Catatan Sempena Peringatan Isra Miraj 27 Rajab 1446 Hijriah

Memetik Makna dari Peristitiwa Isra Mi`raj

Memetik Makna dari Peristitiwa Isra Mi`raj

Waka III DPRD Kepri H. Bahktiar. (Foto: istimewa)

Rhuuzi Wiranata

Oleh: H. Bahktiar, Lc, MA

Peristiwa Isra Mi'raj yang dialami oleh Baginda Nabi Muhammad SAW bukan sekadar sebuah kisah sejarah yang diingat oleh umat Islam setiap tahun. Lebih dari itu, Isra Mi'raj adalah sebuah pelajaran hidup yang sarat dengan nilai-nilai mendalam, yang relevansinya tidak hanya terasa pada masa Nabi, tetapi juga dalam kehidupan umat Muslim di era modern saat ini.

Secara umum, Isra Mi'raj terdiri dari dua bagian utama. Isra, yaitu perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa, dan Mi'raj, yaitu perjalanan Nabi Muhammad SAW ke langit yang lebih tinggi hingga bertemu dengan Allah SWT. Perjalanan ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi lebih merupakan perjalanan spiritual yang mengandung banyak pelajaran begitu banyak makna dan hikmah yang bisa kita petik.

Bagi umat Islam, Isra Mi'raj mengajarkan pentingnya memperkuat hubungan dengan Allah melalui ibadah. Dalam perjalanan spiritual ini, Nabi Muhammad SAW diberikan perintah untuk melaksanakan shalat lima waktu, yang kini menjadi tiang agama Islam. Tidak hanya sekadar perintah, tetapi shalat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Di era modern ini, umat Islam dihadapkan pada berbagai tantangan hidup yang begitu kompleks. Globalisasi, kemajuan teknologi, dan gaya hidup yang serba cepat sering kali membuat kita lupa akan pentingnya ibadah dan hubungan kita dengan Sang Pencipta. Banyak dari kita yang terjebak dalam rutinitas yang padat, hingga terkadang melupakan hakikat kehidupan yang seharusnya senantiasa terhubung dengan Allah.

Isra Mi'raj mengingatkan kita akan pentingnya spiritualitas dalam setiap aspek kehidupan. Perjalanan Nabi Muhammad SAW ke langit memberi kita pemahaman bahwa meskipun dunia ini penuh dengan kesibukan dan tantangan, kita tetap perlu menyisihkan waktu untuk berhubungan dengan Allah melalui ibadah yang konsisten. Shalat, yang diperintahkan dalam peristiwa Mi'raj, adalah cara kita untuk tetap ingat dan terhubung dengan Allah dalam segala keadaan.

Dalil Al-Qur'an: Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra' (17:1): "Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang kami berkati sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ayat ini secara jelas menggambarkan peristiwa Isra, yakni perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang kemudian dilanjutkan dengan Mi'raj ke langit. Ayat ini menjadi dasar kuat bagi umat Islam untuk mempercayai peristiwa Isra Mi'raj sebagai pengalaman yang nyata dan diperintahkan oleh Allah.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh dengan tekanan dan kecemasan, Isra Mi'raj mengajarkan kita untuk mencari kedamaian melalui ketenangan hati. Di dalam shalat, kita diberikan kesempatan untuk merefleksikan diri, merenung, dan memohon kepada Allah agar diberi petunjuk dalam menjalani kehidupan ini. Shalat bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga kesempatan untuk menghilangkan kegelisahan hati, memberikan waktu untuk diri sendiri, dan memperbaharui niat serta tujuan hidup.

Dalam Shahih At-Tirmidzi dan dihukumi shahih, dari Jabir bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: 'Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pokok perkara, tiangnya, dan puncak tertingginya?' Aku (Jabir) berkata: 'Tentu, wahai Rasulullah!' Beliau bersabda: 'Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad.'"

Hadis ini menegaskan betapa pentingnya shalat sebagai ibadah utama yang menjadi tiang penyangga kehidupan seorang Muslim. Dalam konteks Isra Mi'raj, shalat adalah perintah yang diberikan langsung oleh Allah melalui Nabi Muhammad SAW sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Isra Mi'raj juga mengajarkan kita tentang keteguhan iman. Pada masa Nabi Muhammad SAW, peristiwa ini terjadi di tengah-tengah ujian berat dan penolakan dari kaum kafir Mekkah. Meskipun demikian, Nabi Muhammad SAW tetap teguh dalam menyampaikan wahyu Allah. Bagi umat Islam di era modern, pelajaran ini sangat relevan. Kita hidup di dunia yang semakin kompleks, di mana berbagai ujian hidup seringkali datang dari berbagai arah—baik dalam bentuk tantangan sosial, ekonomi, maupun moral. Namun, seperti halnya Nabi Muhammad SAW, kita diajarkan untuk tetap teguh berpegang pada iman dan berusaha menghadapi segala ujian dengan kesabaran dan keyakinan yang kuat kepada Allah.

Dalil Al-Qur'an: Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ankabut (29:69): "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami pasti akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan memberikan petunjuk dan jalan keluar bagi hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya, yang juga sejalan dengan keteguhan iman Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Isra Mi'raj juga mengajarkan kita tentang pentingnya kualitas ibadah dan amal saleh dalam hidup ini. Bukan hanya jumlah ibadah yang penting, tetapi kualitasnya. Dalam perjalanan Mi'raj, Nabi Muhammad SAW mendapat perintah shalat lima waktu, yang bukan hanya dilaksanakan sebagai kewajiban, tetapi sebagai sarana untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Di zaman modern ini, kita dihadapkan pada kemudahan teknologi yang memungkinkan kita untuk mengakses berbagai informasi dan belajar dengan lebih cepat. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan kemajuan ini untuk memperbaiki kualitas ibadah dan amal saleh, serta membangun karakter yang lebih baik sebagai individu Muslim.

Hadis Riwayat Tirmidzi: Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan bentuk rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa kualitas ibadah dan amal saleh lebih utama daripada hanya sekedar tampilan fisik atau jumlah ibadah yang dilakukan. Dalam konteks Isra Mi'raj, shalat yang diperintahkan adalah sarana untuk memperbaiki hati dan niat kita dalam beribadah kepada Allah.

Terakhir, harus kita maknai bahwa Isra Mi'raj bukan hanya cerita perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, tetapi sebuah pengingat bagi kita untuk senantiasa menjaga hubungan yang kuat dengan Allah, terutama di tengah dunia yang serba cepat ini. Dalam kehidupan modern, kita sering terjebak dalam rutinitas yang menyita perhatian, namun melalui Isra Mi'raj, kita diingatkan untuk selalu memprioritaskan waktu untuk ibadah, untuk merenung, dan untuk memperbaiki diri. Seperti yang diajarkan oleh peristiwa ini, meskipun dunia ini penuh dengan tantangan dan kesibukan, kita harus tetap menjaga kualitas hubungan kita dengan Allah, karena hanya dengan demikian kita akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan sejati dalam hidup.

Penulis adalah Wakil Ketua III DPRD Kepulauan Riau, Komisi Fatwa MUI Kepri dan Ketua DPW PKS Kepulauan Riau

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :