Refleksi Hari Perempuan Internasional
Menghormati dan Menghargai Perempuan
Fatmawati, S.Pd.I. (Foto: istimewa)
Oleh: Fatmawati, S.Pd.I
Setiap tahun pada tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Hari ini bukan sekadar sebuah perayaan, tetapi juga merupakan panggilan untuk kesadaran kolektif mengenai kesetaraan gender dan penghormatan terhadap perempuan.
Tujuannya tidak hanya untuk merayakan pencapaian perempuan di berbagai bidang, tetapi juga untuk mengingatkan kita akan perjuangan yang masih harus dilalui untuk mewujudkan kesetaraan sejati. Sejarah panjang perjuangan perempuan untuk memperoleh hak-hak mereka, mulai dari hak memilih dalam pemilu hingga hak atas pendidikan, menjadi cermin bagi betapa pentingnya hari ini untuk memperjuangkan hak perempuan di seluruh dunia.
Dalam beberapa dekade terakhir, perempuan telah memperoleh kemajuan signifikan di berbagai sektor, baik politik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Misalnya, menurut data dari World Economic Forum (WEF) Global Gender Gap Report 2020, ada perbaikan dalam partisipasi perempuan di dunia kerja. Namun, data tersebut juga menunjukkan bahwa masih ada kesenjangan yang besar dalam hal upah, peluang karir, dan representasi dalam posisi kepemimpinan. Di sektor politik, meskipun lebih banyak perempuan yang terpilih menjadi anggota parlemen, namun proporsinya masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Sebagai contoh, di Indonesia, meskipun telah ada kemajuan dengan meningkatnya jumlah perempuan yang menjadi anggota DPR, angka tersebut masih sangat kecil dibandingkan dengan laki-laki. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada Pemilu 2019, perempuan hanya mengisi sekitar 20,5% kursi di DPR. Padahal, representasi yang setara sangat penting untuk memastikan bahwa kebijakan yang dihasilkan benar-benar memperhatikan kebutuhan dan hak perempuan.
Salah satu aspek yang paling krusial dalam memperjuangkan kesetaraan gender adalah pendidikan. Pendidikan adalah kunci untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan membuka peluang yang lebih besar dalam berbagai sektor. Data dari UNESCO menunjukkan bahwa sekitar 130 juta anak perempuan di seluruh dunia tidak dapat mengakses pendidikan dasar. Ini adalah masalah yang harus kita tangani dengan serius, karena pendidikan adalah fondasi yang memungkinkan perempuan untuk berdaya, berkontribusi secara maksimal dalam pembangunan sosial-ekonomi, serta mengurangi ketidaksetaraan.
Dalam konteks ini, kita juga melihat bahwa perempuan yang berpendidikan cenderung memiliki keluarga yang lebih sejahtera. Studi yang dilakukan oleh The World Bank menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki akses terhadap pendidikan yang baik, terutama pendidikan tinggi, lebih cenderung untuk mengurangi angka kemiskinan di keluarga mereka. Mereka juga berperan aktif dalam memperbaiki kondisi kesehatan keluarga, meningkatkan pendidikan anak-anak, dan mengurangi tingkat kekerasan dalam rumah tangga. Ini menunjukkan bahwa investasi dalam pendidikan perempuan adalah investasi dalam kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah hak perempuan terhadap kesehatan reproduksi. Akses terhadap layanan kesehatan reproduksi yang baik adalah hak dasar setiap perempuan. Sayangnya, di banyak bagian dunia, terutama di negara-negara berkembang, perempuan masih menghadapi banyak kendala dalam mengakses layanan kesehatan yang mereka butuhkan. Menurut laporan dari World Health Organization (WHO), sekitar 810 perempuan meninggal setiap hari akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Banyak dari kematian ini dapat dicegah dengan adanya fasilitas kesehatan yang memadai dan perawatan medis yang berkualitas.
Selain itu, masalah kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan seksual, juga masih menjadi isu besar yang harus diatasi. Menurut laporan United Nations Women, sekitar 1 dari 3 perempuan di seluruh dunia mengalami kekerasan fisik atau seksual selama hidup mereka. Angka ini menunjukkan betapa pentingnya melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam memerangi kekerasan terhadap perempuan, serta pentingnya mendidik generasi muda mengenai nilai-nilai saling menghormati dan menghargai antara laki-laki dan perempuan.
Menghargai Perempuan dalam Berbagai Peran
Perempuan memainkan berbagai peran penting dalam masyarakat, baik sebagai ibu, istri, anak, maupun sebagai anggota aktif dalam dunia profesional dan politik. Namun, seringkali peran perempuan di luar rumah tangga kurang mendapatkan pengakuan yang sebanding. Dalam banyak kasus, pekerjaan rumah tangga dan peran sebagai pengasuh anak dianggap sebagai pekerjaan yang tidak terlihat, meskipun memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian keluarga dan negara. Menurut data dari International Labour Organization (ILO), pekerjaan rumah tangga yang dilakukan oleh perempuan di seluruh dunia menyumbang sekitar 13% dari PDB global, namun sering kali tidak dihargai dalam statistik ekonomi resmi.
Selain itu, perempuan yang bekerja di sektor formal atau non-formal seringkali menghadapi tantangan besar seperti kesenjangan upah dan kurangnya akses ke posisi-posisi kepemimpinan. Perempuan di dunia kerja sering menghadapi diskriminasi gender yang membatasi kemampuan mereka untuk mencapai posisi tertinggi di perusahaan atau organisasi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengubah persepsi sosial yang menganggap pekerjaan perempuan sebagai pekerjaan yang kurang bernilai.
Hari Perempuan Internasional bukan hanya sekadar hari untuk merayakan pencapaian perempuan, tetapi juga untuk mengingatkan kita akan perjuangan yang masih harus dilalui. Menghargai perempuan berarti memberi mereka ruang untuk tumbuh, untuk berbicara, dan untuk berkontribusi dalam masyarakat tanpa dibatasi oleh stereotip gender. Ini adalah tugas kita bersama, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mewujudkan dunia yang lebih setara.
Sebagai masyarakat yang ingin maju, kita perlu lebih banyak memberikan perhatian kepada hak-hak perempuan, baik dalam bidang pendidikan, pekerjaan, kesehatan, maupun dalam kehidupan sosial. Jika kita ingin mencapai kemajuan yang berkelanjutan, kita harus memastikan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam segala aspek kehidupan. Seperti yang dikatakan oleh Khadijah binti Khuwaylid, istri Nabi Muhammad SAW, "Perempuan yang kuat adalah mereka yang mampu membawa perubahan, dan perubahan itu dimulai dari diri mereka sendiri." Oleh karena itu, mari kita rayakan Hari Perempuan Internasional dengan komitmen untuk menghargai dan menghormati perempuan, bukan hanya pada satu hari, tetapi sepanjang tahun.
Penulis adalah Founder Bintan Islamic Parenting (BIP).

Komentar Via Facebook :