Karyawan Ungkap Kondisi Kerja di PT Esun: Kotor, Berdebu, dan Minim K3

Karyawan Ungkap Kondisi Kerja di PT Esun: Kotor, Berdebu, dan Minim K3

PT Esun International Utama Indonesia di Kawasan Horison, Tanjung Uncang, Batam, kini juga disorot dari dalam. (Foto: istimewa)

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews – Di tengah sorotan publik atas dugaan impor limbah B3 ilegal, PT Esun International Utama Indonesia di Kawasan Horison, Tanjung Uncang, Batam, kini juga disorot dari dalam. Sejumlah karyawan mengungkap kondisi kerja yang jauh dari standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Seorang karyawan yang sudah hampir setahun bekerja di PT Esun menyebut lingkungan kerja di perusahaan itu sangat kotor dan berdebu. Menurutnya, manajemen hanya berbenah ketika ada kunjungan atau audit dari pihak luar.

“Kalau ada audit, biasanya area kotor langsung dibersihkan, dan karyawan buru-buru dipakaikan alat safety agar terlihat perusahaan peduli. Tapi kalau tidak ada pengawasan, ya kondisinya tetap kotor dan berdebu,” ujarnya saat berbicara kepada Batamnews.

Karyawan tersebut mengaku sulit mendokumentasikan kondisi nyata di dalam pabrik, karena seluruh pekerja dilarang membawa ponsel ke area kerja. “HP wajib ditinggalkan di area kantin, jadi kami tidak bisa menunjukkan bukti lingkungan kerja yang sebenarnya,” katanya.

Aturan Mendadak Soal Sepatu

Dalam sebuah tangkapan layar grup percakapan internal karyawan yang diterima redaksi, terlihat supervisor
menginstruksikan agar seluruh pekerja wajib memakai sepatu saat masuk kerja. Padahal, sebelumnya pekerja diperbolehkan masuk hanya dengan sandal.

“Baru hari ini disuruh pakai sepatu, setelah ada masalah segel. Sebelumnya semua wajib pakai sandal,” ungkap karyawan itu.

Aspirasi Karyawan: “Kami Hanya Terpaksa Bekerja”

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kondisi kerja di PT Esun sangat kacau dan tidak layak.
“PT Esun di kawasan Horison sangat kacau, tempat kerjanya kotor, berdebu, tidak ada K3-nya. Saya karyawan di PT tersebut, dan saya berharap perusahaan itu ditutup agar tidak ada korban-korban selanjutnya,” ucapnya dengan nada tegas.

Ia juga menitipkan pesan agar suara pekerja disampaikan ke publik. “Tolong sampaikan aspirasi kami ini ke publik. Saya yakin dari semua karyawan di situ hanya terpaksa bekerja, tidak dengan hati yang tulus,” katanya.

Pemerintah Dalami Dugaan Limbah B3

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurrofiq, sebelumnya menegaskan bahwa pihaknya sedang mendalami dugaan masuknya limbah elektronik berbahaya ke Batam melalui PT Esun. Laporan internasional dari NGO di Jenewa menyebut adanya indikasi limbah B3 yang masuk melalui pelabuhan di Batam.

“Impor limbah B3 dilarang keras karena menimbulkan risiko serius bagi kesehatan masyarakat dan ekosistem,” kata Hanif.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :