Waspada DBD! Cuaca Tak Menentu, Kasus DBD di Batam Capai 499 Sepanjang 2025

Waspada DBD! Cuaca Tak Menentu, Kasus DBD di Batam Capai 499 Sepanjang 2025

Ilustrasi waspada DBD saat cuaca tak menentu. (Foto dibuat dengan AI)

Nurjali

Batam, Batamnews – Perubahan cuaca yang ekstrem dalam beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran akan munculnya berbagai penyakit musiman. Menyikapi hal ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mengingatkan warganya untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap ancaman lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang masih membayangi.

Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menjelaskan bahwa fluktuasi suhu, curah hujan tinggi, dan angin kencang dapat menjadi pemicu masalah kesehatan. 

“Masyarakat perlu mewaspadai penyakit seperti ISPA, DBD dari genangan air, dan gangguan pencernaan akibat makanan tidak higienis,” ujarnya, Kamis, 4 September 2025.

Baca juga: Kejagung Tetapkan Nadiem Tersangka, Gelar Rapat Tertutup untuk Chromebook Google

Ia menekankan pentingnya menjaga pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan utama. 

“Gunakan masker saat udara tidak sehat, rutin menguras penampungan air, dan segera periksa ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala,” pesan Didi.

Ancaman DBD disebutkan masih sangat serius. Hingga 1 September 2025, Kota Batam telah mencatat 499 kasus DBD yang tersebar di 12 kecamatan.

Tren data dari tahun ke tahun menunjukkan pola yang fluktuatif namun mengkhawatirkan. Setelah sempat turun signifikan menjadi 392 kasus pada 2023, angka justru melonjak hampir dua kali lipat menjadi 871 kasus pada 2024.

“Setelah sempat turun pada 2023, kasus kembali melonjak pada 2024, dan tahun ini masih cukup tinggi,” jelas Didi dengan nada prihatin.

Pada tahun 2025, lonjakan tertinggi terjadi pada Juli dengan 112 kasus. Secara geografis, wilayah dengan kasus tertinggi adalah Kecamatan Sagulung (90 kasus), disusul Batam Kota (82), Sekupang (70), Batu Aji (68), dan Bengkong (64). Sementara Belakang Padang mencatat kasus terendah, yaitu 2 kasus.

Yang lebih memprihatinkan, angka kematian (fatality rate) akibat DBD juga menunjukkan grafik yang mengkhawatirkan. Tahun 2024 menjadi tahun terkelam dengan 14 kematian, melonjak drastis dari 3 kematian pada 2023. Hingga September 2025, sudah dua nyawa melayang akibat penyakit yang dibawa nyamuk Aedes aegypti ini.

Untuk memutus mata rantai penularan, Dinkes Batam menggalakkan strategi pencegahan berbasis masyarakat. Masyarakat diimbau disiplin menjalankan Program 3M Plus (Menguras, Menutup, Mengubur, plus mencegah gigitan). 

Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) juga digiatkan untuk memberdayakan warga dalam memantau jentik nyamuk secara mandiri.

Baca juga: Video Wasit Wanita Ditampar Pemain Usai Beri Kartu Merah 

Pemerintah juga telah menerbitkan Surat Edaran Wali Kota Nomor 11 Tahun 2025 untuk memperkuat sistem kewaspadaan dini. Meski fogging (pengasapan) rutin dilakukan, Didi menegaskan bahwa itu bukan solusi utama.

“Fogging hanya membasmi nyamuk dewasa. Yang terpenting adalah mencegah perkembangbiakannya dengan menjaga kebersihan lingkungan,” tegasnya.

Pesan itu kembali menegaskan bahwa kunci melawan DBD dan penyakit musiman ada di tangan masyarakat sendiri, dimulai dari kedisiplinan di setiap rumah tangga.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :