Mengenal Suku Laut Batam di Pulau Air Mas Terancam Punah Akibat Proyek Reklamasi dan Kerusakan Ekosistem

Mengenal Suku Laut Batam di Pulau Air Mas Terancam Punah Akibat Proyek Reklamasi dan Kerusakan Ekosistem

Pemukiman Suku Laut di Pulau Air Mas, Kota Batam.

Nurjali

Batam, Batamnews - Di tengah pesatnya pembangunan Kota Batam, masih ada komunitas tradisional yang mempertahankan cara hidup leluhur mereka. Suku Laut yang bermukim di Pulau Air Mas, tepat di depan Pelabuhan Punggur, kini menghadapi ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup mereka.  

Suku Laut merupakan suku asli yang telah berabad-abad hidup di perairan Kepulauan Riau. Komunitas yang tersisa di Pulau Air Mas terdiri dari sekitar 40 kepala keluarga (KK) yang seluruhnya menggantungkan hidup sebagai nelayan tradisional.  

"Kami memang mencari ikan, cuma itulah hasil yang bisa kami buat untuk bertahan hidup. Tapi sekarang sudah tercemar," ungkap Kasim, salah seorang warga Suku Laut Pulau Air Mas, Minggu, 15 Juni 2025.

Baca juga:  Dampak Proyek PSN: Suku Laut Batam Kehilangan Mata Pencaharian Akibat Kerusakan Lingkungan 

Kehidupan mereka sangat bergantung pada hasil tangkapan laut. Dalam satu keluarga, jumlah anggota bisa mencapai 15 orang.  

"Tergantung, ada juga kami satu KK itu hampir 15 orang," tambah Kasim, menjelaskan struktur keluarga besar yang masih dipertahankan dalam komunitas mereka.  

Sejarah penamaan Pulau Air Mas memiliki cerita menarik yang turun-temurun di kalangan Suku Laut. Menurut penuturan warga, nama tersebut berasal dari penemuan yang tidak biasa di masa lalu.  

"Ada orang dulu menemukan mata air, terus menemukan sebuah cincin. Jadi, air itu disebut air mas, jadilah pulau ini disebut Pulau Air Mas," ungkap seorang warga lainnya.  

Cerita ini menunjukkan kekayaan budaya lisan yang masih dijaga komunitas Suku Laut, meski menghadapi berbagai tantangan modernisasi.  

Kehidupan tradisional Suku Laut kini terancam akibat proyek pembangunan di kawasan Tanjung Sauh. Proyek ini telah menyebabkan kerusakan ekosistem laut yang menjadi sumber penghidupan utama mereka.  

Dampak paling dirasakan adalah hilangnya hutan bakau, habitat alami ikan dan biota laut lainnya.  

Baca juga: JATAM Soroti Izin Tambang di Pulau Kecil Kepri: Ancaman Serius bagi Ekosistem dan Masyarakat Pesisir

"Bakau sudah habis. Kalau kami melaut, airnya sudah tidak jernih lagi, sudah keruh karena hujan turun, tanahnya turun ke laut," keluh seorang nelayan.  

Kerusakan ekosistem ini berdampak langsung pada hasil tangkapan. Air laut yang dulunya jernih kini keruh akibat sedimentasi dari proyek reklamasi dan pembangunan di sekitarnya.  

Suku Laut Pulau Air Mas kini berada di persimpangan antara mempertahankan tradisi leluhur dan menghadapi realitas pembangunan modern. Dengan mata pencaharian yang terancam, mereka harus beradaptasi tanpa kehilangan identitas budaya.  

Situasi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah dan pihak terkait agar pembangunan tidak mengorbankan komunitas adat yang telah menjadi bagian sejarah Kepulauan Riau.  

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :