Scroll Tanpa Henti: Antara Kebutuhan atau Ketergantungan?
Ilustrasi
Oleh: Putri Aulia Agustina
Apa hal pertama yang kamu lakukan setelah bangun tidur? Berdoa, sarapan, atau langsung membuka Instagram, TikTok, dan notifikasi media sosial lainnya? Tanpa sadar, jari terus menggulir layar dan waktu berlalu begitu saja. Sebenarnya, apa yang kamu cari di sana? Informasi, hiburan, atau justru pelarian?
Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi tanda kecanduan media sosial. Platform digital didukung oleh algoritma yang dirancang untuk menahan perhatian penggunanya selama mungkin. Konten yang muncul terasa sangat relevan dengan minat kita, membuat kita nyaman dan sulit berhenti. Pada akhirnya, kita seolah menjadi “budak” algoritma tanpa sadar.
Algoritma media sosial sendiri merupakan sistem kompleks yang merekam aktivitas pengguna: apa yang dicari, disukai, dan ditonton paling lama. Semua itu kemudian diproses untuk menyajikan konten yang dipersonalisasi (Riendani, Atshila, Abhinaya, Abdillah, Mufadhol, 2025). Dengan kata lain, media sosial memang sengaja dirancang agar penggunanya betah dan terus kembali.
Tanpa kontrol diri, algoritma ini menjerumuskan pengguna dalam kebiasaan scrolling tanpa akhir. Konten tren fesyen, produk, hingga challenge viral bermunculan seolah tidak ingin dilewatkan. Di sinilah muncul fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut tertinggal tren. Banyak orang rela menghabiskan uang demi mengikuti tren sesaat, mulai dari membeli barang yang sedang viral hingga ikut antre produk yang hanya terkenal di media sosial.
Menurut laporan Indonesia Economic Outlook Q3-2024 oleh LPEM Universitas Indonesia, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,91% pada kuartal pertama 2024. Selain didorong libur nasional dan bulan Ramadan, pola konsumsi tersebut juga dipengaruhi perilaku FOMO. Artinya, media sosial tidak hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga perilaku ekonomi masyarakat.
Akibatnya, muncul gaya hidup konsumtif tanpa pertimbangan finansial. Banyak orang membeli hanya karena “ikut-ikutan”, bukan karena butuh. Ketika keuangan tidak mencukupi, pinjaman online, paylater, dan kredit menjadi jalan pintas. Apakah ini sehat? Apakah sebuah tren sepadan dengan risiko keuangan jangka panjang?
Media sosial juga memengaruhi hubungan sosial. Kita bisa bertemu banyak orang baru di dunia digital, bahkan merasa menemukan teman sefrekuesi. Namun ironisnya, semakin terhubung di dunia maya, semakin jauh dari kehidupan nyata. Interaksi dengan keluarga dan teman di sekitar terabaikan. Kita merasa dekat dengan orang asing, tetapi asing dengan orang terdekat. Jika ini bukan bentuk ketergantungan, lalu apa?
Kita adalah generasi yang tumbuh bersama teknologi. Media sosial bukan musuh, tetapi alat. Masalah muncul ketika kita kehilangan kendali dan membiarkan algoritma menentukan hidup kita. Solusinya bukan memutus hubungan dengan media sosial, tetapi belajar menggunakannya dengan sadar. Batasi waktu, pilah konten, dan ingat: hidup nyata lebih berharga daripada validasi digital.
Berhenti sejenak, letakkan ponselmu, dan lihat sekitar. Ada orang-orang yang benar-benar hadir dalam hidupmu—bukan sekadar akun yang lewat di beranda.
-----------
Penulis adalah mahasiswi prodi kajian film, televisi dan media di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang

Komentar Via Facebook :