Panik Harga Beras di Jepang: Inflasi Tertinggi Sejak 2023, Warga Keluhkan Hidup Makin Sulit 

Panik Harga Beras di Jepang: Inflasi Tertinggi Sejak 2023, Warga Keluhkan Hidup Makin Sulit 

Harga Beras di Jepang Naik 98%, Inflasi Capai Level Tertinggi dalam 2 Tahun.

Nurjali

Jakarta, Batamnews – Harga beras di Jepang hampir dua kali lipat dalam setahun terakhir, memicu kekhawatiran publik dan tekanan politik di tengah inflasi yang mencapai level tertinggi dalam dua tahun. 

Data terbaru menunjukkan betapa parahnya dampak ketidakpastian ekonomi global terhadap perekonomian Negeri Sakura.  

Pada April 2024, inflasi inti (tidak termasuk bahan makanan segar) melonjak menjadi 3,5%, menurut Kementerian Urusan Dalam Negeri Jepang. 

Baca juga: Hadiah Jet Mewah Qatar untuk Trump: Legal atau Skandal?  

Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Januari 2023 dan meningkat dari 3,2% pada Maret. Sementara itu, harga beras melesat 98,4% secara tahunan, bahkan lebih tinggi dari kenaikan bulan sebelumnya.  

Kenaikan harga beras—bahan pokok utama di Jepang—telah memicu keresahan di kalangan masyarakat. Pemerintah pun dipaksa mengambil langkah darurat, termasuk menurunkan stok beras cadangan untuk menstabilkan pasokan.  

Situasi ini semakin memanas setelah seorang menteri mengundurkan diri karena komentar kontroversialnya tentang kebijakan pangan. 

Dengan pemilihan umum yang akan digelar pada Juli mendatang, Perdana Menteri Shigeru Ishiba menghadapi tekanan besar untuk mengendalikan krisis ini.  

Di tengah gejolak perdagangan global—termasuk eskalasi perang dagang yang dipicu kebijakan Donald Trump—Bank Sentral Jepang (BoJ) mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga lagi. Namun, langkah ini berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi yang sudah tertekan inflasi.  

Analis memperingatkan bahwa kenaikan harga pangan dan energi bisa berlanjut, terutama jika ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan global tidak mereda. 

Baca juga: Tiongkok Bakal Larang Film AS Tayang di Negaranya, Balas Kenaikan Tarif Trump 104%

Pemerintah Jepang kini berupaya mencari solusi jangka panjang, termasuk diversifikasi impor beras dan insentif bagi petani lokal.  

Bagi warga biasa, lonjakan harga beras berarti pengeluaran bulanan yang membengkak. "Saya harus mengurangi belanja bahan lain hanya untuk membeli beras," keluh seorang ibu rumah tangga di Tokyo.  

Dengan inflasi yang belum menunjukkan tanda-tanda melambat, Jepang mungkin akan menghadapi ujian ekonomi dan politik yang lebih berat dalam beberapa bulan ke depan. 

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :