Dari Tiongkok ke Tanjungpinang: Kisah Perahu Naga dan Maknanya

Dari Tiongkok ke Tanjungpinang: Kisah Perahu Naga dan Maknanya

Lomba Perahu Naga atau Festival Dragon Boat di Pelantar III Kota Tanjungpinang.

Nurjali

Tanjungpinang, Batamnews – Lomba Perahu Naga (Dragon Boat) telah resmi bergulir dalam rangka Sembahyang Keselamatan Laut di perairan Pelantar III, Sabtu, 7 Juni 2025 lalu. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Sangharama Bodhissattva Tanjungpinang ini merupakan bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa yang terus dilestarikan.  

Olahraga ini berasal dari Tiongkok dan memiliki sejarah yang panjang. Menurut Federasi Dragon Boat Internasional, perahu naga awalnya berasal dari zaman Dinasti Chu (700-200 SM) di daerah selatan Tiongkok, tepatnya di Provinsi Guangdong.  

Awalnya, perahu naga atau Long Zhou digunakan untuk tujuan seremonial dan ritual. Perahu ini memiliki bentuk unik dengan kepala naga bergaya Asia di haluan depan dan ekor naga di buritan belakang, serta sisik naga yang dicat di sepanjang sisi perahu. Beberapa jenis perahu juga dilengkapi gong kuningan di bagian tengah.  

Baca juga: Rekomendasi Game Mobile Paling Seru 2025: Dari Balatro hingga Angry Birds 

Panjang perahu naga bervariasi, mulai dari 8 meter hingga lebih dari 18 meter, dengan lebar dan kedalaman yang disesuaikan. Jumlah awak perahu biasanya lebih dari sepuluh orang, terutama dalam kompetisi. 

Perahu didayung dengan kekuatan otot para pendayung yang menghadap ke depan, menggunakan dayung kecil berbilah tunggal. Selain itu, terdapat drum bergaya Tiongkok di haluan untuk memandu irama pendayung.  

Lis Darmansyah mengapresiasi pelaksanaan lomba perahu naga sebagai bagian dari pelestarian tradisi dan budaya masyarakat. 

“Kegiatan ini menjadi wujud nyata pelestarian tradisi sekaligus ajang yang mempererat kebersamaan masyarakat,” ungkapnya.  

Menurutnya, lomba perahu naga bukan sekadar olahraga tradisional, tetapi juga mengandung nilai persatuan dan semangat gotong royong. 

“Lomba perahu naga memiliki makna lebih dalam sebagai simbol persatuan, kekuatan budaya bahari, dan semangat yang diwariskan turun-temurun,” ujarnya.  

Baca juga: Pulau Penyengat, Warisan Sejarah Melayu yang Diusulkan Dapat Dukungan Nasional

Lis berharap kegiatan ini terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat. “Semoga tradisi ini tidak hanya dipertahankan, tetapi juga menjadi identitas budaya yang memperkuat pariwisata dan ekonomi lokal,” harapnya.  

Selain nilai budaya dan spiritual, lomba ini juga menjadi daya tarik wisata. “Lomba dragon boat telah menjadi daya tarik untuk meramaikan kota, sekaligus memberikan dampak positif bagi pelaku usaha lokal,” jelas Lis.  

Pemerintah Kota Tanjungpinang berkomitmen mendukung dan mengembangkan kegiatan ini sebagai agenda tahunan yang lebih besar. 

“Kami ingin memperkuat identitas budaya dan potensi wisata daerah melalui event seperti ini,” pungkasnya.  

Antusiasme masyarakat dan wisatawan yang menyaksikan dari pelantar dan pompong turut memeriahkan suasana, menunjukkan bahwa tradisi ini tetap hidup dan dinikmati oleh berbagai kalangan. 

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :