kalah perhatian dibanding manufaktur elektronik yang menyumbang 66 persen dari total industri manufaktur Kepri.
Josua mengusulkan penerapan konsep ekonomi biru (blue economy) sebagai arah pembangunan Kepri. Konsep ini menekankan pengelolaan sumber daya laut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, di mana setiap hasil laut dimanfaatkan maksimal, bahkan limbahnya dijadikan bahan baku industri lain.
"Ekonomi biru telah menjadi tren global. Kepri memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pionir ekonomi biru di Indonesia," ujar Josua.
Merujuk laporan OECD 2016, industri pengolahan ikan diproyeksikan menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi kedua secara global setelah energi angin lepas pantai, seiring meningkatnya kebutuhan protein dunia.
Secara nasional, Indonesia menempati posisi produsen udang terbesar keempat dan penghasil rumput laut nomor dua di dunia, dengan produksi perikanan tangkap mencapai 6,84 juta ton per tahun.
Dengan posisi geografis strategis di jalur perdagangan internasional, Kepri berpeluang menjadi simpul penting industri pengolahan hasil laut nasional.
"Selama ini kinerja ekspor Kepri masih didominasi produk elektronik. Padahal, dari 20 besar komoditas ekspor, produk perikanan belum masuk. Ke depan, industri pengolahan ikan perlu dikembangkan agar menjadi komoditas ekspor unggulan baru," kata Josua.
Untuk mewujudkan hilirisasi perikanan, Josua menekankan perlunya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku industri. Pembangunan infrastruktur kelautan dan pemerataan investasi di luar Batam, seperti di Lingga dan Anambas, menjadi kunci menciptakan keseimbangan pertumbuhan.
"Investasi di Kepri masih terkonsentrasi di Batam. Padahal, wilayah lain punya potensi besar di sektor perikanan. Pemerintah harus mampu mengarahkan investasi ke daerah pesisir agar ekonomi Kepri lebih inklusif," pungkas Josua.

Komentar Via Facebook :