Kepri dan Ikhtiar Mengembangkan Desa Wisata dan Wisata Halal
H. Bahktiar, Ketua DPW PKS Kepri. (Foto: istimewa)
Oleh: H. Bahktiar, Lc, MA
Secara pribadi saya bergembira karena relatif banyak dan seringnya pejabat bahkan menteri/wamen bidang pariwisata yang hadir di Kepri. Terbaru, kemarin adalah Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa meresmikan gedung Tourism Information Centre (TIC) di Pantai Dugong Kawasan Wisata Trikora, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada Selasa, 31 Desember 2024. Kehadiran menteri, wamen dan pejabat pemerintah pusat ini perlu ditindaklanjuti dengan ide, gagasan yang komprehensif tentang pengembangan sektor pariwisata Kepri. Saya menilai Kepri memiliki 2 keunggulan yang bisa dijadikan brand tersendiri yaitu desa wisata dan pengembangan sektor wisata halal.
Pertama, kita akan bahas terlebih dahulu tentang potensi desa wisata. Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pusat pengembangan desa wisata di Indonesia. Dengan 275 desa yang tersebar di kabupaten dan kota seperti Natuna, Anambas, Lingga, Karimun, dan Bintan. Kepri menyimpan berbagai kekayaan alam, budaya, dan tradisi yang belum sepenuhnya tergali. Jika dimaksimalkan, sektor ini dapat menjadi motor penggerak utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa di Kepri.
Kepri dikenal dengan keindahan alamnya, dari pantai-pantai yang memukau hingga pulau-pulau kecil yang eksotis. Kabupaten Natuna dan Anambas, misalnya, memiliki gugusan pulau dengan air laut jernih dan terumbu karang yang memikat wisatawan lokal maupun mancanegara. Lingga, di sisi lain, kaya dengan warisan budaya dan sejarah, termasuk jejak Kesultanan Lingga yang bisa menjadi daya tarik tersendiri. Sementara itu, Karimun dan Bintan sudah mulai dikenal dengan objek wisata unggulan, namun masih banyak potensi desa wisata yang bisa dikembangkan lebih jauh.
Ke depan kita memerlukan langkah-langkah strategis untuk pengembangannya. Pertama, Pemetaan Potensi Lokal. Setiap desa memiliki keunikan masing-masing. Langkah awal adalah melakukan pemetaan potensi yang mencakup kekayaan alam, budaya, kerajinan tangan, dan kuliner lokal. Kedua, Pemberdayaan Masyarakat. Pengembangan desa wisata harus melibatkan masyarakat setempat sebagai pelaku utama. Pelatihan dan pendampingan perlu diberikan agar mereka mampu mengelola pariwisata secara profesional, mulai dari pelayanan hingga promosi.
Ketiga, Infrastruktur Pendukung. Aksesibilitas adalah kunci. Pemerintah dan pihak terkait perlu memastikan infrastruktur seperti jalan, transportasi, dan fasilitas dasar di desa-desa wisata memadai untuk mendukung kenyamanan wisatawan.
Keempat, Promosi Digital. Pemanfaatan teknologi informasi untuk mempromosikan desa wisata sangat penting. Pembuatan konten kreatif seperti video, foto, dan artikel tentang keindahan desa wisata Kepri dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Kelima, Kemitraan dengan Swasta. Kolaborasi dengan pihak swasta, seperti agen perjalanan dan investor, dapat membantu mengembangkan fasilitas wisata sekaligus memasarkan desa wisata Kepri secara global.
Dampak Positif bagi Masyarakat
Pengembangan desa wisata dapat membawa banyak manfaat bagi masyarakat lokal, diantarnya Pertama, Peningkatan Ekonomi. Wisatawan yang datang akan membuka peluang usaha seperti homestay, restoran, dan jasa pemandu wisata. Kedua, Pelestarian Budaya. Adanya wisata berbasis budaya akan mendorong masyarakat untuk menjaga tradisi lokal agar tetap hidup. Ketiga, Pembangunan Infrastruktur dengan meningkatnya jumlah wisatawan, pemerintah dan swasta akan terdorong untuk membangun infrastruktur yang lebih baik.
