Gelar Energy Meet Up, SKK Migas Sumbagut Paparkan Kontrobusi Nyata Industri Hulu Migas Untuk Negara dan Masyarakat
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Perwakilan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Kepulauan Riau menggelar Energy Meet Up di Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
Batam, Batamnews - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Perwakilan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Kepulauan Riau menggelar Energy Meet Up di Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
Kegiatan ini menjadi wadah literasi, dialog, dan peningkatan kapasitas bagi media dalam memahami kontribusi strategis industri hulu migas bagi negara dan masyarakat.
Acara ini terselenggara melalui kolaborasi SKK Migas Sumbagut dengan sejumlah KKKS yang beroperasi di wilayah Kepulauan Riau. Perusahaan-perusahaan yang terlibat meliputi Medco E&P Natuna Ltd., Harbour Energy Indonesia, Star Energy (Kakap) Ltd., KUFPEC Indonesia (Anambas) B.V., West Natuna Exploration Ltd, Prima Energy Northwest Natuna, serta Pertamina East Natuna.
Kegiatan ini memiliki urgensi tinggi mengingat industri hulu migas berperan besar dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menyumbang penerimaan negara yang signifikan. Dalam konteks tersebut, jurnalis memegang peran strategis tidak hanya dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang, tetapi juga membantu menerjemahkan kompleksitas proses kerja serta istilah teknis migas menjadi bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
Mengusung tema "Multiplayer Effect Hulu Migas", kegiatan ini memaparkan peran industri migas yang tidak hanya sebatas penyumbang penerimaan negara, tetapi juga memberikan dampak berganda (multiplayer effect) yang sangat luas bagi pembangunan ekonomi nasional maupun daerah.
Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagut, Yanin Kholison, menjelaskan bahwa multiplayer effect tersebut hadir dalam berbagai bentuk yang langsung dirasakan masyarakat.
"Industri hulu migas bukan hanya soal energi. Lebih dari itu, migas menggerakkan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, memberdayakan masyarakat, dan memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah serta pelaku usaha lokal," ungkapnya dalam acara tersebut.
Secara nasional, kontribusi sektor hulu migas menunjukkan angka yang mencengangkan. Pada tahun 2023, hulu migas menyumbang lebih dari Rp114 triliun bagi penerimaan negara.
Selain aspek finansial, sektor ini juga berhasil menyerap ribuan tenaga kerja lokal, mendorong pertumbuhan UMKM di sekitar wilayah operasi, dan memastikan pasokan gas bumi untuk menopang kebutuhan listrik PLN di berbagai daerah.
Di wilayah kerja SKK Migas Sumbagut yang meliputi Aceh, Riau, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Kepulauan Riau, kontribusi terhadap produksi nasional sangat dominan. Pada tahun 2024, lifting minyak dari wilayah operasi Sumbagut mencapai 183.000 barel per hari, atau sekitar 31,7 persen dari total produksi nasional.
Target produksi untuk tahun 2025 bahkan lebih ambisius, yakni mencapai 193.000 barel per hari. Dari wilayah ini, Blok Rokan di Riau tercatat sebagai salah satu penopang utama produksi nasional dengan penerimaan sebesar USD 5,97 miliar pada tahun 2023, atau 67 persen dari total penerimaan KKKS di wilayah Sumbagut.
Dampak ekonomi dari industri hulu migas juga tercermin melalui Dana Bagi Hasil (DBH) Migas yang disalurkan ke berbagai kabupaten dan kota penghasil migas di Riau, Aceh, dan Sumatra Utara. Dana strategis ini digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, memperkuat layanan publik, serta mendukung sektor pendidikan di daerah-daerah tersebut.
Multiplayer effect semakin nyata dengan hadirnya program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang komprehensif. Program ini meliputi penyediaan beasiswa pendidikan, pelatihan kerja untuk meningkatkan keterampilan masyarakat lokal, serta dukungan finansial dan teknis bagi UMKM lokal.
Dengan demikian, keberadaan industri hulu migas bukan hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendorong pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan di daerah-daerah operasi.
"Harapan kami, manfaat dari multiplayer effect migas ini bisa semakin dirasakan oleh masyarakat luas.
Migas adalah milik bangsa, dan hasilnya harus memberi kesejahteraan sebesar-besarnya bagi rakyat," tutup Yanin Kholison dengan penuh optimisme.

Komentar Via Facebook :