Warga Batam Lebih Hafal Simpang dan Gedung Ketimbang Nama Jalan Protokol
Simpang Nagoya Hill, Batam Centre.
Batam, Batamnews – Fenomena unik terjadi di Kota Batam, di mana sebagian besar warganya tidak mengenal nama-nama jalan protokol, bahkan yang cukup terkenal sekalipun seperti Jalan Jenderal Sudirman, Ahmad Yani, atau Raden Patah.
Alih-alih menyebut nama jalan, masyarakat Batam justru lebih familiar menggunakan nama simpang atau gedung sebagai penunjuk arah.
Kondisi ini bukan hanya terjadi pada pendatang baru, tetapi juga banyak dijumpai pada warga lama yang telah bertahun-tahun menetap di Batam.
Mereka lebih mudah mengenali tempat dengan menyebutkan nama-nama seperti “Simpang BCS”, “Depan Grand Mall”, atau “Dekat Pasar Jodoh” dibandingkan dengan nama jalan resmi yang tertera di peta.
Baca juga: Pemkot Batam Gelar Lomba Inovasi Daerah 2025, Targetkan Pertahankan Penghargaan IGA
Minimnya rambu-rambu penunjuk jalan di masa lalu dan kurangnya akses angkutan umum menjadi salah satu alasan utama masyarakat tidak terbiasa menggunakan nama jalan sebagai penanda lokasi.
Sejak lama, warga Batam lebih mengandalkan kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil, sehingga tidak terbangun budaya navigasi berbasis nama jalan.
Selain itu, Batam yang berkembang pesat sebagai kota industri dan perdagangan menghadapi tantangan dalam penataan jalan.
Penamaan jalan yang tidak konsisten dan belum sepenuhnya terstandarisasi membuat banyak ruas jalan tidak memiliki nama resmi yang dikenal masyarakat luas.
"Orang Batam cenderung menyebut lokasi berdasarkan landmark, bukan nama jalan. Misalnya bilang 'belok kiri setelah simpang Panbil', daripada menyebut 'masuk ke Jalan Ahmad Yani'," ujar salah seorang warga Bengkong.
Faktor lainnya adalah pertumbuhan kota yang cepat, membuat munculnya banyak jalan baru tanpa identitas yang jelas.
Ditambah lagi, sebagai kawasan perdagangan bebas, Batam dihuni oleh masyarakat dari berbagai daerah, yang memiliki beragam kebiasaan dalam menyampaikan arah atau lokasi.
Hingga kini, belum ada upaya serius dari pemerintah daerah untuk melakukan standarisasi penamaan jalan secara menyeluruh dan massif. Padahal, pemahaman terhadap nama jalan sangat penting dalam konteks layanan publik, kedaruratan, logistik, dan navigasi digital.
Dengan meningkatnya urbanisasi dan kebutuhan akan sistem navigasi yang tertata, kesadaran untuk mengenali dan menggunakan nama jalan secara tepat kiranya perlu mulai dibudayakan di tengah masyarakat Batam.

Komentar Via Facebook :