Jika langkah-langkah strategis ini dijalankan dengan baik, desa wisata di Kepri tidak hanya akan menarik wisatawan domestik tetapi juga mancanegara. Branding Kepri sebagai destinasi wisata unggulan berbasis desa wisata dapat menjadi solusi konkret untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah ini.
Dengan memanfaatkan kekayaan alam dan budaya yang dimiliki, serta dukungan dari berbagai pihak, Kepri memiliki potensi besar untuk menjadi contoh sukses dalam pengembangan desa wisata di Indonesia. Kini saatnya semua elemen masyarakat, pemerintah, dan swasta bersinergi untuk mewujudkan Kepri yang lebih maju melalui sektor pariwisata.
Mengembangkan Potensi Wisata Halal
Kepulauan Riau (Kepri) merupakan destinasi pariwisata yang kaya akan potensi alam, budaya, dan geografis strategis yang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Dalam upaya meningkatkan ekonomi pariwisata, menangkap peluang brand wisata halal dapat menjadi langkah strategis yang relevan dengan kebutuhan global. Ada beberapa alasan terkait pentingnya gagasan ini. Pertama, Peningkatan Permintaan Global. Wisata halal telah menjadi salah satu tren utama dalam industri pariwisata global. Menurut laporan dari Global Muslim Travel Index (GMTI), jumlah wisatawan Muslim diproyeksikan mencapai 230 juta pada tahun 2028, dengan nilai pasar lebih dari USD 300 miliar.
Kedua, Keunggulan Kompetitif dengan mayoritas penduduk Muslim di Indonesia, wisata halal memberikan Kepri keunggulan kompetitif dalam menciptakan pengalaman wisata yang otentik dan inklusif. Pasar yang banyak ini menjadi target negara-negara lain yang harusnya kita terlebih dahulu yang penting menangkapnya.
Ketiga, Mendukung Pariwisata Berkelanjutan. Wisata halal berorientasi pada nilai-nilai keberlanjutan dan etika, seperti kebersihan, kejujuran, dan layanan ramah keluarga, yang sesuai dengan tujuan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.
Keempat, Meningkatkan Konektivitas dengan Pasar Internasional. Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei telah berhasil mengembangkan wisata halal sebagai daya tarik. Kepri, dengan kedekatannya, dapat menangkap peluang wisatawan Muslim dari wilayah ini.
Peluang Kepri dalam Wisata Halal sangat didukung dengan beberapa hal misalanya, Keindahan Alam dan Lokasi Strategis. Dengan ratusan pulau, pantai eksotis, dan lokasi yang strategis, Kepri berpotensi menjadi destinasi favorit wisata halal bagi wisatawan domestik dan internasional.
Selain itu Kepri juga memiliki Keberagaman Budaya. Budaya Melayu yang dominan di Kepri memiliki akar Islam yang kuat, memungkinkan wisata halal untuk berkembang dengan landasan budaya lokal yang autentik.
Di tambah lagi Infrastruktur Pariwisata. Kepri memiliki pelabuhan, bandara internasional, dan fasilitas pariwisata yang terus berkembang, memberikan fondasi yang baik untuk mendukung wisata halal. Namun, terkait hal ini memang kita memerlukan perbaikan yang sesuai dengan keinginan wisatawan yang menjadi target market dengan dukungan Pemerintah dan masyarakat serta pemerintah daerah terhadap pariwisata halal tentu akan mewujudkan visi Gubernur Wakil Gubernur terpilih Ansar-Nyanyang yakni mewujudkan Kehidupan masyarakat Kepulauan Riau yang lebih layak dan sejahtera yang kita kenal juga dengan taqline Kepri Maju, Makmur dan Merata. Semoga!
Penulis adalah Wakil Ketua III DPRD Provinsi Kepulauan Riau dan sekaligus Ketua DPW PKS.

Komentar Via Facebook :