8 Tewas dalam 2 Bulan, DPRD Batam Soroti Kelalaian K3 Perusahaan
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Batam, Surya Makmur Nasution.
Batam, Batamnews - Angka kecelakaan kerja di Batam yang melonjak akhir-akhir ini membuat anggota dewan angkat bicara. DPRD Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, melalui Wakil Ketua Komisi IV-nya, Surya Makmur Nasution, secara tegas mendesak Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) untuk tidak tinggal diam dan segera memperketat pengawasan atas penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di setiap perusahaan.
Surya berpendapat, langkah pertama yang harus dilakukan adalah meninjau ulang pemberian izin K3 dengan standar yang lebih tinggi.
"Pemberian izin K3 ini harus ditinjau ulang. Soalnya, kalau masih terjadi kecelakaan seperti itu, kan artinya ada kelalaian di sana," ujarnya.
Ia menekankan, Disnaker harus berani mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan-perusahaan yang dianggap lalai menjalankan protokol K3.
Baca juga: Daftar 8 Program Stimulus Ekonomi 2025: Magang untuk Fresh Graduate hingga Diskon Iuran Driver
"Perusahaan jangan sekali-kali menganggap remeh urusan K3 bagi karyawannya. Ini soal nyawa," tegas Surya.
Namun, ia juga meluruskan bahwa pengawasan ketat ini bukanlah untuk mempersulit dunia usaha.
"Tujuannya bukan mempersulit, sama sekali tidak. Tapi Disnaker harus memastikan bahwa dari sisi keamanan, peralatan, dan fasilitas, semuanya sudah disediakan perusahaan dengan benar," jelasnya.
Surya juga mengingatkan bahwa meski wewenang pengawasan ketenagakerjaan ada di tingkat provinsi (Disnakertrans Kepri), Disnaker Kota Batam tidak boleh lepas tangan. Alasannya jelas: sebagian besar kasus kecelakaan kerja terjadi di Batam.
Desakan ini bukan tanpa alasan. Tragedi yang menimpa Rudi Antoro (44), karyawan PT PLTGU Tanjunguncang, pada Jumat (12/9) semakin menyadarkan semua pihak. Rudi meninggal dunia setelah tersengat listrik saat memperbaiki pipa di dalam lubang galian sedalam dua meter.
Sayangnya, kasus Rudi bukanlah yang pertama. Dalam dua bulan terakhir, setidaknya sudah delapan nyawa pekerja melayang di Batam. Insidennya beragam, mulai dari proyek bangunan hingga galangan kapal.
Beberapa di antaranya meninggalkan duka yang mendalam:
- 16 Juni 2025: J (27), karyawan vendor, tewas terjatuh saat memperbaiki kontainer di kawasan PT Batamindo.
- 17 Juni 2025: H (52), buruh bangunan, meninggal setelah jatuh dari lantai 7 sebuah proyek pertokoan di Batam Center.
- 24 Juni 2025: Kebakaran hebat di kapal tanker CPO Federal II menewaskan empat pekerja dan melukai lima lainnya di PT ASL Shipyard.
- 5 Agustus 2025: SST (31), operator forklift, tewas tertimpa plat besi di PT Sumber Samudra Makmur.
- 7 Agustus 2025: MRM (21) ditemukan meninggal dengan mesin gerinda di atas tubuhnya di PT Marine Shipyard, diduga tersengat listrik.
Melihat daftar panjang dan tren yang mengkhawatirkan ini, Surya kembali menegaskan bahwa evaluasi rutin mutlak diperlukan, khususnya untuk sektor-sektor rawan seperti industri berat dan pembangkit listrik.
"Keselamatan pekerja harus jadi prioritas utama. Tidak boleh ada lagi korban berjatuhan hanya karena kelalaian perusahaan," pungkas Surya menutup perbincangan.
Komentar Via Facebook :