Mulai Juni 2025, Indonesia Kurangi Pasokan Gas ke Singapura 30 MMSCFD

Mulai Juni 2025, Indonesia Kurangi Pasokan Gas ke Singapura 30 MMSCFD

Ilustrasi

Nurjali

Batam, Batamnews – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengumumkan rencana pengurangan alokasi ekspor gas pipa ke Singapura mulai Juni 2025. 

Kebijakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gas bumi bagi industri dalam negeri yang terus meningkat.  

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menjelaskan bahwa pengurangan ekspor gas ke Singapura akan diimbangi dengan optimalisasi pasokan dari Lapangan Natuna. 

"Kita akan memaksimalkan ekspor gas pipa dari Natuna, sementara dari Sumatera akan dikurangi untuk dialihkan ke kebutuhan domestik. Pasokan ke Singapura akan diupayakan dari Natuna," ujarnya usai acara Launching OLNG FEED Masela di Jakarta, Rabu, 9 April 2025.

Baca juga: Berapa Nilai Tukar Rupiah ke Dolar Hari Ini Minggu, 6 April 2025? BCA Jual Rp16.950, BRI Rp16.940!

Siswanto menyebutkan, pengurangan ekspor gas ke Singapura akan mencapai 30 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Namun, pihaknya belum merinci besaran volume gas dari Natuna yang akan dialihkan ke Singapura. 

"Target sementara 30 MMSCFD, setara dengan 3 kargo, dengan implementasi mulai Juni 2025," jelasnya.  

Saat ini, pemerintah masih mengandalkan pasokan gas dari lapangan migas dalam negeri dan belum mempertimbangkan opsi impor. 

"Sampai saat ini kita belum impor. Jika dibutuhkan, akan dievaluasi. Untuk sekarang, pemenuhan LNG masih diprioritaskan dari produksi domestik," tambah Siswanto.  

Sebelumnya, Wakil Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Achmad Widjaja, mengakui adanya ketidakmerataan alokasi gas akibat Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). 

Meski suplai gas masih aman, pasokan di jaringan pipa South Sumatera-West Java (SSWJ) telah menurun dalam 3-5 tahun terakhir. Sektor industri keramik dan baja bahkan sudah mengalami kekurangan pasokan.  

Baca juga: Anti-Trump Ribuan Demonstran Serukan Penentangan di Seluruh AS 

Berdasarkan data Kementerian ESDM, pemanfaatan gas bumi untuk domestik pada 2024 tercatat 3.881 billion British thermal unit per day (bbtud), turun 4,76% dibanding 2023 (4.075 bbtud). Sementara ekspor gas naik 6,19% menjadi 1.905 bbtud.  

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menegaskan komitmen pemerintah untuk mengalihkan ekspor gas ke kebutuhan dalam negeri, terutama untuk mendukung industri di Batam. 

"Ini (ekspor ke Singapura) yang cenderung akan kita alihkan ke Batam," ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM 2024, 3 April 2025.

Rincian Serapan Gas Domestik 2024:
- Industri: 1.473 bbtud (40%)  
- Kelistrikan: 707 bbtud (19%)  
- LNG Domestik: 695 bbtud (19%)  
- Pupuk: 690 bbtud (19%)  
- LPG Domestik: 77 bbtud (2%)  
- Gas Perkotaan & Bahan Bakar Gas: 19,43 bbtud (1%)  

Kebijakan ini diambil seiring proyeksi peningkatan kebutuhan gas domestik dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah berupaya menjaga stabilitas pasokan sembari mendorong pertumbuhan industri lokal.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :