Perang Meletus di Perbatasan Thailand-Kamboja, Korban Jiwa Terus Bertambah
Serangan roket mengitari langit perbatasan Thailand dan Kamboja.
Batam, Batamnews - Bentrokan bersenjata kembali meletus di perbatasan Thailand dan Kamboja. Hingga Jumat, 25 Juli 2025 pukul 06.00 waktu setempat, pasukan kedua negara masih saling menembakkan artileri dan roket di wilayah perbatasan Oddar Meanchey dan Preah Vihear. Media Kamboja melaporkan pertempuran sengit di enam titik garis depan.
Korban Jiwa dan Evakuasi Massal
Thailand melaporkan setidaknya 14 orang tewas, terdiri dari 13 warga sipil dan satu prajurit, akibat serangan roket dan artileri Kamboja. Selain itu, 14 tentara dan 32 warga sipil mengalami luka-luka.
Salah satu peluru artileri dilaporkan menghantam rumah sakit di Provinsi Surin, memicu tuduhan kejahatan perang dari Menteri Kesehatan Thailand, Somsak Thepsuthin.
Rekaman CCTV menunjukkan warga sipil berlindung di bawah struktur beton saat ledakan terdengar bertubi-tubi.
Lebih dari 40.000 warga dari 86 desa di wilayah perbatasan telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman.
Akar Konflik: Perebutan Wilayah dan Saling Tuding
Bentrokan terbaru terjadi di sekitar kompleks kuil Hindu Khmer Ta Muen Thom, wilayah sengketa sepanjang 817 kilometer perbatasan kedua negara.
Militer Thailand menuduh Kamboja memulai serangan dengan menggunakan drone pengintai sebelum menembakkan roket.
"Pasukan udara kami telah melaksanakan serangan balasan terhadap target militer di Kamboja," ujar Wakil Juru Bicara Militer Thailand, Richa Suksuwanon, seperti dikutip The Guardian.
Thailand juga mengerahkan jet tempur F-16 yang berhasil menghancurkan sejumlah target militer Kamboja.
Namun, Kamboja membantah tuduhan tersebut. Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja menegaskan bahwa Thailand-lah yang pertama melakukan agresi.
"Pasukan Kamboja bertindak dalam kerangka bela diri, merespons infiltrasi tanpa provokasi," bunyi pernyataan resmi mereka.
Mantan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, menyebut dua provinsi Kamboja menjadi sasaran serangan artileri Thailand.
Sementara Perdana Menteri Hun Manet menegaskan, "Kami selalu mengedepankan jalan damai, tetapi dalam kasus ini, kami tidak punya pilihan selain membalas."
Ranjau Darat dan Ketegangan Diplomatik
Ketegangan sebenarnya telah memanas sejak Mei lalu ketika seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak singkat. Situasi kian memanas setelah lima tentara Thailand terluka akibat ranjau darat pekan lalu.
Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau baru di wilayah sengketa, namun Phnom Penh membantah dan menyatakan ledakan berasal dari ranjau sisa perang yang dipicu oleh patroli Thailand yang keluar jalur.
Sebagai respons diplomatik, Thailand menarik duta besarnya dari Phnom Penh dan berencana mengusir duta besar Kamboja. Seluruh pos perbatasan di bawah kendali Angkatan Darat Kedua Thailand telah ditutup, dan wisatawan dilarang mendekati zona konflik.
Reaksi Internasional
Konflik ini merupakan yang terparah sejak perang perbatasan 2008–2011 yang menewaskan 34 orang. China menyatakan keprihatinan mendalam dan berjanji mendorong perdamaian melalui dialog.
Sementara itu, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, selaku Ketua ASEAN, mendesak kedua negara menahan diri agar konflik tidak meluas.
Komentar Via Facebook :